Oleh: Kyan | 24/07/2006

Terkurung Dalam Kata, Perempuan Diatas Perempuan

Senin, 24 Juli 2006

Terkurung Dalam Kata, Perempuan Diatas Perempuan

**

Kenapa aku menjadi sedih begini? Kenapa aku memilih sedih dan sedih karenanya? Apakah karena tak pernah ada seseorang yang memberi perhatian padaku? Tak pernah seseorang yang selama ini diharapkan menerima cintaku, memberiku kepastian padaku? Apakah karena aku tidak mau tahu bahwa sudah jelas ia tak mencintaiku, masih terus berharap padanya? Kenapa hatiku tidak terbuka dan mulutku berkata: benar memang ia tak menginginkan aku.

Kuakui memang aku bukanlah tipe yang ia harapkan. Kenapa aku tak mau menerima kenyataan ini. Aku malah secara membabi buta agar ia mau mencintaiku, yang sudah jelas-jelas cintaku ditolak. Aku hanya membuang-buang waktu saja. Otakku diperas dan tenagaku dibuang demi memikirkan hal ini. Sebenarnya aku hanya ingin secara jelas bahwa ia mau menerimaku atau tidak. Salahku jua dulu aku tak meminta jawaban.

Akhirnya sekarang membuatku tersiksa sehingga tak bisa membuka hati untuk orang lain. Namun kadang aku melihatnya ia pun mencintaiku. Kenapa aku memiliki perasaan yang kepedean ini. Dia yang tetap konsisten untuk menatap masa depan dan tak ingin terganggu oleh soal cinta. Meski cinta bisa menginspirasi bahkan bisa jadi katalisator pencapaian mimpi-mimpi indah, ia tidak pernah bergeming pada tujuan semula. Tapi mungkin ia tak mendapatkan sesuatu dariku bila terjalin sebuah hubungan. Karena aku bodoh, bukan pujangga, bukan intelektualis, apalagi hartawan yang katanya segalanya dengan uang bisa diraih segalanya, termasuk cinta. Lantas apa yang diharapkan dariku. Aku tak pernah jadi apapun. Aku hanya menjadi sendiri saja. Haruskah kuakhiri pengharapan ini?

Aku tidak sabar dan selalu saja waktu yang berjalan begitu terasa dalam menantinya. Apakah lebih baik aku tak mengharap lagi dan tak ingin menerima siapapun. Lebih baik aku sendirian saja. Lebih baik tak punya cinta. Seharusnya demi cinta aku bisa berteriak lantang tapi ini semakin membisu saja. Membuat terkurung dan semakin terkurung dalam belenggu kesendirian.

Sangat melelahkan mengharap orang datang padaku. Aku yang harus datang pada mereka. Aku harus memberi cinta tanpa tak ingin dicintai. Aku hanya memberi perhatian supaya merea bahagia. Kadang lelah tapi tapi kunci agar tak jadi dongkol aku harus memaafkan mereka yang membuat aniaya padaku. Aku masih punya keluarga dan sahabat yang tulus, yang mau bersahabat denganku dengan penuh keterbukaan.

Aku tak harus tersinggung, marah, benci bila orang yang mencemoohkan. Biarlah aku dihina, aku terima hinaan karena tak pernah salah orang lain menilaiku. Musuh tak pernah salah mengatakan perihal buruk lawannya. Perkataan musuh adalah benar adanya. Harus kutata hati kembali, mencoba merasa apa yang sesungguhnya menjadi perasaan, dan menerima apapun adanya diriku. Mengharap diriku sempurna dan mengharap menjadi orang sebagaimana maunya orang lain, syukur dapat dipenuhi tapi bila tidak hanya sakit dan keperihan menerima ketertolakan.

*

Hari ini aku memutuskan jadi kosan di Kebon Tiwu, dekat kantor PT. PT. Askes Tasikmalaya. Selain bisa menemani Neng Titin yang sudah tiga hari kosan sendirian dan kebanyakan cowok katanya. Dia cuma  perempuan sendirian. Aku dan Dian meskipun cowok tapi teman akrabnya gak mungkin mencelakakan, bahkan harus menjaganya. Harus kutemani dia bersama-sama kosan disana.

Seorang lelaki harus menjaga dan melindungi kehormatan perempuan. Tapi Dian di Tasik cuma seminggu lagi, sedangkan aku sampai 25 Agustus. Aku ingin merasakan suasana perdamaian dalam keheningan kota Tasik. Kota bandung lebih kejam dibanding Tasik. Terasa lebih damai dan nyaman bisa tinggal di Tasik. Jadi aku ingin merasakan jauh dari keramaian.

Di Tasik ini  aku ingin mengoptimalkan diri. Aku harus mendapat sesuatu di Tasik. Menjalani magang di PT. Askes harus mendapatkan suplai ilmu dan pengalaman. Kondisi sosial masyarakat yang bergelut dengan alamnya harus dibuat sebuah kesimpulan-kesimpulan baru dan diangkat menjadi teori. Sehingga dihasilkan penyelesaian dalam mengatasi problem tersebut.

Sebenarnya ilmu adalah teorema-teorema yang diangkat dari kondisi manusia yang bergelut dengan dirinya dan lingkungannya, sehinga dihasilkan sebuah kesimpulan baru dan terus baru. Para pencari ilmu yang cuma duduk-duduk saja di bangku ruangan kelas tak akan mendapatkan apa-apa bila ia tak terjun ke ruang yang sesungguhnya. Ia harus terjun langsung ke masyarakat untuk mengetahui yang sesungguhnya terjadi. Tidak sekedar meraba-raba melalui teori-teori yang sudah usang ketinggaan zaman.

Aku pamitan dari rumah Veri seperti yang mau naik haji saja. Aku tak biasa pamitan dengan sopan santun seperti seharusnya bersalaman. Aku tak pernah diajarkan dan diberikan contoh. Namun aku berusaha berbuat yang kuanggap baik, meskipun kaku. Entah salah atau benar yang kuperbuat, tapi yang pasti aku tak ingin bikin orang lain repot dengan keberadaanku.

Tinggal di orang lain pasti merepotlan pihak rumah. Meski ekonomis, tapi tak punya kehormatan. Selalu mengharap dikasihani tidak akan pernah menjadi berharga, bahkan bisa dijadikan budak. Apakah aku bermental budak? Ingin dikasihani, diberi penghargaan, pujian dan sanjungan. Aku harus mampu berdiri tegar tanpa merengek-rengek minta kasih sayang pada seorang perempuan. Aku semakin tak percaya pada perempuan. Pada kehormatan dan kesuciannya. Termasuk keperawanannya.

Semoga aku tidak benci pada perempuan. Karena aku terlahir dari perempuan dan jatuh ke pelukan perempuan. Dalam tangisnya perempuan ditemukan kesenangan laki-laki. Perempuan menangis karena ingin menyenangkan laki-laki. Laki-laki hancur pun karena perempuan. Bila aku hancur karenamu, mungkin engkaulah perempuan keparat yang aku temui.[]

**

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori