Oleh: Kyan | 26/07/2006

Ipang, Temanku dan Ikem, Temannya Neng Titin

Rabu, 26 Juli 2006

Ipang, Temanku dan Ikem, Temannya Neng Titin

**

Semoga aku dapat mengerti dan lebih mengerti akan sosok perempuan. Liza curhat padaku tentang ketidakmengertiannya seorang laki-laki. Dia pernah didekati oleh seorang laki-laki sampai terjalin sebuah hubugan persahabatan. Pada mulanya lelaki itu mengharap cintanya, tapi karena tidak begitu direspon akhirnya lelaki itu bersikap dingin yang padahal dia mulai suka padanya.

Liza banyak bercerita tentang kisah hidupnya, sejak kecil sampai sekarang. Terutama cerita tentang kisah cintanya. Ternyata seorang perempuan akan lebih penasaran dengan seorang pria yang cuek. Begitupun mungkin sebaliknya, perempuan yang cuek, aku menjadi penasaran laki-laki. Apakah sama antara cuek dengan mati rasa atau tidak peka? Mungkin saja ia cuek dan bukan mati rasa, melainkan ingin lebih memilih segala sesuatu berjalan seperti adanya, seperti air mengalir ke tempat yang rendah untuk menuju muara.

Tapi air tidaklah sama dengan manusia yang memiliki free will untuk menentukan pilihan. Meskipun tetap saja alirannya menuju muara pada cinta-Nya. Manusia dan air tidak mempunyai pilihan dimana ingin berada, tahu-tahu ia sudah berada pada sebuah aliran sungai yang menderas dan berliku. Aku tahu-tahu terlahir di sebuah kampung di pegunungan Tasikmalaya dan keluarganya broken home. Mau tak mau aku harus menjalani lika-liku perjalanannya, baik yang datar maupun yang terjal.

Suka dan duka, tertawa ataupun menangis, semuanya harus dijalani. Namun manusia yang selalu ingin sempurna ia akan berusaha untuk merespon segala sesuatu dengan hati yang khusyuk dan berserah diri, madep pada tuhan. Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Tuhan Allah Swt. Tangan adalah tangan-Nya.

Begitupun kenapa aku bisa singgah di kota ini. Takdir berjalan yang kadang tanpa dapat dilawan aku harus menerima dan menjalaninya. Mungkin di tempat ini aku akan menemukan kisah yang semoga berakhir bahagia. Kusadari lika-liku perjalanan sering membuat penasaran akan kemanakah aku terus melangkah. Kuyakini semua adalah baik dan berhikmah. Maka tiada waktu untuk berkeluh kesah.

Remang-remang lampu jalanan, deru mobil dan motor berseliweran di tengah jalan. Aku dengan Neng Titin sedang menikmati malam menyusuri jalan trotoar. Aku menemani Neng Titin janjian dengan teman SMU-nya. Seolah-olah aku dan Dian jadi bodyguar-nya Neng. Dia mau bertemu sobat SMA-nya yang sudah sejak lama tak bertemu.

Sobatnya itu bernama Alia, tapi biasa dipanggil Ikem. Begitu kami bertemu ia berdua dengan laki-laki. Kuamati wajahnya yang memang lumayan cantik. Orang Tasik memang manis-manis dan putih-putih. Berbeda ketika melihat perempuan dari wilayah lain. Mungkin iklim dan cuaca menentukan keadaan fisik seseorang. Wajah berjerawat pun bisa bergantung makanan, pikiran dan air yang dipakai buat mandi. Maka sebelum mandi harus mendeklarasikan bahwa air bisa memberikan kesembuhan atas izin-Nya. Semuanya atas izin-Nya.

Orang melakukan praktik tradisi yang selama ini dipandang irasional dianggap musyrik. Berbeda ketika pergi ke dokter yang padahal sama saja obat dari dokter sering dianggapnya mujarab. Padahal baik pengobatan dengan obat medis ataupun dengan air adalah semata jalan/wasilah sedang yang menyembuhkan adalah Tuhan.

Berdasarkan temuan Masaro Emoto, pengobatan dengan air sekarang sudah rasional. Jadi bisa diterima dan tidak dianggap lagi takhayul oleh orang-orang puritan. Lantas apa lagi praktik-praktik yang masih mengakar dalam tradisi yang sering dianggap penyakit TBC. Seperti praktik kemenyan apakah dengan kemenyan bisa mengobati dan mengusir penyakit dan gangguan yang hinggap di tubuh kita?

Ikem, temannya Neng Titin sungguh sayang sudah punya pacar. Lantas jodohku dimana. Apakah dengan sekedar berikhtiar memperbanyak pergaulan dengan sendirinya jodoh akan datang? Apakah bila tanpa usaha itu bila memang sudah saatnya jodoh akan datang dengan sendirinya? Bukankah sebenarnya manusia tidak pernah tinggal diam? Ia akan selalu gelisah untuk bertemu lokus pasangannya. Sampai kapan aku tak berusaha dan tak kemana-mana hatiku melangkah.

Hari ini pula aku ketemuan dengan Ipang. Temenku masa kecilku dari kampung yang kini bekerja di sekitar Perum Tajur Mitra Batik. Menjadi terkenanglah masa lalu bercanda tawa ceria sewaktu di kampung bersamanya. Dia yang selalu mengajakku dan memberi jajan kalau kami ke pasar. Sering berdua kami pergi ke pasar Tawang sekedar jalan-jalan dan melihat gambar-gambar. Datang ke pasar cuma membeli gorengan harga seratus.

Dulu harga seratus bisa membeli apa ya selain gorengan. Pergi ke pasar mingguan hanya berbekal uang seratus, karena ongkos gratis nangkel di mobil kol buntung. Ingin melihat orang-orang berjualan yang sering disertai celotehan-celotehan yang mengundang tawa bagi yang mendengarnya. Sangat banyak kenangan masa kecil di kampung halaman bersamanya.

Di tempat Ipang, di Perum Tajur bertemu orang yang sedang bersiap-siap mau ke Malaysia jadi penyanyi bar. Ketika melihat perempuan yang dandanannya menor suka timbul prasangka jelek. Begitu sering aku melihat suami istri yang kontras dalam hal fisikli. Suaminya hitam tapi memang lumayan ganteng. Tapi istrinya itu yang aduhai berkulit putih dan cantiknya membuatku terpana. Mereka bisa menyatu dan harmonis hidup sebagai suami-istri.

Memang katanya yang dilihat perempuan bukan sekedar tampang. Tapi tanggung jawab terutama soal nafkah. Aku semakin tua dan belum mencapai prestasi yang patut dibanggakan. Lulus MKS saja aku akan telah berusaia duapuluhempat tahun. Kalau melanjutkan ke Sarjana akan berusia duapuluhlima tahun, ditambah kalau pergi ke Pare mau belajar bahasa Inggris usiaku menjadi duapuluhenam tahun. Setahun bekerja harus sudah mapan. Aku tak ingin menikah terlalu tua. Ingin aku menikah di usia duapuluhdelapan tahun.

Meskipun begitu, tapi aku bangga karena mempunyai pengalaman yang berbeda aku dengan mereka. Dimana dengan teman seangkatan SMU akan jarang mereka meraihnya. Menikah anara 25-30 tahun pun mungkin tak akan bisa tanpa kakak tertua dan kedua belum menikah. Apakah mereka jadi penghambatku menuju pernikahanku?

Ipang bercerita mengenai keadaan kampung halaman kami. Dede, adik sepengajian di kang Usup dulu, katanya menjadi juara nasional lomba kerajinan, sehingga ia bisa kuliah gratis ke Yogya. Anak kampung bisa meraih prestasi gemilang. Lalu anak kembar cucunya Mantri Djazuli juga meraih prestasi lomba fisika se-Asia. Temen sekampung banyak yang menuai prestasi. Aku tak bisa menjawab bila ditanya apa prestasiku selama ini.

Di Bandung juga banyak orang-orang yang sekampung. Aku jarang pulang kampung jadi tidak tahu perkembangannya. Hendra, yang kuliah di Akpari dan PKL di Singapura. Muncul perasaan minder karena aku yang sudah lebih dulu tinggal dikota tapi belum mencapai apa-apa. Aku berbahasa Inggris juga belum bisa. Semakin hari semakin kecil dan mengecil saja.

Kenapa aku selalu merasa banyak kelemahan, sedangkan orang begitu banyak kelebihan-kelebihannya. Lantas apa potensiku bila memang setiap orang memiliki potensi? Pandaikah aku menulis cerita dan puisi? Baguskah lukisanku yang kubuat? Semuanya tergantung sarana dan prasarana yang mendukungnya. Mereka bisa mencapai prestasi karena masuk ke lingkungan yang mendukung dalam mencapai prestasi. Bisakah aku seperti mereka yang berprestasi?[]

**

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori