Oleh: Kyan | 29/07/2006

Kejar-Mengejar Sampai Batas Pengharapan

Sabtu, 29 Juli 2006

Kejar-Mengejar Sampai Batas Pengharapan

**

Veri mengajurkan memakai baju takwa ke kantor PT. Askes. Bukan aku tak siap tapi aku tak ingin mengutamakan simbol. Kalau mau memberikan contoh ke PT. Askes, kita sebagai mahasiswa Islam adalah masalah kedisiplinan, menghargai waktu, dan hal-hal yang substansial. Bukan memperlihatkan cangkang tapi keropos, bahkan tak ada isinya.

Terlalu lama Indonesia selalu berkutat pada simbol-simbol yang tak tahu maknanya dari sebenarnya. Secara mayoritas bangsa Indonesia adalah muslim tapi substansinya mereka munafik dan kafir. Aku tak tahu apakah aku ini munafik, tapi dari kedalaman hatiku aku berserah diri pada Tuhan. Semoga aku termasuk golongan saleh, semoga Tuhan mengampuniku. Makanya aku selalu berbuat dan mengambil sikap yang kupikir benar dan solusi terbaik untuk perbaikan.

Neng cerita tentang perjalanan dirinya, terutama kisah cintanya yang mencintai seseorang yang menikah dengan orang lain dan dimiliki orang lain. Dia pun pernah berani mengungkapkan isi hatinya pada seseorang, yang akhir-akhir ini orang itu mau menghubunginya. Padahal dia yang pertama kali mengirim sms padanya, tapi tak pernah dibalas sebelumnya. Tapi sekarang malah orang itu yang duluan. Dia berpikir apakah akan jadi terbalik.

Dulu mengejar sekarang dikejar oleh orang yang sama. Aku pernah merasakannya sebagai hukum alam, bila menginginkan sesuatu yang diimpikan. Jangan pernah lelah untuk menggapai mimpi itu. Niscaya akan tergapai bila kita percaya pada keajaiban. Seberapa bersih keberserahan diri pada Tuhan tanpa tertempeli oleh ego-ego kediriannya. Dengan melepaskan egonya sendiri untuk bersatu dengan Maha Ego, saat itu pula ia telah ber-Islam secara sempurna.

Orang lain mempunya kenangan manis. Tak tahu apakah aku punya atau tidak punya atau tidak mau mengakui saja. Namun yang pasti sesuatu yang telah terjadi akan jadi pembelajaran bagiku. Memang ketika masa sekolah dulu aku tak punya cerita saat bersama dengan seseorang untuk dapat diceritakan saat sekarang. Aku tak pernah mendeklarasikan cinta monyet pada waktu itu karena ada beban moral untuk dapat mencintai. Belum pernah sama sekali terjalin sebuah hubungan kala itu, meski sebenarnya ada beberapa perempuan yang memikatku. Membina hubungan cinta moyet saja yang main-main belum pernah apalagi suatu hubungan ke arah yang serius.

Akhirnya aku sekarang dibuat kaku bila bertemen dengan perempuan. Aku begini adanya dan biarlah hari-hariku kujalani seperti adanya. Meski selalu terpaut pada mimpi-mimpi agar semakin hari diriku semakin baik. Aku hanya bisa berserah diri pada-Nya atas segala kekurangan dan kekhilafanku dalam menjalani hari-hariku. Sungguh merindukan sebuah kisah yang dapat menjadi legenda cerita.

Dalam kerinduan yang menggebu. Ingin kuceritakan pada malam betapa aku sangat merindukannya. Ingin merasa kehadiran dirinya saat mataku terpejam. Aku sungguh mencintainya, sungguh. Ingin kuluapkan segala beban hati ini yang terus menggerayangi dadaku dan aku dapat tidur di pangkuannya. Namun ketakberdayaanku yang memuntahkan segalanya. Tersisa hanyalah keinginan demi keinginan untuk dicintai oleh sosok yang telah menjelma ibu kehidupanku.

Tuhan, berilah aku keyakinan dalam mencinta. Engkau yang telah memberi rasa ini. Maka berilah aku rasa mengerti dalam setiap menyikapi persoalan yang terus melingkupiku. Teguhkanlah aku dalam memilih setiap pilihan yang membingungkan. Aku ingin berjalan saja dalam menaiki tangga pengharapan. Daripada aku berlari tapi harus terperosok ke dalam keputusasaan yang semakin dalam. Berikan aku pilihan yang meyakinkan, agar bisa kuukir nama indahnya dalam legenda ceritaku.

Jangan biarkan kepudarannya yang akan membayangkan di kala senja menggerogoti kebesaran cintaku padanya. Meskipun aku jauh, jangan sampai memudarkan cintaku yang hanya untuknya. Semoga dengan ketulusan hatiku, semua menjadi sempurna segalanya. Tuhan, mendengarkah Engkau disini? Melihatkah Engkau dengan hidupku semakin hari semakin terkulai dalam buai mimpi. Aku selalu meronta-ronta mengharap ramainya pengganti kesendirian. Aku selalu terkurung dalam sepi tak ada yang menemani.

Tidak sadarkah aku selama ini. Tak mungkin memiliki cinta yang menjelma. Sudah kukatakan pada semuanya. Aku tak memberi arti untuknya. Jangankah ia, semua orang seperti tak mengerti dan merasakan kehadiranku. Meski aku selalu berniat tulus untuk mencintai dan menyayangi. Namun ketulusan hatiku tak bisa terpahami. Tuhan, aku semakin lemah tak berdaya. Semua yang kukatakan dan lakukan hanya kesia-siaan belaka. Apakah lebih baik tak mengharap apa-apa darinya?

Semakin terperosok saja aku ke jurang kerapuhan. Kehancuran yang berkeping-keping tingal menunggu waktu. Dia telah menghancurkan hidupku dan semua pengharapanku. Aku tak pernah benar-benar menemukan kebahagiaan. Sudahlah sampai disini saja pengharapanku. Semoga aku bisa melupakan semuanya seolah-olah tak terjadi apa-apa. Aku tak ingin dan tak akan mengharapnya lagi. Kekesalan demi kekesalan silih berganti setiap waktu. Meski aku tak pernah merasakan waktu. Namun sakitnya sangat menusuk yang mungkin terobati dengan matinya aku. Lebih baik aku mati saja karenanya. Terkutuklah kau yang menyakitiku.

Aku pernah berjanji tak ingin membicarakannya lagi. Tapi kenapa cintaku padanya membelengguku dengan begitu kuat dan eratnya. Kenapa aku dibuat buta dan tuli karenanya. Terlaknat bagi siapa yang berani mencuri hatiku sampai-sampai aku harus mati karenanya. Memang perempuan adalah panah-panah syaitan. Lebih banyak memberi kesakitan daripada keriangan. Perempuan adalah jerat dunia. Keindahannya meluluhlantakkan bagi yang merenggutnya. Karena dia seorang, aku benci semua perempuan. Terkutuk kau perempuan.

Tuhan, Engkau maha tahu apa yang terbesit di hatiku. Semua yang terucapkan dan lakukan termuntahkan. Dengan segala kutukanku pada perempuan, ampuni hamba karena telah menyakitinya. Padahal aku begitu sayang padanya. Hanya aku kesal dibuatnya atas egonya yang begitu besar. Berilah ia setitik cinta-Mu kepadanya untukku. Untuk ia berikan kepadaku. Aku sangat mengharap pada-Mu untuk berseminya cintaku dan cintanya dalam naungan cinta-Mu. Aku berlindung pada-Mu dari semua kejahilan yang pernah kulakukan.

Aku harus mampu berdiri tegar tanpa merengek-rengek minta dikasih sayang dari seorang perempuan. Kenapa aku semakin tak percaya pada perempuan. Pada kehormatan dan kesuciannya. Termasuk keperwanannya. Semoga aku tidak benci pada perempuan. Karena aku terlahir dari perempuan dan jatuh ke pelukan perempuan. Aku hancur pun karena perempuan. Hanya perempuan keparat yang aku temui dan menyakitiku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori