Oleh: Kyan | 30/07/2006

Sungai Citanduy dan Pekerjaan Impian

Ahad, 30 Juli 2006

Sungai Citanduy dan Pekerjaan Impian

**

Neng Titin dan Liza dibuat kesal olehku. Karena janjian berangkat jam delapan ke rumah Veri, aku malah santai saja. Tidak tahu kenapa mandi pun aku malas. Biasa kalau hari libur inginnya diam saja tanpa melakukan suatu aktivitas. Hidup penuh dengan kemalasan. Watak orang Indonesia pada malas dan aku adalah salah satunya.

Dianugerahi kekayaan berlimpah bukannya dimanfatkan dan dioptimalkan buat kepentingan semua, malah diberikan pada pihak asing untuk dikelola dan orang-orang Indonesia yang jadi pekerja dan budaknya. Watak pekerja harus mau menuruti perintah atasannya. Menjadi budak di negeri sendiri. Bila mau jadi majikan di rumah sendiri, di negeri sendiri, harus mempunyai jiwa kepemimpinan. Harus punya keahlian memanfaatkan segala yang ada di lingungannya.

Bila bertamu ke orang lain, suka canggung dan bingung apa yang mesti dilakukan. Bagaimana adab bertamu menurut kebiaaan. Intinya tuan rumah harus dibuat senang dengan kedatanganku dan jangan terlalu merepotkan. Sudah kualami ketika di kosan kedatangan tamu sudah biasa merepotkan. Tuan rumah harus memberi jamuan, yang tak ada harus diada-adakan dan yang ada jangan ditiadakan.

Kalau bertamu ke rumah orang yang kurang begitu kenal atau ke orang tua teman-teman apalagi kalau sendirian inginnya segera pulang. Bila berpamitan pun apa kata-kata yang harus kuungkapkan. Bila bepergian ke ruang privasi orang, seperti kediamannya membikin aku salah tingkah dan mau gak mau harus ketemu orang-orang yang belum kita kenal. Bahkan tak mau bercengkrama dengan orang yang belum kukenal. Dibuat bingung rangkaian apa dan bahasan apa yang mesti jadi topik pembicaraan.

Aku tak biasa bercengkrama dengan orang-orang apalagi yang belum kukenal. Sejak kecil aku memang selalu mengurung diri dan jarang main dengan teman-temen. Hanya sesekali bermain mengejar burung, mencari kayu bakar, dan bermain sepakbola. Bergaul dengan orang-orang jarang kulakukan. Tidak dulu tidak sekarang. Sekarang pun bila tak perlu-perlu amat, sangat jarang aku membuka pembicaraan. Meskipun begitu aku selalu punya keberanian untuk memulai sesuatu. Semoga dengan keberanian aku bisa memulai.

Di tempat Veri, kami main ke sungai Citanduy dekat rumahnya. Suasananya indah merona. Sungai yang penuh bebatuan bagus utuk berfoto-foto ria. Seorang fotografer harus bisa melihat lingkungan yang pantas untuk dijadikan latar berfose. Kuingin aku jadi fotografer professional, dulu pernah menjadi cita-citaku. Aku memang sangat menyukai ruang lingkup seni. Andaikan aku tumbuh dan berkembang di lingkungan yang peduli seni niscaya akau bakal menjadi pelukis, penulis, fotografer, pemahat, dan tukang-tukang seni lainnya.

*

Menuju minggu kedua magang di PT. Askes, khususnya aku telah mendapatkan apa dari seminggu menjalani magang selain kenal dengan para karyawannya, bertambah satu teman yaitu Alia atau Ikem, temannya Neng Titin. Tapi itu bukan teman, tapi hanya kenalan karena baru sebatas kenalan yang dikenalkan. Sudah bersyukur bisa menikmati lagi warna-warni kota Tasik yang ketika SMP dan SMA saja aku sering main ke HZ sendirian. Mungkin karena aku tak proaktif, selama itu aku belum pernah kenalan atau bertemu kenalan.

Menuju hari akhir di bulan Juli, memasuki akhir bulan sudah biasa karyawan perusahaan disibukkan dengan laporan akhir bulan. Karena aku pernah merasakan jadi karyawan. Begitupun di awal bulan setelah memperoleh gaji juga disibukkan segalanya ingin membeli ini dan itu. Ketika pertengahan bulan ingin segera akhir bulan, supaya segera menerima gaji lagi. Begitulah dari hari ke harinya, dari bulan ke bulannya.

Dalam aktivitas kerja, ketika masuk kerja ingin segera istirahat. Setelah istirahat ingin segera pulang. Pikiran dan perasaan jadi karyawan sewaktu dulu kerasa juga sekarang. Dengan merasakan itu apakah tak mendapat kesenangan dalam bekerja. Makanya aku harus memilih pekerjaan yang sesuai pilihan hati. Sekarang aku masih bimbang dalam memilih pekerjaan. Impiannya aku ingin bekerja di Bank Indonesia, karena lulusan diploma sudah bisa kerja disana. Ketua jurusan pernah bilang agar bisa lolos di BI, harus banyak latihan psikotes. Tidak boleh teksbook thinking dalam mengisi jawaban. Dan harus cakap memberikan argumen. Semoga aku bisa mencapai mimpiku.

Pilihan kedua aku ingin ke Malaysia atau Singapura, supaya bisa bekerja di lembaga keuangan syariah sana. Singaphore ingin menjadi pusat Islamic Bond di khususnya di Asia Tenggara. Kefahaman dalam syariah harus diperdalam lagi. IP-ku harus tetap dipertahankan. Bisakah aku mendapat IPK 3,7 pada semester empat ini. Kecakapan bahasa Inggirs harus terus diperjuangkan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori