Oleh: Kyan | 30/07/2006

Tapal Batas Pengharapan

Tapal Batas Pengharapan

by:Pyan Sopyan Solehudin

**

Dalam gebu kerinduan kuceritakan pada malam. Betapa sangat aku merindukannya. Ingin merasa kehadirannya saat mata terpejam. Sungguh aku mencintainya tak terkirakan. Kuluapkan segala beban hati ini yang terus menggerayangi jantungku. Meski ketakberdayaan memuntahkan segala impian. Demi cinta sosok yang menjelma ibu kehidupan.

Tuhan, berilah aku keyakinan dalam mencinta. Engkau yang telah memberi rasa ini. Berilah aku pengertian dalam menyikapi persoalan yang terus melingkupi. Teguhkanlah dalam pilihan yang membingungkan.

Berjalan menaiki tangga pengharapan. Terperosok ke dalam jurang keputusasaan yang semakin dalam. Berikan aku pilihan meyakinkan. Untuk kuukir nama terindahnya. Jangan biarkan kepudarannya menggerogoti kebesaran cintaku padanya. Cintaku hanya untuknya. Semoga ketulusan menjadi sempurna segalanya.

**

Tuhan, mendengarkah Engkau, Melihatkah Engkau? Hidupku semakin hari semakin terkulai dalam buai mimpi. Aku meronta-ronta mengharap ramainya kesendirian. Aku terkurung dalam sepi di sudut kamar ini. Sadarkah aku selama ini. Mungkinkah meraih cinta yang menjelma.

Sudah kukatakan pada semuanya. Aku tak memberi arti untuknya. Jangankan dia, semua orang seperti tak mengerti dan merasa dengan kehadiranku. Meski aku selalu berniat tulus untuk mencintai dan menyayangi. Namun ketulusan hatiku masih tak bisa terpahami.

Tuhan, aku semakin lemah tak berdaya. Semua yang kukatakan dan lakukan hanya kesia-siaan belaka. Aku lebih baik tak mengharap apa-apa darinya. Semakin terperosok saja aku ke jurang kerapuhan. Kehancuran yang berkeping-keping tingal menunggu waktu. Dia telah menghancurkan hidupku atas semua pengharapanku. Sudahlah sampai disini saja pengharapanku.

Aku tak pernah benar-benar menemukan kebahagiaan. Semoga aku bisa melupakan semuanya seolah-olah tak terjadi apa-apa. Meski aku ingin mengharapnya lagi, tapi kekesalan demi kekesalan silih berganti. Dalam setiap waktu aku tak pernah merasakan waktu. Sakitnya sangat menusuk kalbu yang obatnya adalah kematianku. Lebih baik mati saja aku karenanya.

Aku pernah berjanji tak ingin membicarakannya lagi. Cintaku padanya membelengguku dengan begitu buta dan eratnya. Aku dibuat buta karenanya. Terlaknat bagi siapa yang berani mencuri hatiku sampai-sampai aku harus mati karenanya. Memang perempuan adalah panah-panah syaitan. Lebih banyak memberi kesakitan daripada keriangan. Perempuan adalah jerat dunia. Keindahannya meluluhlantakkan bagi yang merenggutnya. Karena dia seorang, aku benci semua perempuan. Terkutuk kau perempuan. Terkutuklah kau yang menyakitiku.

Aku harus mampu berdiri tegar tanpa merengek-rengek minta kasih sayang pada seorang perempuan. Bahkan aku semakin tak percaya pada perempuan. Pada kehormatan dan kesuciannya. Termasuk keperwanannya.

Tapi semoga aku tidak benci pada perempuan. Karena aku terlahir dari perempuan dan jatuh ke pelukan perempuan. Aku hancur pun karena perempuan. Hanya perempuan keparat yang aku temui.

Tuhan, Engkau Maha Tahu apa yang terbesit di hatiku. Semua yang terucapkan dan lakukan termuntahkan semuanya. Atas segala kutukanku pada perempuan. Ampuni hamba karena telah menyakitinya. Padahal aku begitu sayang padanya. Hanya aku kesal dibuatnya atas egonya yang begitu besar. Berilah ia setitik cinta-Mu untuknya, untuk ia berikan kepadaku. Aku sangat mengharap pada-Mu untuk berseminya cintaku dan cintanya dalam naungan cinta-Mu. Aku berlindung pada-Mu dari semua kejahilan yang pernah aku lakukan.[]

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori