Oleh: Kyan | 02/08/2006

Harapan Mengadakan Perbaikan

Rabu, 02 Agustus 2006

Harapan Mengadakan Perbaikan

**

Aku pun sadar bahwa usia semakin tua. Tapi tidak cukup hanya dengan kesadaran yang tak menyadarkan. Orang-orang seusiaku sudah bisa mendapatkan penghasilan lebih dari tiga juta. Sedangkan aku ingin melampaui mereka dengan mendapatkan penghasilan lebih besar apakah ini hanyalah mimpi khayalan yang tanpa dasar. Ingin aku bisa menabung untuk persiapan menikah dan melanjutkan kuliah. Sebagai lulusan D3 sebenarnya tanggung. Lebih baik segera dilanjutkan ke jenjang sarjana.

Sudah menjadi takdir aku kuliah diploma. Ketika harus melanjutkan ke jenjang sarjana jangankan di kampung orang lain dimana uang pendaftaran pasti besar, masih di UIN pun masih belum melihat kemungkinan. Menyesalkah aku kenapa dulu tidak langsung sarjana? Karena aku tidak tahu apa-apa, karena dulu yang kupikirkan yang penting bisa kuliah dan murah biaya hanya di UIN. Tidak jelas aku hendak kemana dulu ketika kembali dari Batam.

Sekarang aku selalu dihantui dengan usia yang semakin tua. Orang sebayaku dipastikan banyak yang sudah mapan dalam pekerjaan. Semoga aku bisa mapan dalam pekerjaan dua tahun mendatang. Hanya tangan-tangan gaib yang bisa menyampaikan aku pada dunia mimpi-mimpiku. Aku akan terus berjuang dalam setiap pencapaian hidupku. Andaikan aku telah mendapat gaji, aku akan menabung untuk persiapan menikah dan kuliah.

Ingin juga punya kendaraan sendiri untuk menunjang karirku. Ingin menyelesaikan rumah ibu yang di Batujajar. Ibuku ingin segera selesai rumah yang disana. Meski sudah selesai keinginanku, kakak pertamaku belum menikah. Sampai kapan dia terus melajang. Gaji dari perusahaan tempatku bekerja, mau tak mau harus dipakai untuk menyelesaikan rumah. Agar ada tempat buat berkumpulnya anggota keluarga.

Selama ini, aku, kakak-kakakku dan ibuku terlunta-lunta. Setiap lebaran tak pernah berkumpul dalam satu tempat. Sudah dua kali lebaran aku di kosan saja. Aku harus mengutamakan keluarga. Inginnya sambil persiapan materi untuk menikah. Akupun ingin punya rumah sendiri. Rumah ibu yang di Batujajar seolah-olah milik kakak pertamaku. Biarlah, agar ia mendapat kebahagiaannya.

Dengan rumahku sendiri aku ingin punya perpustakaan pribadi. Dari sekarang mengoleksi buku dan majalah. Penghasilanku harus cukup buat menabung, merampungkan rumah ibu, dan bisa membangun perpustakaan pribadi, serta modal untuk merintis usaha. Aku harus punya rumah sendiri. Tak ingin diam di Batujajar.

Agar bisa memenuhi semuanya, penghasilanku harus besar. Selain dari gaji sebagai karyawan, aku harus mendapat penghasilan dari bidang lain. Aku ingin mendapat royalti dari menulis. Aku harus jadi penulis produktif. Aku tak boleh lelah untuk menjadi penulis hebat yang membahagiakan secara spiritual dan material.

Ingin segera bertemu dengan pasangan dan semoga aku bisa menjadi suami yang baik. Suami yang bisa mengayomi dan menyenangkan istrinya. Seorang suami harus bisa memenuhi kemauan istri. Itupun yang bisa dijangkau dan istri juga harus mengerti keadaannya. Yakinkah aku bisa menjadi suami yang baik. Tapi memang tidak gampang karena harus dengan ilmunya, baik dari teori maupun dari pengalaman. Keduanya harus bisa dilakoni agar selalu menjadi semakin baik.

Kubawa buku novel Malaikat dan Iblis ke kantor PT.PT. Askes. Teh Ony, seorang karyawannya ingin pinjam. Kuberikan saja itung-itung buat mensosialisasikan budaya membaca. Daripada mereka sibuk bermain game melulu lebih baik membaca buku, koran atau majalah. Seharusnya di setiap instansi selalu tersedia perpustakaan. Bagaimana mau maju kredibilitas karyawan, bila  tak disediakan sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran. Karyawannya pun harus bisa mencari sendiri ilmu-ilmu yang mendukung bagi profesionalismenya.

Cuma ironis saja katanya bangsa yang ingin maju, tapi instansi yang termasuk milik pemerintah tak disediakan bagi pengembangan karyawan. Apa harus diusulkan supaya di kantor PT. Askes tersedia ruang perpustakaan. Nantinya selain buat karyawan, tapi bisa digunakan bagi orang-orang yang PKL. Usulan yang layak diajukan, meski kemungkinan akan mendapat jawaban tak ada space ruangan. Buat menyimpan berkas saja tak ada tempat. Bekerja di kantor tak akan lepas dari urusan kertas dan kertas. Ilmu tentang pengarsipan sangat perlu dan aku sudah pernah membaca bukunya.

Pulang dari kantor PT. Askes sudah kurencanakan mau potong rambut. Aku menuntaskan main ke alun-alun HZ. Biasanya di swalayan suka ada salon. Dari Joyja kubeli buah lengkeng pesanan Neng Titin. Para ibu yang sedang memilih-milih buah melirik padaku. Mungkin di benaknya bertanya kok ada pemuda membeli buah-buahan. Pikiranku tentang pikirannya kadang membuat aku kikuk.

Padahal mungkin saja mereka tak memikirkan apa-apa tentangku. Pikiran yang dibuat sendiri dan membebani. Sebenarnya cuek saja apa yang ingin dilakukan. Cuek dalam satu keadaan jadi lebih baik. Meski harus memiliki kepekaan juga terhadap keadaan. Sikap peka kadang diharuskan dalam keadaan lain. Semua memiliki tempatnya sendiri-sendiri.

Ibaratnya ada istilah sekuler dan ada istilah integral dalam memahami Islam. Keduanya bisa diterapkan pada bagian-bagian tertentu dalam memahami bangunan Islam. Ketika orang berbicara ada urusan Tasyri dan ada Muamalah, dengan sendirinya ia telah berpikir sekuler. Ia telah melakukan pemisahan atau pembedaan. Meski mendapat caci-maki dari lawannya, orang sekuler ketika bicara tentang demokrasi atau tentang apapun, pasti mempunyai landasan ingin mengadakan perbaikan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori