Oleh: Kyan | 04/08/2006

Jundullah Halilintar dan Kang Erdiansyah

Jum’at, 04 Agustus 2006

Jundullah Halilintar dan Kang Erdiansyah

**

Di tempat magang aku kenal dengan seorang karyawannya. Aku banyak menimba pengalaman darinya seorang yang sering dipanggilnya Kang Erdiansyah. Ia banyak bercerita tentang pengalamannya sewaktu ikut training ESQ Eksklusif dan pernah melamar kerja ke Daarut Tauhiid. Keinginan dia bisa mendapat kerja di Bandung. Soalnya katanya mudah dalam mengakses informasi. Memang hampir semua orang menginginkan hidup di Bandung, yang mungkin termasuk aku. Wajar Bandung adalah ibukota propinsi pasti penuh dengan berbagai kemungkinan.

Aku pun sudah hidup di Bandung ingin pula mencoba hidup di Jakarta. Keinginan manusia tiada habisnya. Aku ingin mencoba mencari kerja di ibukota Indonesia. Bisakah aku setelah lulus MKS aku langsung diterima di perusahaan bonafit. Para dosen mencekoki aku supaya berwirausaha. Mungkinkah aku langsung bergelut di bidang usaha yang ingin aku geluti. Tapi buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma mendapat penghasilan seadanya. Berwirauasha memang bisa menjanjikan penghsilan besar, tapi waktunya lama. Aku ingin mendapat penghasilan pertama cukup besar. Karena kebutuhan dan keinginanku sudah mendesak.

Aku harus menerapkan strategi dalam menempuh mimpi-mimpiku. Supaya cepat sampai dengan segera. Kecengenganku pada perempuan jangan menghalangi dalam mencapai segala mimpiku. Aku harus banyak belajar pada orang-orang. Dalam semua bidang terdapat sampel  orang yang telah berhasil. Pada bidangnya masing-masing akan ada orang yang telah menempuhnya dan berhasil.

Orang berhasil karena ia tahu potensi dirinya dan tahu jalan dalam menempuhnya. Terus terang aku masih meraba-raba apa potensi yang bisa kukembangkan dan unggulkan. Masih merasa bermental pekerja. Jadi penulis atau pelukis ingin aku tempuhi tapi tidak ada fokus dan lingkungan yang mendukungku. Aku yakin dan percaya pada masa depan yang akan kujalani. Aku akan semakin baik dan membahagiakan bagi semuanya.

Hari akhir minggu kerja terasa menyenangkan. Para karyawan sehabis salat Jumat kebanyakan pada tenis meja dan main game. Akupun terbuai dan ingin menonton TV saja. Di kosan tak ada TV, lagian aku kurang begitu suka tontonan yang membosankan, yang tak mengandung nilai-nilai pesan yang disampaikan. Tapi mungkin menurut kru pembuatnya hal itu bermanfaat. Setiap orang punya pendirian masing-masing.

Intinya aku ingin punya banyak uang. Bila mendirikan usaha sendiri sepertinya bakal lama untuk mendapat penghasilan besar. Bisakah aku mendapat penghasilan yang mencukupi buat segala kebutuhan. Segera mempunyai rumah dan kendaraan pribadi. Dengan usaha sendiri mesti membuka cabang usaha dimana-mana.

Jadi teringat Jundullah Halilintar, seorang Indonesia pengikut jemaah Darul Arqam Malaysia, sahabat lama SBY. Beliau seorang sarjana ekonomi yang bermula merintis usaha beras dan tinggal di kontrakan. Tapi sekarang tinggal di rumah Real Estate Jakarta. Beliau mempunya berbagai divisi usaha yang tersebar di seluruh Indonesia, sampai mancanegara. Terutama Jordan dan Amerika.

Salah satu bidang usahanya, bila kita main ke swalayan, kita sering menemukan stand khusus yang menjual kopiah, kaset VCD, dan aksesoris Islami. Terutama berlabel Qatrunada. Karena tim nasyid ini juga adalah salah satu divisi usaha beliau. Beliau selalu melakukan Tour, Travel, dan Konser ke berbagai kota dan mancanegara untuk memperkenalkan cinta Tuhan dan Kasih Sayang (Love and Care). Cinta Agung.

Di Malaysia pun eksistensi Darul Arqam sangat mapan secara ekonomi, sehingga pemerintah Malaysia ketakutan dengan keberadaannya. Sehingga ia melarang organisasi ini yang katanya dianggap mendirikan negara dalam negara. Aku semakin tak mengerti kenapa ada organiasi Islam atau yayasan Islam yang sudah mapan terutama secara ekonomi, sering mendapat cap ‘sesat’ atau ‘antek’ musuh Islam.

Katanya sebenarnya sedang memusuhi Islam dengan seolah-olah memperjuangkan silam. Organisasi semacam Darul Arqam, Ahmadiyah, Al-Zaitun, atau mungkin MQ bakal mendapat cap sesat. Aa Gym sering banyak menerima kritik, tapi beliau memandangnya justru senang bila ada yang mengkritiknya. Beliau yakin dengan langkahnya yang tak pernah henti. Dikatakan kesesatan Darul Arqam karena menganggap pimpinannya, Syaikh Muhammad At-Tamimi sebagai Imam Mahdi. Ahmadiyah karena meyakini Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi setelah Nabi Muhammad. Dan Al-Zaitun ingin mendirikan negara Islam Indonesia sebagai kelanjutan dari DI/TII.

Di bidang pemikiran pun bila ada yang berpikiran bebas, sedikit-sedikit dicap antek orientalis. Orang yang berpikir liberal dicap kafir dengan gampangnya. Semoga ini hanya sebagai dinamisasi pendewasaan masyarakat. Supaya masyarakat selalu berpikir melalui adu argumen dan tidak mengedepankan kekerasan otot. Mengadu otak diperlukan agar bisa ditemukan sisi solusi demi kemajuan bersama. Pertentangan jangan dipandang negatif, tapi anggaplah biasa-biasa saja sebagai bentuk kesalahfahaman yang bila dikomunikasikan akan selesai dengan sendirinya.

Jangan pernah takut menghadapinya. Bila yang diargumenkan menurut dirinya benar dengan berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran kenapa harus takut menghadapi cecaran dan hinaan yang tak mendasar. Bosan aku melihat berbagai-bagi perkelahian antar organisasi dan perkumpulan, di permukaan apalagi di bidang pemikiran. Lebih baik aku konsentrasi pada cinta sejatiku.

Aku ingin bahagia untuk memiliki cinta. Aku merasa utuh ketika mencintainya. Terima kasih duhai cantik, engkau telah mengerti aku. Entah engkau percaya atau tidak bahwa dalam setiap keramaian maupun di keheningan malam, aku selalu mengingatimu. Engkau yang selalu kurindu sepanjang waktu. Dengan jauhnya kita selalu kutitipkan rindu dan mesra pada langit jingga. Di kala senja pandanglah langit dan rasakanlah semilir untuk menerima rinduku yang sangat dalam. Aku selau merinduimu, percayalah![]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori