Oleh: Kyan | 06/08/2006

Suami Ideal, Jalan Kota, dan Rumah Pipih

Minggu, 06 Agustus 2006

Suami Ideal, Jalan Kota, dan Rumah Pipih

**

Layaknya seorang suami, aku mesti belanja untuk keperluan masak. Sudah seharusnya suami menolong istrinya dalam mengurusi rumah tangga. Mungkin di kala waktu luang siapapun bakal bisa menyempatkan diri untuk berbuat demi pasangannya. Tapi ketika segala aktivitas yang telah menyita waktunya tekadang kita bingung menentukan prioritas. Antara menyelesaikan pekerjaan sendiri atau membantu pasangannya. Tapi katanya sudah mempunya tanggungjawabnya sendiri-sendiri.

Diperlukan komunikasi yang penuh keterusterangan dan kejujuran. Mungkin itu yang bisa menjadi solusi agar tak ada sangka prasangka. Komitmen tak sekedar dipendam di hati, namun harus diungkapkan dan dikatakan agar menjadi jelas semuanya. Tak bermakna sebuah ketulusan bila hanya dinikmati sendiri dan tak pernah mengekspresikannya pada si penerima. Siapapun harus dibuat melihat dan mendengar apa yang menjadi perasaan sebenarnya.

Meski mendapatkan respon ketakpuasan tapi kepastian mengada dalam kejujuran. Laki-laki sering mendapat cacaian dan makian dari seorang perempuan yang ingin dicintainya. Dikatakan picik, bunglon, egois dan segudang kata konotasi negatif yang ia tujukan ke muka lelaki. Tapi lelaki tak pernah memaki-aki dengan kata-kata yang sangat menusuk itu. Memang kadang lelaki mengekspresikan kemarahnnya dengan ototnya, sedangkan perempuan bila tak mampu berkata-kata, ia yang begitu sensitif lebih menikmati rasa yang menghinggapi dirinya. Tak mengerti dengan sikap perempuan, karena memang dia harus dimengerti.

Bila aku bepergian aku berpikir mungkin orang di rumah akan merasa gembira dan bahagia bila dari bepergian itu kubawa oleh-oleh buat mereka. Meski itu sekedarnya tapi dapat menumbuhkan rasa perhatian dan kemesraan. Maka ketika ingin kembali dulu ke Bandung aku ingin membawa sesuatu untuknya. Ingin aku memberi dia hadiah entah hadiah apa sebagai tanda penumbuh kasih sayang diantara dua sahabat.

Rencananya ingin memberi dia pin kerudung yang ada batu permatanya. Dibungkus memakai kotak cincin dan dibalut kertas kado serta dihiasi pita yang merangkai. Rangkaiannya seperti bunga yang bermekaran merekah dan semakin merekah seperti cintaku padanya. Terbesit pikiran apakah ia mau menerimanya atau ia menerima dengan tangan dingin. Memang aku memberi untuk tidak mengharap apa-apa.

Aku hanya ingin memberi sesuatu untuknya. Kadang cinta tak sekedar rasional, tapi memang tak ingin dirasionalkan. Cinta bukan untuk dipikirkan, tapi untuk dirasakan sepenuh hati. Berbahagialah yang punya cinta dan merasakan cinta. Bagi yang mati rasa layak dibuang ke tong sampah. Karena secara terang-terangan ia adalah si munafik, padahal sebenarnya lebih gila dari kumpulan para penggila.

Setelah berjalan-jalan ke alun-alun Tasik, sorenya dengan Neng Titin aku pergi ke rumah Veri. Mau tidur malam minggu di rumah Veri. Kunikmati jalan-jalan di HZ sekedar ingin mengulang masa lalu menelusuri hiruk-pikuk orang-orang dalam kesibukan dengan urusannya masing-masing. Setiap waktu dari waktu ke waktu tak pernah berhenti. Tidak berubah dari zaman ke zaman, dari zaman kuno sampai sekarang dan masa yang akan datang pasar selalu riuh dengan hilir-mudiknya manusia. Tak ada perbedaan antara dulu dan sekarang suasana di pasar dimanapun.

Yang membedakan hanyalah sarana dan prasarana yang mendukungnnya. Pasar tradisional, modern, maupun posmodern intinya terjadi pertukaran barang atau jual beli sesuatu yang dibutuhkan. Pasar tradisional ditandai sebagaimana suasana pasar bagi kalangan miskin sampai menengah buat jual beli kebutuhan sehari-hari. Suasananya kumuh dan kotor. Pasar modern tandanya dibangun gedung-gedung mewah bertingkat-tingkat dan pasar postmodern di tandai adanya transaksi melalui internet dimana tidak mengharuskan bertemu muka secara fisik.

*

Main ke rumah Neng Titin, akulah yang pertama kali singgah di sana sampai tidur di kamarnya semalam. Dan sekarang aku mendapat kembali pengalaman baru di rumah Pipih. Mumpung hari libur kami berkunjung ke rumah Pipih di Cisayong Indihiang. Aku dan Veri adalah orang pertama di MKS yang menginjakkan kakinya di rumah Pipih. Karena aku adalah petualang, aku tidak diam atau hanya duduk-duduk saja seperti Reza bilang padaku.

Susana kampung Pipih begitu asri. Rumahnya dekat dengan hamparan sawah yang membentang di kanan kiri jalan. Tempatnya tidak kampungan juga tidak termarjinalkan. Tata letaknya rapi seperti perumahan dan rumahnya bersebelahan dengan masjid pula. Ayah Pipih memang seorang Ustadz. Bisa dipastikan yang kuliah di universitas Islam adalah anak seorang ustadz atau kyai. Yang kuliah pun kebanyakan anak orang berada atau tokoh penting.

Namun aku hanya seorang diri yang penuh mimpi ngeri dan berambisi ingin mendapatkan segalanya. Ia tak mau menyerah pada kedaan dan ingin selalu terbang menapaki cakrawala jiwa yang ketandusan. Ingin kuraih segala hasrat cinta yang semakin tumbuh di tepi perapian harapan. Ingin selalu menumbuh menembus cakrawala permainan kehidupan. Kuyakini semua termanifestasikan dalam eksistensiku.

Di rumah Pipih, aku, Veri, Deri, Dede, dan Neng Titin sibuk bakar-bakar ikan. Aneka makanan tersedia lengkap membautku bingung mana yang pertama kali kuambil. Keluarga Pipih mungkin ingin memberikan yang terbaik buat tamunya. Meskipun tamunya hanya orang-orang biasa. Tapi calon orang luar biasa. Andaikan nanti didatangi sahabat-sahabatku apakah aku bisa memberikan yang terbaik seperti ini. Asal jangan mengada-adakan yang tidak ada dan mengtidakadakan yang ada. Kampung halamanku malu didatangi teman-teman kuliahku. Karena keluargaku tak punya apa-apa. Rumah pun tak punya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori