Oleh: Kyan | 10/08/2006

Dalam Keterasingan, Pertama Aku Terpana

Kamis, 10 Agustus 2006

Dalam Keterasingan, Pertama Aku Terpana

**

Meskipun kuyakini diriku mempunyai sesuatu, aku tak pernah benar-benar mempunyai sesuatu. Setiap orang selalu membuat pikiranku menambah runyam, sehingga membuat kesimpulan memang aku tak punya apa-apa. Meski direndahkan oleh orang rendah sekalipun tetap menjadi bumerang. Ketika aku bermimpi ingin mengada, aku tak pernah memiliki bekal apa-apa. Karena aku tak memiliki siapa-siapa. Hidup dalam setiap perjalanannya selalu kuketahui dalam ketakberdayaan diri.

Mulai sekarang aku tak ingin lagi mengharapkan apa-apa atau siapa-siapa. Percuma ketika menginginkan sesuatu yang datang, ternyata aku tak bisa menjemput apa dan siapa. Lebih baik aku sendirian dan terkucilkan dari peradaban manusia. Sekedar mencari kehangatan dan kedamain dalam dekapan pemberi cahaya. Kusudahi aku mengharapkannya dan biarlah aku dalam kegelapan.

Tapi yang ia berikan hanyalah cahaya kegelapan yang membuatku semakin buta terhadap cahaya. Kenapa aku begitu terperosok terjatuh ke dalam lembah nista yang berlumpur. Sehingga membuat noda membekas dan teramat sulit dihilangkan. Diri yang penuh noda yang semakin menjalar ke syaraf-syaraf tubuhku begitu menyayat menguliti segala pengharapanku.

Duhai angin malam, sampaikan salam kerinduanku padanya. Berilah kabar dirinya tentang kerinduan yang semakin menumbuh menjalar ke setiap nadiku. Desahku memupuk jalinan rindu yang meluap meluber dari cawannya. Membasahi baju kedukaan yang melingkupi diri dari keterasingan demi keterasingan. Diriku menjadi terbelenggu oleh nestafa. Semakin dalam goresan-goresan yang memerihkan. Torehan luka yang kian menganga tak pernah tersembuhkan. Karena luka yang teramat dalam terus menjerat menumbuhkan luka lama.

Terkulai di hamparan ketakberdayaan melawan kemunafikan dan si sombong durja berkepala singa. Ingin kumuntahkan racun-racun manis yang penuh kepalsuan. Tak menginginkan lagi kemanisan yang kepura-puraan. Ingin kubuang jauh semua kisah legenda yang mematri dalam diri. Buat apa termabukkan dengan keindahan kilauan ukiran cawannya bila tak kureguk susu cokelatnya. Secangkir anggur yang penuh racun dihidangkan bagi para pembuk. Lebih baik aku kehausan di padang tandus daripada kuteguk madu bercampur racun.

Terdengar para kafilah yang memanggilku membawakan air kehidupan dari lembah kautsar. Seorang tua dari mereka menyuruhku minum dengan segera sebelum ajal keluar dari kerongkongan. Kehausan sejenak seakan menyebabkan kematian segera menghampiri. Karena berpengharapan kedatangan satu cinta sekedar ilusi yang nampak nyata. Telah tersesat dari mencinta kesejatian diri.

Inilah mauku dan inginku. Mauku ingin selalu dekat dan semakin mendekat dalam dekapan seseorang. Pada dasarnya ia selalu saja membuat terpana bagi setiap yang memandang dahannya. Aku ingin menatap rimbun cahaya sorot matanya yang berbinar dan merengkuh cahaya buahnya. Agar aku mendapat kesejukan jiwa ketika bersamanya meneguk sari perasannya.

Meski sebelumnya telah ada sorot cahaya yang menerawang, namun tak tahu pasti maukah ia menyinari dunia yang gemerlapan. Lebih baik cahayanya sedikit tapi bisa menjadi lentera bagi si pengelana. Namun tetap saja altar-altar cahaya telah memudarkan sinar cahaya yang ingin menjelma kini. Sebuah kegagalan cahaya menembus cahaya. Ingin selau dekat dengannya, sosok yang mewakili kemudaan cahaya menawan. Mampu membuat lunglai ketika memandang yang gemulai.

Ia yang mengaburkan pandangan mata yang meluluhlantakkan sumber cahaya menjadi puing-puing berserakan. Lebih baik mendekat pada rembulan yang bersinar dengan kepastian. Daripada menatap rembulan yang mematahari dan membakarku menjadi abu. Lebih baik melabuh pada bumi yang bisa menghiasi cakrawala jiwa di malam mencekam. Yang yakin pada anak sungai yang membuat keceriaan dan kemesraan menuju kebahagiaan yang dicipta. Karena pengabdiannya pada pesona kearifannya, dalam menghampiri keakuannya.

Kutatap kecantikan rembulan yang memesona bagi insan pendosa. Menumbuhkan gelora jiwa yang telah membumbung mendekati ruang cahaya. Ingin kukecup dengan mesra dalam gemuruh lautan jiwa yang ingin memendarkan pesona keindahannya. Cahaya yang mencahaya tak akan pernah mengalami kepudaran dalam mendamba sumber cahaya. Tak akan sedetik pun mengedipkan mata sehingga perjalan manzilah-manzilahnya terasakan dengan penuh rasa. Membuat cemburu sang penggila yang menginginkan kuasa raut gemerlapan aneka cipta merahnya.

Tak akan diam si pencari kenikmatan mereguk anggur cinta dalam cawan kilauan permata. Terhamparkan di meja yang bertahtakan kuncup-kuncup bunga tulip yang menyerbak di setiap sudut sisirnya. Semakin indah jamuan bagi si pencinta ketika duduk dalam dekapan cahaya yang memudarkan. Setiap keindahan ingin menjelma dan mengada bersama manzilah-manzilah cahaya. Hanya dia yang maha indah yang kudamba.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori