Oleh: Kyan | 12/08/2006

Yenyen Yena, Begitulah Namanya

Jum’at-Sabtu, 11-12 Agustus 2006

Yenyen Yena, Begitulah Namanya

**

Samita Niskala Yenyen Yena

Samita Niskala Yenyen Yena

Tiada daya dan kekuatan melainkan dari nur Illahi. Semenjak kembali dari Bandung jadi susah aku bangun sebelum subuh lagi. Baru malam tadi aku diberi kekuatan bisa salat Tahajud. Kalau di Bandung begitu susahnya bangun sebelum subuh. Terlalu sibuk aktivitas dan tidak tidur siang membuat susah bangun. Meski aku ingin ini dan itu, hanya bisa berusaha dengan niat kuat ingin meraihnya.

Tiba-tiba terjadi adu pandang, begitu lama. Aku dibuatnya terpana dan makin terpesona ketika menatap wajah manisnya. Ketika di awal aku menjalani magang, begitu malasnya dan rasa kantuk yang terus menggerogoti semangatku. Namun ketika aku menemukan cahaya rembulan yang menenggelamkan, kini kilauan bintang memendarkan semangatku menjadi bangkit. Jiwaku bergelora terpantik lirik matanya. Ingin kupejamkan mata menghindari kejutnya, namun jiwa terus menengadah mengharap langit tua menyampaikan gemerisik rasa yang terus meluap-luap. Memuntahkan emosi yang mengada.

Ingin selalu memandang wajah yang ceria itu. Tak pernah bosan aku mengecup suara kesyahduannya. Terpana oleh cerita yang menelisik asa. Selalu saja aku dibuat tak mengerti oleh kericuhan yang menggoda setiap penggawa pendamba cinta. Haruskah kutaui segala mimpi yang tak pernah dimengerti. Namun seiring waktu tarian bintang yang terus mengukir dan mematri dalam diri, akan mengantarkanku pada muara hakikat cinta. Cinta yang telah menjadi sumber cahaya bagi setiap pengelana. Duh Cinta Maha Cinta.

Namun hari-hari yang menyenangkan dan membahagiakan akan segera berakhir. Sejuta cinta dan pengalaman telah membuat keceriaan dan keharmonisan liku-liku perjalanan si pengelana cinta ini. Tangisan kebahagiaan memberi makna dan meluapkan emosi jiwa. Air mata yang berderai-derai dulu, kini mulai mengering. Seakan tergantikan dengan kedipan mata yang berbinar. Terpana pada kisah yang mulai terukir dan terpilin dalam ruang semesta jiwa. Alunan musik kehidupan mengiringi nada-nada luapan hasrat yang terdengar sampai belantara rimba anak manusia. Semoga cawan anggur yang memberi kehangatan dan kenikmatan merasuki diri agar semakin dalam, dan terasa merasuki gebyar semesta.

Entah apa yang ingin kucipta dari hubungan ini. Seminggu sudah perkenalanku sama anak SMKN 1 Tasikmalaya ini. Orangnya cantik dan itu membuatku terpikat dan meliriknya. Namanya siapa lagi kalau bukan “Yenyen Yena” Sasmita Niskala. Nama indah secantik dirinya. Ia pantas menyandang nama itu. Ia yang membuatku terpana dan terlena dibuai dengan dagu lancipnya. Dan yang membautku gemas memandangnya adalah hidungnya yang mancung itu, bak gadis India. Mungkin ia adalah reinkarnasi dari Dewi Sakuntala.

Sekejap aku pernah menyentuh lembut hidungnya, karena penasaran saja. Kubilang tuh ada bintik hitam, coba kita buang. Ternyata hanya ‘karang’ tahi lalat yang menambah dan memperindah aroma wajah keceriannya. Tak tahu kenapa kecendrunganku menyukai perempuan yang berhidung mancung. Mungkin persepsi sejak kecil bahwa kriteria perempuan cantik itu ala aktris film India. Secara tidak sedar sejak kecil aku meniru-niru pamanku yang terhanyut dalam tarian dan nyanyian sang jelita India. Tapi dia paras manisnya melampaui cantiknya Freity Zinta.

Ketika dia hendak pulang, segera kutemui dia di lorong parkiran kantor. Sebentar kurengkuh dia sebagai kemesraan. Entah adakah yang melihat keberanianku. Aku telah dibuat semakin dekat dan erat dengannya. Saat di penghujung magangku malah menyisakan cerita yang belum dapat kuselesaikan sebuah kisah dengannya. Karena dia sebagai satu kriteria yang kuingini dari sosok perempuan yang mampu menyejukkan hasratku. Aku melihat kecantikan sosoknya seperti aku melihat cantiknya Sri Devi. Bagaimana aku tidak terpana menatap kelembutannya.

Namun ada yang bilang bahwa ia sudah tunangan dengan bukti cincin yang melingkar di jemari putihnya. Tersentaklah aku mendengarnya, memupuskan harapan yang baru saja kosong lalu diisi, lalu harus dikosongkan lagi. Letupan hasratku menggelegar ketika sang Dewi Sakuntala-ku telah dipinang oleh kumbang lain. Namun aku belum percaya jika belum melihatnya sendiri.

Semakin lunglailah aku ketika kutanyakan langsung padanya. Ia sendiri bilang bahwa dirinya memang sudah tunangan. Apakah aku harus mengalah dan menyerah hanya karena ia sudah ada yang memilikinya? Mungkin sesama lelaki harus jentel, tapi juga harus saling menghargai. Bagaimana dan apa yang akan dilakukan seandainya aku dalam posisinya. Dan bagaimana pula jika lelaki itu dalam posisiku. Semuanya kukembalikan pada manzilah kehidupan. Tapi aku tetap bertanya bagaimanakah garis takdirku selanjutnya.

Sabtu Pagi kami yang magang di PT. Askes, dan karyawan PT. Askes mau bertandang main ke rumah Neng Titin di Manonjaya. Dengan dua mobil kantor penuh semuanya. Termasuk tiga anak SMK ikut juga, kecuali satu yang berbinar mata tak dapat ikut serta. Katanya mau pulang ke rumah kakaknya di Banjar. Sayang sekali dia tak ikut bersama-sama, lantas kapan aku dengannya bisa bersama-sama selain hanya di tempat magang kerja.

Dengan perjalanan ini begitu terasa suasana keakraban dan semakin akrab. Sayang seribu sayang hari magangku cuma sampai tanggal 25 Agustus sampai dengan penyusunan laporan. Aku merasakan begitu seringnya terjalin dan terbina alunan kemesraan ketika saat-saat terakhir. Aku telah merasa keceriaan mulai terpatri dengan sosok perempuan yang kurasa mampu memberi gelora kehangatan dan keterusterangan. Tak pernah memandang hirarki saat kutenggelam dalam samudera cinta. Cerita indah yang mengayunkan irama kesyahduan ingin mencipta dan tercipta abadi.

Masa menjalani magang harus sudah berakhir. Sebuah keharusan kami harus membuat laporannya. Tapi susah sekali membuat sistematika penyusunannya. Padahal jumlah kelompok ada enam orang. Setiap orang punya pikirannya sendiri-sendiri dan sangat sulit untuk dilebur menjadi satu sistematika. Tapi bila ada kesamaan tujuan, niscaya akan ada titik temu diantara dua garis yang bersinggungan atau bersilang. Kebenaran adalah tunggal dan universal. Itulah anggukan universal, itulah Islam.

Tapi kenapa terjadi perbedaan persepsi dalam soal etika. Apakah etika itu sama dan memiliki landasan filosofis yang sama dimanapun. Seperti soal pakaian sebagai perangkat etika. Tentang batasan sopan dan yang tidak sopan antara Timur dan Barat ada perbedaan katanya. Di Indonesia, khususnya memakai baju You Can See sangat meresahkan masyarakat karena itu dipandang pakaian seronok. Tapi di Barat bisa dianggap biasa saja sebagai kebebasan ekspresi.

Tapi di negeri kita sendiri pun seolah-olah terjadi pergeseran batasan. Khususnya soal sopan atau tidaknya cara berpakaian. Dulu, rok selutut dibilang seronok, apalagi rok di atas lutut. Sedangkan sekarang rok dibawah lutut adalah keharusan dan di atas lutut pun laki-laki tidak begitu membangunkan hasratnya. Katanya sudah biasa melihat seperti itu. Maunya ingin yang telanjang sekalian.

Memang perempuan terlalu tertutup, tertutuplah pula kecantikannya. Meski itu dapat menjaga dan memberi perlindungan, tapi tetap membuat penasaran bagaimana paras kecantikannya. Sebaliknya bila terlalu terbuka, akan memiliki batasan rasa penasarannya dan akhirnya bosan. Tapi dia yang berbinar mata, entah bagaimanakah ketika dia berkerudung. Karena tiga orang temannya dari satu sekolah pada berkerudung, sementara dia tak berkerudung. Akankah aku terpana dibuatnya ketika dia berkerudung, hanya karena rona cantiknya tertutupi balutan kerudung?[]

*


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori