Oleh: Kyan | 14/08/2006

Mengikat Cinta Sasmita Niskala

Senin, 14 Agustus 2006

Mengikat Cinta Sasmita Niskala

**

Tibalah saatnya waktu istirahat. Aku bergegas meninggalkan pekerjaan mengentri data yang penuh bosan itu. Kusapukan pandang adakah dia disana dari kerumunan yang sedang duduk di bangku. Mengedarkan pandang dimanakah dia, di ruang mana ia mengerjakan tugas magangnya. Tak kutemukan dia berada, sambil melenguh akupun bergegas menuju kamar toliet untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan salat Duhur.

Di hamparan sajadah kupanjatkan doa mengharap ketenangan dengan menemukan sebuah cinta yang terbangun mesra. Aku memohon pada Tuhan mengampuni segala dosa yang dapat menghalangi aku dalam meraih cinta sejatiku. Berikan kami petunjuk jalan dan ridha-Mu.

Terima kasih Tuhan. Engkau telah memberikan kebahagiaan yang bersemayam di hati kami. Engkau telah melimpahkan pancaran aroma keceriaan dalam menjalani hari-hari kami. Sungguh terasa keterpautan dalam naungan pesona jiwa Sasmita Niskala. Semoga kami tersatukan dalam cahaya cinta yang mematri dan mengisi lubang di hati. Menjadi kisah balada orang-orang tercinta.

Tuhan, bersamanya ingin kubangun sebuah kisah yang meniti menuju telaga impian. Bersamanya memendarkan kisah lalu yang tak menentu dan memberi kepastian. Lebih baik kuakhiri saja penantian bodoh yang meresahkan dan menyakitkan itu. Karena ia tak bergeming menatap jiwa yang melongo dan mengemis cintanya. Hanya membuat bosan pendengar dan lelah bagi si pendongeng dalam mereka-reka ceritanya.

Lebih baik kusimpan dan kubuang saja segala pengharapan itu. Bila hanya membuat jiwa semakin terpenjara dan meronta. Meskipun masih belum terhapuskan rona wajahnya menggores di hatiku. Bagaimanakah kubuang segala cerita yang pernah terukir dalam cakrawala jiwa. Selain kubangun kisah baru dalam kecup merdu Sasmita Niskalaku. Datanglah para pujangga dan dengarlah kisah kami berdua. Tulislah pada setiap daun yang jatuh berguguran, kabarkan pada setiap hembusan angin untuk sampai pada kafilah para pencinta.

Datanglah hai kekasihku. Yakinlah engkau bukanlah tempat pelarianku. Tapi dia adalah penjara yang mengkerangkeng untuk dapat menujumu. Sejak semula aku tercipta untukmu, hanya sering perjalanan memutar untuk memberi harmoni dan kedewasaan siap menerima tiba saatnya sampai padamu.

Dekaplah daku dan hapuslah air mataku. Mari kita himpun serpihan tangisan untuk menjadi bunga cakrawala. Percayalah jalinan kita akan memberi warna bahagia dalam hidup kita selanjutnya. Kisah kita akan semakin mengada, mengharu biru dalam rekah senyum kegembiraan. Kisah kita akan melegenda menyerbakkan pada berjuta-juta impian.

Kuselesaikan doa dan berdiri melengang keluar dari Mushala. Sekitar Mushala masih lengang, mungkin mereka pergi makan siang dulu. Dengan tenang kukenakan sepatu sambil pandangan tetap tertuju pada lorong parkir mobil yang biasa mereka pada muncul menuju Mushala.

Rupanya nasib bersambut. Muncullah empat gadis berseragam jas almamater berwarna hijau muda sedang mendekat menuju Mushala. Pandanganku tertuju pada satu diantara mereka. Sunggingan senyumku terbalaskan dengan rekah senyumnya menjadi pelengkap rona wajahnya yang kuyu. Rambutnya yang tempo hari dibiarkan tergerai di bawah punggung, kini diikat satu ke belakang. Mungkin biar tidak terlalu mengganggu saat menangani pekerjaan magang.

Dekat mushala ada dua bangku berjejeran. Ketiga temannya duduk mengambil satu bangku yang memang cukup muat bertiga. Entah karena terpaksa atau sengaja ketiga temannya seperti memberi isyarat untuk dia menghampiriku. Nampak sedikit ragu, ia pun duduk di sebelahku. Tiba-tiba saja lidahku kelu untuk mengutarakan satu pembicaraan.

“Gimana magangnya lancar? Oia nanti jam empat sore katanya mau ada konser Nidji di Dadaha. Bisa gak ya datang sepulang dari sini. Soalnya saya lagi terkesan dengan lagunya ‘Hapus Aku..Yakinlah aku Tuhan, dia bukan milikmu…’. Jangan salah sangka dulu, aku tak mengajak kamu nonton,” sambil kuamati bagaimana responnya. “Oia, sempat gituh nanti selepas dari sini langsung kesana? Kucoba nanti kalau tidak dikasih banyak kerjaan”, jawabnya ragu-ragu.

“Kuingin pergi menonton dengannya. Tapi biasanya kami pulang jam lima dan akan terlalu sore datang ke Dadaha. Mungkin dia pun sudah kecapean dengan pekerjaan magangnya. Tapi bila datang sendirian akan merasa sepi dalam keramaian. Lebih baik niatnya kuurungkan. Padahal kuingin melihat ekspresi Giring Nidji menyanyikan lagu yang sedang hits itu. Mungkin dengan mendengar lagu itu dapat meyakinkan aku bahwa dia yang disana bukanlah untukku. Dapat menyadarkan hatiku bahwa dia sebenarnya bukan untukku, sebagaimana dia pernah meminta didengarkan lagunya Rossa, “Aku Bukan Untukmu”.

*

Sudah jam empat lebih. Neng Titin sudah duluan pulang ke kosan. Kutunggu-tunggu dia masih belum muncul. Muncul tiga temannya mau pulang. Kutanya mereka dimana dia. Sudah waktunya pulang jam empat kemana dia. “Dia masih di ruangan kerja Teh Euis. Masih membantu pekerjaannya Teh Euis”, jawab mereka sambil berjalan menuju angkot 05 yang menunggunya. Ini sudah jam setengah lima belum dibolehkan pulang.

Kudatangi ruang kerja Sekretaris PT. Askes. Memang kulihat dia sedang sibuk mengarsipkan data-data ke Foldernya. Ia memperlihatkan wajah ke arahku dengan sedikit senyum yang dipaksakan sambil tangannya sibuk mengepak-ngepak tumpukan kertas. Nampak wajahnya memarah seperti menahan kesal. Tidak lagi kulihat binar kegembiraan di matanya. Mungkin kesal yang lain sudah dibolehkan pulang, sementara dia belum dibolehkan.

“Aku tidak tahu apakah ini kepura-puraan untuk tidak jadi diajak main ke Dadaha,” gerutuku dalam hati. “Akh, perempuan selalu penuh dengan kepura-puraan. Hal itulah yang menyebalkan kaum Adam tak pernah mendapat kepastian. Tapi sesama orang kesal jangan saling mengesalkan. Dia memang sedang kesal terlihat dari pesona manisnya yang antara mencair dan menguap.

Memang harus kembali ke dalam diriku sendiri. Harus saling menghargai dan merasakan perasaan masing-masing. Perempuan yang selalu ingin dimanja, tak benar-benar ingin dimengerti. Karena kaum lelaki selalu berusaha ingin memahami, tapi sering disalahartikan sampai memuakkan telinga. Jalinan prasangka yang salah kaprah.

Teh Euis yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaanya yang entah melihat keberadaanku atau tidak. Mungkin sedang banyak pekerjaan dan dia pun ingin pulang segera. Tapi bila pekerjaan hari ini tak diselesaikan dan ditinggalkan besok, ditambahkan dengan pekerjaan besok akan semakin bertumpuklah pekerjaan. Kasihan juga melihatnya tapi akupun tak bisa membantu. Maka buat apa kesal karena orang lain pun kesal dibuat oleh sistem pekerjaan.

Jam lima kurang seperempat barulah dia dibolehkan pulang. “Sudah hampir jam lima. Nis, kalau mau pulang sok aza! Tiba-tiba ia menyadari keberadaanku, “Belum pulang Aldika. Sedang apa disini. Lagi menunggu Niskala ya. Halah.” Akupun tersipu malu dibuatnya.

Dia berlari mengambil tasnya menghampiriku untuk pulang. “Tahu gak, aku tadi kesal menunggu. Teh Euis belum membolehkan pulang. Padahal kan kita sudah ada janji.” Dia menggerutu memuntahkan kekesalannya. “Tidak apa-apa tidak jadi juga. Sudah jam lima sebaiknya pulang”, kucoba menenangkan. “Aku tinggal disini bersama Uwaku. Rumahnya di Cigeureung dekat A Veri. Oia..” tiba-tiba tuturan katanya berhenti sambil menujukan pandang ke arahku. Lalu dia meneruskan maksudnya, “ Kemarin A’ Veri bilang bahwa A’Aldika sudah punya pacar kan di Bandung. Namanya Teh Nazifa, bukan?” sambil mengulum senyum memperhatikan rona mukaku.

Hanya kubalas senyumnya. Mendengarnya seperti aku diteror pertanyaan. Meski ia seperti tak mengharapkan jawaban aku dibuatnya kikuk. Bagaimana aku menjawabnya. Aku tak bisa langsung menjawab pertanyaannya. Kenapa Veri memberitahukan semuanya. “Diantara kami tidak ada hubungan apa-apa selain teman sekelas yang sering mengerjakan tugas bareng-bareng. Selebihnya tidak ada ikatan khusus dengannya. Jikapun aku mengharap sesuatu padanya, dia tak pernah memberi respon yang kuharapkan.” Kucoba mereka-reka jawaban untuk menghindari kesalahfahaman.

“Tuh sudah ada angkot Cigeureung. Sampai ketemu besok. Daah..” kupandang senyum terakhir di pertemuan hari ini. Kukhayalkan sebuah jalinan kisah manis bersamanya. Engkau bertanya, apakah kedatanganku akankah bisa menenggelamkan serpihan-serpihan kebisuan yang pernah terpilin. Meskipun redup terbaca begitu jelasnya, percayalah engkau adalah lentera cahaya penerang hatiku.

Meski kita berjalan tertatih-tatih dengan pandangan menerawang meraba-raba, akankah dan bagaimanakah jadinya kita. Tapi kuyakin senyummu dapat meleraikan kokohnya kesunyianku yang membatu. Lihatlah legenda pendongeng tertawa terbahak-bahak melihat kita berdua. Bahwa mereka tidak percaya pada kegilaanku tersembuhkan hanya karena senyummu. Mereka memang gila dan semakin gila saja ketika mendengar kisahku denganmu.

Bila engkau bukan cinta sejatiku, lantas dimanakah cinta. Adakah cinta sejati tanpa penghayatan dan pembebasan. Sudah kulupakan dia yang memberikan kekalutan dan kericuhan. Dia yang sudah mengotori jalanan dan merobek-robek pusaka jiwaku. Dalam ketakpastian telah membuatku meliuk-liuk dalam tarian kegilaan. Akankah datang kepastian menyambutku ataukah aku adalah memang sebagai gerombolan para penggila. Haruskah aku mengemis lagi padamu, meminta susu yang kau hidangkan di altar cahaya. Bila engkau tetap tak bergeming dan diam bagai batu, datangnya engkau padaku hanya membawaku pada kesintingan yang semakin sinting saja meniti episode perjalanan hidupku.

Engkau adalah pesona rembulan yang termanifestasikan dalam keanggunan pepohonan. Engkau adalah rimbun yang memberi keteduhan bagi para petualang yang membutuhkan oase. Engkau adalah hijau daun yang memberi warna manisnya pandangan. Matamu memantulkan prisma sinar matahari yang mengerling musim senja. Semoga hari tetap pagi bersamamu. Bersama menuju pelukan senja, menuju muara samudera cahaya.

Tak akan terungkapkan wangi kebahagiaan jiwa ini hanya dengan sepenggalan kata. Aku semakin terpana ketika memandang wajah manismu. Bisakah kuraih cakrawala tanpa langitnya. Bisakah keteguk anggur tanpa cawannya. Maka kurasakan dan kunikmati saja keindahan yang menggelora di pelupuk senyummu. Lentik suaramu menggetarkan sukma. Binar matamu terpancar sinar cahaya dan tergambar masa depanku.

Duhai Cantik, aku sungguh mendamba pesonamu. Ingin kucipta hari-hari yang membahagiakan bersamamu. Percayalah pada mahligai ikatan yang dapat memudarkan kesenang-wenangan jilatan perapian malam. Aku ingin memastikan bahwa aku ada dan mengada dalam rengkuhan cinta yang selama ini kita cari. Aku datang padamu untuk menikmati keheningan malam bersamamu. Menyenandungkan musik kebebasan dengan lengking seruling yang mematikan para peniupnya.

Duhai Matahari, semayamkanlah titisan taman surga niyala di rumah kita. Labuhkanlah air kesucian cinta agar selalu merembes pada muara kumpulan para pencinta. Dekaplah daku dengan cahayamu dan hembuskan nafsu untuk menumbuhkan bunga pertalian cinta. Basahi tubuhku dengan percikan wangi bunga surga semerbak melati. Mari kita persembahkan pada sabda suci para pandita ratu. Kecuplah tubuhku dengan bibir kemesraan yang menggelorakan dan mengalunkan nada-nada keabadian. Dalam kehormatan mengayuhkan biduk bidara berlayar ke tepian Nirwana.

Duhai Matahati, terciptalah engkau dalam keheningan. Senandungkan lagi kebebasan bersama burung bulbul dalam sayup suaranya. Berteriaklah sampai menghentakkan mata kejira dan memekakkan telinga para pendosa. Selalu engkau dengarlah nada-nada indah tangisannya. Dekaplah mereka dengan senyuman yang membahana. Pelutklah dengan erat dan semakin erat mendekap air matanya. Semoga cerita kita melegenda bersama waktu yang kita tidak tahu dimana pangkal ujungnya.

Namun mengertikah Sismata Niskalaku. Keinginan tinggallah keinginan. Orang bilang, cinta hanyalah sekejap. Sedangkan yang tersisa hanyalah kasih sayang. Awal pernikahan, cinta hanya berumur tiga bulan. Sisanya haya kekesalan yang terhapuskan oleh kasih sayang. Terwujud dengan komitmen tulus untuk selalu menyayangi. Buatku, keduanya tak ada perbedaan, justru kasih-love dan sayang-care adalah bagian dari definisi cinta. Cinta adalah puncaknya, bukan pangkal ujungnya.

Cinta tak pernah terkotori dengan noda-noda para pendusta. Meski permainan bahasa, sudah saatnya definisi cinta tersucikan dari kepura-puraan kumpulan para pendusta. Dan berbahagialah bagi yang mengerti cinta. Cinta yang bukan sekedar prasangka. Aku mencitaimu segalanya yang ada padamu. Perempuan, lingkungan, binatang, apaun jenis makhluknya kucinta dengan mesra.

Aku mencintai perempuan. Bila mencintai semua, perempuan manakah yang jadi kekasih itu. Itulah kamu. Sebagai belahan jiwa dalam pertalian samudera cahaya. Sudah kutemukan engkau belahan jiwaku. Tapi entahlah bila engkau tak pernah mengerti. Tapi pasti satu purnama akan kutemukan dan kukecup manisnya. Di suatu ketika sampai aku menutup mata.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori