Oleh: Kyan | 16/08/2006

Kenapa Bukan Untuknya Untukku

Rabu, 16 Agustus 2006

Kenapa Bukan Untuknya Untukku

**

Kami yang magang di PT.Askes, ditawari ikut piknik ke TMII, Taman Buah, dan Taman Safari oleh Panita. Hanya katanya kami cukup membayar tiket masuk dan makan saja seharga Rp 145.000,- Sebuah kesempatan yang tak akan datang dua kali dengan uang sebesar itu. Dengan seharga itu kami bisa jalan-jalan ke berbagai tempat di Bogor dan Jakarta. Kuyakinkan diri aku ingin ikut. Karena teman-teman magangku, Veri, Neng Titin, Liza, dan Pipih akan ikut serta. Tapi keuanganku sudah tipis.

Ibuku sedang di kampung, mau menghadiri pernikahan adik sepupuku, Rika. Aku harus pulang meminta uang pada ibuku. Tadinya selama lima hari aku ingin menghabiskan hari-hariku di kampung tempat lahirku. Karena aku belum pernah pulang dan tinggal di kampung lebih dari dua hari sejak aku sekolah SMU. Ketika SMU aku pulang malam sampai di kampung, siang mencari bekal di Uwaku di Cipadung, dan sorenya kembali ke Bandung-Cimahi. Bahkan pernah hanya dua jam di rumah nenekku, selebihnya dalam perjalan pulang pergi kampung dan Cimahi.

Tetapi rencana tinggal rencana. Ada rencana lain yang sangat sayang jika dilewatkan yang bila tidak diambil akan menyesal seumur hidupku. Rencana hari ini pulang kampung ke kampung halamanku, Citamiang Tawang Pancategah Tasikmalaya. Sekian lamanya aku tak pulang dan tak berhasrat pulang. Kakakku yang pertama begitu lulus MTs, melanjutkan MA hanya bertahan sampai satu caturwulan di kelas satu. Dapat kubayangkan saat itu dan kuhayati perasaannya, ia yang memiliki mimpi bersekolah setinggi-tingginya, namun tak ada yang menanggung biayanya.

Antara bercita-cita tinggi meneruskan sekolah, yang entah karena teman-temannya dapat melanjutkan sekolah, ataukah kemauan besarnya. Karena sejak MTs ia sudah mengenal dan membaca koran. Pernah ketika aku diajak main ke pusat kecamatan Cikatomas, dia menunjukkan tempat perwakilan distiribusi koran PR. Lokasinya sangat dekat dengan gedung asrama dan sekolahnya. Mungkin dia sering mampir melihat-lihat tumpukan koran dan tabloid sekedar membuka-bukanya sebentar. Karena untuk membelinya mana uang cukup untuk bekal yang dikirim ibuku. Dari membaca koran dapat memperkaya wawasannya melihat dunia.

Mungkin kakaku adalah sepenggal cerita anak yang putus sekolah. Anak Desa yang ingin mengejar mimpi mengenyam bangku sekolah, tapi kepada siapa harus berbicara dan meminta. Mungkin ia menangis ketika harus memutuskan tidak dapat meneruskan pendidikan. Tangisan yang dihentikan oleh nasib keluarga dan ayah seperti tidak paduli pada masa depan anaknya.

Ia mencoba ikut berkelana ke kota bersama pamanku belajar menjahit. Bila pamanku setidaknya setiap tahun pulang, tapi kakakku jarang sekali pulang. Satu tahun dua tahun berjalan ia tak pulang sampai akhirnya ibuku memutuskan pergi ke Jakarta untuk menjadi PRT. Ayahku pun begitu ketika aku baru mulai sadar dan ingatan, dikatakan ayahku sudah menikah lagi dan tinggal di kota. Karena aku belum pernah menyadari dan melihatnya, bisa saja aku tidak percaya bahwa lelaki yang disebut ayahku dengan perempuan yang disebut ibuku itu, mereka pernah menikah dan dikaruniakan empat orang anak.

Begitu kuingat dan sadar, aku tinggal di rumah nenek-kakekku bersama ibuku. Setahun tinggal di Uwaku dari ayahku, lalu kembali ke rumah nenekku. Ibuku pergi ke kota, demikiian juga tak ada beda sering tak pulang. Bukankah anak belajar kepada lingkungannya. Entah disengaja dan disadari aku sudah belajar dari mereka yang membuatku ogah pulang kampung. Meskipun sadar aku punya kampung halaman tapi selalu tak sempat saja waktu untuk pulang.

Mungkin karena diawali dengan prinsip: Jangan dulu pulang sebelum aku sukses. Bagi orang Padang, jika tidak sukses di kota, lebih baik terlunta-lunta hidup di negeri orang. Daripada pulang kampung dengan menahan malu pada sanak saudara. Begitu prinsip dari seorang lelaki paruh baya orang Padang yang pekerjaannya menjadi tukang stempel yang mangkalnya di Cikapundung Bandung. Mungkin akupun begitu dan memiliki niat itu.

Aku berkemas pakaian untuk pulang. Sebelum pulang kusempatkan main ke kantor PT.Askes dulu untuk sekedar bertemu wajah Sasmita Niskala. Sebuah pertemuan mesra untuk perpisahan sementara. Berpapasan di lorong sempit tempat parkir di kanan kiri, ia mendekap ke arahku. Entah ada orang lain melihatku, kubalas saja dengan sapuan lembut penuh kemesraan. Mungkinkah aku sedang mencoba mengikat satu komitmen? Ia merengek ingin ikut, apakah cuma sekedar ungkapan kemanjaan? Memang perempuan ingin selalu dimanja dan pantas dimanja sebagai bentuk keagungan dirinya sebagai perempuan gadis belia.

Ia meneleponku dan nge-sms sewaktu aku sudah di bus TKM yang membawaku menuju kampung halamanku. Apakah ia merasa kehilangan dengan kepergianku yang hanya sebentar. Ia bilang, kangen. Baru saja beberapa jam bertemu sudah kangen. Mungkinkah dia ingin selalu dekat bersamaku? Apakah ia sudah terpaut hatinya padaku? Namanya perempuan selalu ingin mempautkan diri pada laki-laki pilihannya sebagai tempat mencurahkan rasa suka dukanya. Secerdas-cerdasnya perempuan pasti membutuhkan laki-laki di sampingnya. Untuk menumpahkan segala kedukaan penuh manja dan untuk melindungi dirinya dari ancaman. Sebaliknya laki-laki pun demikian. Ingin mendapatkan kelembutan dalam sentuhan. Untuk meluruhkan segala amuk dan rasa penasaran.

Hanya saja aku tidak mengerti dengan satu perempuan. Aku pernah menemukan perempuan yang seolah-olah ia tak membutuhkan laki-laki. Tapi mungkin bukan tak membutuhkan, namun bukan diriku yang didambakan olehnya. Seperti temanku bilang, apa yang dapat diharapkan dariku. Meskipun dia pernah menangis sesunggukan di hadapanku, karena dasarnya perempuan itu cengeng. Bukan menumpahkan kedukaan padaku sebagai orang yang dipercaya. Kini aku sudah menemukan gadis belia yang dapat dipercaya, tapi apakah dia terlalu belia untukku?

Sampai di terminal kampungku jam tujuh malam. Berjalan di kegelapan cukup jauh sekitar dua kilometer. Ternyata orang-orang masih mengenali wajahku. Sudah banyak perubahan keadaan kampungku. Rumah-rumah di sepanjang dari terminal menuju rumah nenekku sudah berganti rupa. Bila dulu hanya panggung dan setengah tembok, rumah duduk, sekarang sudah gedongan. Alhamdulillah, orang-orang di kampungku usahanya pada maju. Mereka pada sukses.

Pertanyaanku apakah aku sudah menuai kesuksesan berkelana di kota. Entahlah yang pasti ingin sanak saudara dan ibuku juga nenekku menyambutku penuh kesyahduan dengan kedatanganku. Lama tak berjumpa dengan orang-orang di kampungku. di rumah nenek dan di kanan kirinya rumah pamanku riuh dengan orang-orang yang sedang menyiapkan hidangan hajatan. Keluarga besar sedang berkumpul dan begitu aku menampakkan muka pada mereka banyak juga yang sudah tak mengenaliku. Namun akhirnya mengenaliku juga, setelah menilik-nilik wajahku sebagai anak siapa aku.

Karena wajahku adalah perpaduan antara wajah ibuku yang cantik dan ayahku yang ganteng. Anaknya pun pasti donk ganteng. Tapi buat apa ketampanan, kalau tak dapat memikat perempuan. Selalu aku merasa kurang saja tak memiliki keunggulan untuk dekat dengan perempuan. Karena aku selalu melihat kelemahanku, bukan pada kekuatanku. Aku selalu merasa kekurangan, bukan pada kelebihanku.

Begitulah aku dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku tak boleh minder dengan segala kelemahanku, dan tidak pula sombong dengan kelebihanku, karena keduanya akan menjerumuskan ke lembah kenistaan. Bagusnya fisik memudahkan terperosok pada maksiat dan mempermainkan wanita. Bagus otaknya dapat mengelebaui dan membohongi orang-orang. Tapi kenapa setelah orang mengetahui segala kelemahanku, tak dapat memandang lagi bahwa akupun mempunyai kelebihan. Apakah karena kelemahannya sudah sungguh keterlaluan?

Tadinya aku tak ingin catatan harianku dibaca orang lain. Kenapa ketika di Tasik, aku mengiyakan mereka menguak rahasiaku. Kenapa kupersilakan Neng Titin, Liza, dan Pipih membaca catatanku. Sekarang dia juga mau meminjam catatan harianku. Aku pun memberikan saja padanya, ketika pertemuan mesra tadi sore. Supaya ia tahu bahwa aku orangnya begitulah apa-adanya. Orang-orang yang membaca dipastikan bakal tahu segala kelemahanku dan ambisiku untuk mengejar mimpi-mimpiku. Mereka akan tahu siapa dan perempuan mana yang selama ini kupuja dan kurindu.

Mungkinkah mereka akan memahami dulu dan sekarang sudah dua tahun aku telah mendamba dia seorang. Lantas kelebihan dia apa sih sampai aku susah untuk berpaling darinya. Karena saking terpautnya hatiku untuknya, apakah perempuan yang telah dekat dan ingin dekat padaku akan mulai menjauh setelah mengetahui semuanya? Semua menjadi tahu bahwa aku sudah tergila-gila padanya. Sebenarnya aku pun mengharap cintaku kepadanya berubah menjadi benci karenanya. Tapi kebencian hanya ada dalam catatan, belum hilang dari hati meski sudah berulang kali penolakan. Aku pun tak mengerti kenapa harus begini.

Sekarang ingin kudekati dia perempuan belia Sasmita Niskala. Apakah terungkap bahwa hatiku bukan untuknya. Ia akan tahu dari catatanku dan Veri sudah memberitahunya bahwa aku begitu mencintai Nazifa dengan sangat, sebelum pertemuan dengan Sasmita Niskala. Seolah tak ada perempuan lain untuk dapat berharap padaku sebagai pangeran hatinya.

Sekarang aku harus berpikir lagi. Semua berjalan karena aku menginginkan hal itu berjalan. Dan itu berjalan seperti yang kumaui. Semestinya aku lebih mengerti realita bahwa ada perempuan belia lebih cantik dan manja datang padaku. Masihkah hatiku untuknya dan apakah ia tahu bahwa aku sedang mendekati perempuan belia. Sudah lupakah padaku dan akankah kenangan bersamanya terlupakan, karena sekarang sudah berganti pengalaman jalan-jalan bareng menghabiskan hari-hari bersama perempuan belia.

Seperti Romeo setelah dicampakkan oleh Rosaline, akhirnya dia bertemu Juliet. Untuk melupakan kekecewaan, maksudku ingin mendekatinya. Tapi mungkinkah di pikiran Niskala aku memang punya maksud mendekatinya. Tapi bila dia sudah membaca catatan harianku lantaskah ia berpikir dua kali bahwa di hatiku sudah tersimpan satu nama perempuan. Ditambah teman-temanku pada comel, berbicara di hadapannya bahwa aku telah memiliki satu perempuan.

Mungkinkah dia jadi berpikir dua kali ketika aku mendekatinya. Mungkinkah di pikirannya terbesit, “Buat apa membina hubungan denganku kalau hatinya bukan untukku, begitukah rintihannya? Untuk apa kalau tidak bisa memiliki sepenuhnya? Mungkin akhirnya aku disebut buaya darat. Sejujurnya aku tak bermaksud mempermainkan perasaan wanita. Karena mereka tak pernah memberikan kepastian saja padaku, sehingga membuatku menjadi begini. Ah, biarlah semua berlalu dan aku bosan karenanya. Bosan aku membicarakannya.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori