Oleh: Kyan | 20/08/2006

Taman Mini, Taman Buah, dan Taman Safari

Minggu, 20 Agustus 2006

Taman Mini, Taman Buah, dan Taman Safari

**

Sampai di masjid At-Tien Subuh hari. Pertama kalinya aku berkunjung ke masjid Ibu Tien ini. Masjid yang menjadi penyempurna proyek miniatur Indonesia Taman Mini Indonesia Indah yang diprakarsai sang ibu negara. Masjid yang dulu kulihat pada gambar kalender di dinding bilik rumah bambu nenekku, kini sudah tampak di hadapanku saat remang subuh menjalar lenyap di telan fajar matahari.

Disamping megah dan kokoh masjid ini, karena areanya luas dan menginjak pertama kali sampai kami tidak tahu mana ruang utamanya. Setelah kami berwudlu untuk menuju ruang utama malah kami tersesat ke ruang resepsi di lantai dasar. Aku dan beberapa orang kelimpungan kemana jalan menuju ruang mihrab. Tapi setelah mengikuti beberapa orang sampailah kami di tempat yang dituju.

Ketika kami tersesat masuk ke ruang resepsi pernikahan menyembul pikiran Ekonomi Masjid. Biasanya acara pernikahan diadakan di gedung serbaguna, tapi disini dapat dilakukan di lantai dasar masjid. Kalau acara pernikahan diselenggarakan disana lantas bagaimana muatan acaranya. Biasanya pernikahan sering penuh keglamouran dan nyanyian dangdut, mungkin disini dihindari. Karena penyelenggara pasti tahu kondisi.

Ikut piknik dengan orang-orang PT. Askes jadi membikin lebih akrab. Tidak semata-mata pegawai Askes Tasik rupanya yang ikut serta. Tapi berkumpul pula para karyawan PT. Askes Cabang Garut, Banjar, dan Ciamis. Dapat dikatakan ini piknik PT. Askes Cabang Priangan Timur. Dan kami yang magang telah dianggap layaknya seorang karyawan PT.Askes. Mereka bilang tak akan menemukan orang magang diperlakukan seperti ini. Pasti dibuat gap siapa karyawan dan mana orang luar.

Mungkin ini sekedar membalas kebaikan kami yang magang. Karena orang-orang PT. Askes pernah diajak main ke Manonjaya, ke rumahnya Neng Titin beberapa hari lalu. Kami harus berterima kasih kepada Neng Titin. Dan berterima kasih kepada Veri yang membawa gengnya kami berempat mengikut magang di kantor Uwanya.

Di Masjid At-Tien kami menumpang mandi. Setelah mandi dan selesai semuanya kami langsung menuju bus lagi. Katanya mau langsung keliling Taman Mini sekalian sarapan dulu. Bis rombongan melaju membawa kami ke satu tempat cukup luas. Disana selesai sarapan lalu kami berkumpul untuk mengadakan prakata acara pembukaan. Disanalah aku baru mengenal kosakata: Anjungan. Pertama kalinya aku mendengar istilah itu. Anjungan adalah wilayah atau semacam kumpulan rumah-rumah dalam satu kampung bernama TMII. Rumah dengan khas budaya dari setiap propinsi Indonesia, dimana di dalamnya banyak berisi replika dan khazanah kekayaan tradisi setiap daerah.

Kepala kepala cabang PT.Askes memberikan sambutan dulu, pandanganku sempat tertuju pada satu titik. Siapakah gadis perempuan berkerudung itu. Setelah kutanyakan sana-sini namanya Riska. Jadi kuingat Riska-nya Dudi. Riska Nadya yang menjadi inspirasi kawan kuliahku sampai dibuatkan cerpen olehnya ketika awal perjumpaan pertama. Riska yang ini dia memakai kacamata sama sepertiku. Ia putih dan pasti cantik.

Semua tahu bahkan setiap lelaki mendambakan perempuan dengan fisik cantik luar dan dalam. Tapi sesungguhnya semua seorang gadis perempuan jika dilihat berulang kali, ditatap terus-terusan akan nampaklah aura kecantikan fisik dan psikisnya. Secara fisik semua perempuan cantik, tapi sisi dalannya mungkin beda-beda. Itulah yang kucari-cari ingin perempuan yang memiliki aura kecantikan penuh ketulusan, kejujuran dan keikhlasan. Dapatkah aku menemukan cantik fisiknya sebagai pendahuluan aku berkenalan.

Berkunjung ke TMII inginnya kumasuki semua Anjungan. Sehingga aku menjadi bisa tahu sedikit banyak khazanah setiap daerah di Indonsia dengan segala perkakas budayanya. Tapi waktu sangatlah terbatas hanya sampai Duhur. Aku hanya sempat masuk ke anjungan Lampung, Jawa Barat, dan Jawa tengah yang kumasuki dengan intens. Sementara rumah lainnya hanya melihat halaman depan dan sekelilingngya saja. Di anjungan Jawa Tengah rencananya aku ingin membeli aksesoris buat seseorang. Seseorang yang ingin selalu di hati. Ingin pula membeli sesuatu buat pacar baruku. Namun keduanya tak sempat kurealisasikan. Takut tidak cukup uang dan bingung harus membeli apa.

Berkumpul kembali dan pulang dari TMII langsung menuju Taman Buah di Bogor. Suasananya panas serasa menguliti tubuhku. AC bus tidak dapat menghalau kegerahan panasnya kota Bogor. Tapi sedikit terobati karena keriangan baru pertama kalinya ke tempat-tempat yang dikunjungi sekarang.

Sampailah di Taman Buah dan di sana kami keliling ke tiap-tiap perkebunan memakai mobil kereta. Dari kejauhan kami melihat bangunan air terjun buatan. Bagi orang kampung sepertiku nuansa berkeliling dari kebun ke kebun seperti saat kecil menyusuri ladang dan hutan. Kaum perkotaan ingin menikmati pengalaman orang kampung. Hanya menikmati pemandangan saja yang barangkali dapat memberi kesembuhan.

Kami makan bersama-sama di pinggir sebuah danau yang masih satu kompleks Taman Buah. Muncul pula keberanian menggoda cewek ABG yang pastinya mereka adalah puteri-puterinya para karyawan PT.Askes. Meski tidak sampai tahu namanya, tapi kuingat ada diantara mereka yang lumayan manis. Menggoda mereka sebagai pengisi waktu luang saja. Tidak tahu kenapa merasa gatal saja ingin menggodanya. Di sana pun aku ingin membeli aksesoris buat seseorang. Tetap tak jadi juga membelinya. Aku bingung harus membeli apa dan tidak dapat mengira-ngira apa kesukaannya. Lagian uangnya tak mencukupi. Aku ingin membeli sesuatu yang murah tapi bermakna dan berkesan baginya. Tapi bukankah semua orang kalau dikasih mau saja.

Sebelum menuju tempat penginapan di Asrama Askes, kami belanja dulu mampir di Tajur. Tempat atau swalayan yang banyak menjual aneka tas. Mungkin Tajur itu kalau di Bandung ibarat Cibaduyut sebagai pusat aneka sepatu. Kuamati mereka yang belanja di sana kebanyakan orang-orang berduit. Parkiran mobil mewah penuh di setiap sisi. Pastilah yang gak punya uang mana bisa membeli sesuatu. Di sana aku pun melihat kolam-kolam kecil yang entah kolam mainan atau kolam tempat penetasan ikan. Kulihat ada ikan gede sebesar badanku. Wah, kalau disantok sakitnya minta ampun, bisa sampai mampus aku. Rupanya disana ibunya cewek yang tadi kuganggu malah balik menggoda. Dia bilang, “Aa ganteng yach”. Kujawab, “Tak ada recehan. Haa.

Pulang dari Tajur langsung menuju penginapan. Kemungkinan itu sebagai tempat diklat PT. Askes. karena jalanan sangat macet, sampai di penginapan jam duabelas malam. Kelelahan tapi sangat mengasyikan. Ruang kamarnya luas ditempati masing-masing tiga orang. Coba kalau kupunya kamar sebesar itu. Tempat mandinya juga asyik buat jingkrak-jingkrakan. Meski sudah jam duabelas malam, aku mandi pakai air hangat. Sehingga tidur pun jadi pulas di kasur empuk. Sebelum tidur kusempatkan mengirim sms Niskala dan Nazifa untuk sedikit berbagi keceriaan semua yang kualami.

Dan bangun melongok keluar jendela. Pemandangan tamannya sungguh rapi dan asri. Mandi pakai air hangat dan pergi sarapan. Sekitar jam delapan dimulailah acara tukeran kado. Karena ketika acara perutku mules, saat sedang perlombaan joged aku balik ke kamar. Karena disana ada Veri sedang tiduran, akupun malah ikut tiduran. Begitu selesai acara, dr. Heni marah-marah padaku karena aku gak ikutan perlombaan. Aku dibilangnya egois dan Neng Titin selanjutnya Pipih memulai julukanku sebagai orang egois. EGOIS. Sekarang aku jadi tahu kekuranganku bahwa mungkin benar apa kata mereka. Aku kudu intropeksi dengan sikapku yang egois.

Jam sepuluh lebih kami pun berangkat menuju Taman Safari. Saat perjalanan Liza tak henti-hentinya menagihku untuk membayar foto. Bukan kenapa-kenapa yang membuatku malu itu sampai dilhat orang-orang. Dasar orang pelit tak ingin tahu keadaan orang, gemerutukku dalam hati. Aku enjoy-enjoy saja meski ditagih terus. Sebenarnya bukan tak mau bayar, tapi ingin tahu sejauh mana kengototan dia.

Taman Safari. Sampailah kami disana. Di setiap tempat wisata selalu penuh dengan orang-orang. Mereka sangat butuh hiburan bersenyawa dengan alam. Bagi para petani dan peternak berhubungan dengan tanaman dan sekawanan hewan adalah hal biasa. Tapi ini sebuah pengalaman istimewa bagi orang kota.

Di Taman Safari kami disuguhkan dengan tontonan aneka binatang. Menyusuri jalan dimana kami ketika di area taman yang lebih mirip hutan, kami tidak boleh membuka jendela apalagi menyentuh hewan. Terutama ketika melewati kandang binatang buas semacam harimau dan serigala kaca mobil harus benar-benar tertutup rapat.

Melihat berbagai macam bintang buas, ibarat ke kebun binatang. Kuingat-ingat sebenarnya aku belum pernah main ke kebun binatang. Meskipun di Bandung ada Kebun Binatang Tamansari, belum pernah aku kesana. Ketinggalan sekali aku dan mungkin benar apa kawanku bilang bahwa aku selama ini belum pernah kemana-mana.

Terakhir, kami menonton pementasan Wild Wild Cowboy. Menonton drama sungguh mengasyikan dan menegangkan. Sungguh fantastis. Seperti kami dibawa ke suasana film Coboy dimana panggung disulap seperti penuh bangunan kedai-kedai tempat singgah para Coboy. Terjadi tembak-tembakan sampai kami terbius mengikuti adegan demi adegan kisahnya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori