Oleh: Kyan | 21/08/2006

Nuansa Menonton Berdua

Senin, 21 Agustus 2006

Nuansa Menonton Berdua

**

Sampailah kami di Tasik sekitar jam lima pagi. Perjalanan yang membuat persendianku nyeri karena terlalu banyak duduk di bus. Meski ini piknik mengunjungi tiga taman, tapi di masing-masing tempat hanya beberapa jam. Selebihnya banyak ngendon duduk-duduk di jok mobil. Sebentar mengadakan acara dalam mobil, lebih banyaknya orang tiduran, dibuat-buat supaya tertidur, dan kalau tidak bisa sibuk dengan panorama yang baru saja dilewati yang berjalin kelindan dalam pikiran masing-masing

Setelah kutunaikan salat subuh aku langsung merebahkan diri untuk melunasi utang tidurku. Sebelum aku tertidur, kusempatkan menelepon entah dia sebagai adik ataukah kekasih. Aku telah berjanji padanya dua hari sebelumnya, hari ini mau jalan-jalan. Namanya janji aku tak ingin mengingkarinya. Aku meminta dia supaya membangunkan aku jam delapan. Kurasa tiga jam tidur cukup buat memulihkan otot tubuhku selepas perjalanan.

Jam delapan lewat aku terbangun sendiri. Ternyata dia gak membangunkan aku. Ku sms dia kenapa tidak membangunkan dengan menelepon, jawabnya takut mengganggu tidur pulasku. Memang dia pengertian dan pasti merasakan kalau sehabis bepergian membutuhkan istirahat cukup untuk kembali fresh. Hidupku di Bandung sangat jarang menyempatkan tidur siang. Aku memastikan padanya hari ini jadi main bersamanya.

Kubilang aku ingin main ke rumahnya atau minta diantar ke Mangkubumi. Karena sudah lama aku tak pernah kesana. Untuk sekedar mengulang ingatan saat dulu bersama kawan-kawan SMP rombongan pergi renang. Pernah juga sekali sengaja datang lagi sendiri ketika aku sudah duduk di SMU. Tapi untuk renang, sayang aku gak membawa peralatan renang.

Akhirnya dia mengajak aku nonton di Parahyangan. Kupenuhi  saja maunya dia. Kutahu di Tasik tidak ada Bioskop TwentyOne. Ketika SMP pernah main ke gedung-gedung bioskop di Tasik. Dari poster filmnya yang banyak gambar seronok, pasti film yang diputar adalah film semi porno Indonesia. Tapi tidak sampai pernah aku mencoba menonton. Bukan karena tidak cukup uang membeli karcis, tapi bingung caranya bagaimana untuk dapat masuk bioskop. Pasti malu untuk menonton film begituan bertanya-tanya pada orang.

Rupanya bioskop yang lebih banyak memutar film yang mempertontonkan daging segar semakin kesini banyak yang gulung tikar. Terutama setelah maraknya Pisyi terjangkau dibeli masyarakat kelas menengah. Ya, televisi telah menjadi alternatif hiburan masyarakat menjadi salah satu penyebab tutupnya gedung-gedung bioskop. Tertinggal hanya beberapa gedung yang masih bertahan. Termasuk Parahyangan di Tasik yang aku dengannya sedang mengendap-endap masuk kedalamnya. Kuingat saat SMU pun masih ada di Cimahi namanya Rio Bioskop. Namun sekarang tidak tahu apakah bioskop Rio masih beroperasi sebagaimana Parahyangan, aku belum main lagi ke Cimahi.

Mungkin hanya Bioskop 21 yang masih kokoh berdiri. Apakah ia memonopoli gedung pertunjukkan film-film terbaru. Karena di Tasik gak ada Bioskop 21, akhirnya kami hanya menonton film yang sudah basi di Bandung. Film Lentera Merah yang dibintangi Laudia Cintya Bella. Film ini pernah kulihat posternya dipajang dua bulan lalu di bioskop Astor Ujungberung. Bisokop Astor, film yang tayang disana biasanya paling belakang setelah tayang sebulan atau beberapa bulan di bioskop 21. Dan sekarang malah baru muncul di Parahyangan Tasik. Sungguh telat peredaran film dari kota propinsi ke kota-kota kabupaten.

Apakah memang karena akses hak tayang pada film-film terbaru hanya Bioskop 21 saja? Mungkinkah karena film Indonesia tidak seramai tahun 70-80-an jadi tidak banyak orang yang tertarik berinvestasi di pasar film? Padahal dikatakan Indonesia itu termasuk masyarakat penonton. Apakah karena tidak ada uang atau tidak sempat saja orang berduyun-duyun datang ke bioskop? Mungkin pula bisa saja ada fatwa bahwa menonton film itu makruh dan haram.

Investor melihat animo masyarakat pada film berkurang, setidaknya menimbulkan para investor di pasar film ragu untuk dapat meraih keuntungan. Mungkin pula penyebabnya utamanya adalah kematian kreatifitas para sineas. Sehingga menghasilkan minimnya kuantitas dan kualitas film. Padahal para kreator inti utamanya adalah apresiasi. Meskipun secara materi kurang menguntungkan, setidaknya ada apresiasi dan motivasi. Minimnya perhatian dan penghargaan menyebabkan kreatifitas para seniman menjadi mandeg.

Tapi aku berkunjung ke setiap kota-kota kabupeten, masih kulihat setidaknya masih ada satu gedung bioskop yang masih berdiri. Karena sepinya penonton, kurangnya minat investor, dan kreatifitas para sineas berjalin kelindan sebagai penyebab yang entah penyebab utamanya dimana. Semua saling mempengaruhi sehingga menimbulkan naik turunnya permintaan atau penawaran. Dapat saja dalam satu tahun launching produksi film baru, tapi kurang agresifnya manajemen sehingga hanya meraih beberapa penonton. Mungkin pula filmnya masih terlalu segmented, atau bosan tema filmnya itu-itu saja. Film esek-esek melulu.

Memang memerlukan berbagai katalisator. Bila semakin banyak para pemain yang terlibat di industri ini atau pada bidang dan jenis apapun akan semakin meningkatkan potensi dalam meraih profit. Adanya persaingan sempurna akan menyebabkan manajemen perusahaan berpikir optimal untuk menggenjot penonton. Bila maunya masyarakat dapat terpenuhi, film-film yang beredar dapat memberikan semacam eskapisme sebenarnya mereka bersedia datang ke bioskop. Bila tingginya apresiasi akan gampang memunculkan semangat kreatifitas bagi sineas dan inovasi pemasarannya. Mungkin intinya adalah marketing.

*

Setelah salat Duhur dan makan di Bonti Kebon Tiwu, aku pergi ke ATM, lalu berputar menuju kantor PT.Askes. Aku sudah janjian bertemunya disana seperti tempo hari. Sampai aku disana, dia gak ada. Mungkin tidak jadi, aku balik lagi ke kosan. Begitu aku sampai di kosan, ada sms bahwa dia sudah ada di depan kantor.

Wah, ini kedua kalinya aku bisa jalan-jalan bareng dengan anak setingkat SMU. Lucu juga karena tidak seperti orang pacaran kalau bepergian suka janjian untuk berbaju sepadan. Dia memakai celana jeans dan kaos lengan pendek warna putih susu, memakai sepatu, dan membawa tas. Sedangkan aku hanya memakai sandal, kaos berwarna biru tua. Masa aku harus balik lagi ke kosan untuk dapat berpakaian sepadan.

Kami pun naik angkot dan turun di jalan dekat masjid raya. Dari belakang masjid kami naik beca berdua, dempetan. Kukatakan padanya aku sangat kagum karena meskipun masih SMU, tapi sudah bersikap dewasa. Tidak cengeng seperti perempuan yang sudah kuliah, tapi masih bersikap kekanak-kanakan. Beca mengantarkan kami sampai di depan bioskop Parahyangan.

Oh ini tempatnya, kok kusam gedungngya. Padahal katanya bioskop paling bonafit di Tasik. Ternyata filmnya sudah berlalu setengah jam. Kupikir tidak seru bila tidak menonton dari awal. Tapi daripada bingung, kuputuskan masuk saja menonton film “Lentera Merah”. Tidak apa-apa tidak dari awal, yang penting dia senang. Lagian aku juga belum sempat nonton ketika di Bandung. Meski film horor, cerita filmnya menarik. Sisi bagusnya dapat memadukan muatan politik dengan sesuatu yang sekarang sedang marak, yakni film horor. Menurutku, begitulah cara mendidik masyarakat harus melalui bahasa yang digemarinya. Tontonan yang layak dinikmati berdua.

Kami mendapat tempat duduk paling belakang. Saat-saat adegan muncul syaitan kubilang, “Katanya pengen nonton pelem, tapi kok ditutupin matanya. Dijawabnya, Ikh takut..serem..”. Kutimpal, “Lagian ini cerita bohongan sambil kupaksa kedua tangannya ditepiskan dari mukanya. Tentu sambil kupeluk dia. Alangkah mesra dan hangatnya. Mungkin begitulah orang berpacaran mencari-cari kesempatan gelap-gelapan di gedung gioskop untuk sama-sama menikmati kegelapan.

Pulang nonton, kami jalan-jalan ke Yoya supermarket. Kami langsung menuju Yogya lantai tiga. Kupesan sop buah di Café Yogya sampai tiba waktu Ashar. Kutunaikan salat Ashar disana. Setelah jam lima, lalu kami pun pulang menuju rumahnya.

Untuk segera sampai di tempat angkot, kami hendak mengambil jalan pintas. Dari jalan HZ kami menyusuri saja lorong-lorong gang, sambil bercanda-candaan. Sampai beberapa kali kami menemukan jalan putus. Tapi sampai juga akhirnya di tepi jalan dekat salon yang tempo lalu aku mencukur rambu. Dengan manjanya ia bergelayut di pundakku seperti ingin digendong, seperti anak kecil saja. Tak lama angkot Cigeureung pun datang. Penumpangnya cuma kami berdua. Alamakk..

Dan turunlah kami di jalan yang masih kuingat tempat dia turun lusa hari ketika aku mengantarnya dari Wiji. Lagi jalan berdua menuju rumahnya, banyak pemuda yang melirik kami. Aku sih pede saja, siapa yang berani padaku. Banyak pemuda yang menanyai dia pulang dari mana. Sepertinya mereka hormat padanya. Mungkin karena dia anak sekolahan, jadi mendapat penghormatan yang lebih. Kami mampir ke warung, ia mau membeli bahan-bahan buat dimasak.

Jauh juga kami jalan sejak turun dari angkot. Sampai kami menemukan area pesawahan. Lalu ia meminta padaku digendong. Aku jongkok saja, “Silakan mau digendong kan?”. Tapi ia urung digendong. Mungkin malu kalau dilihat orang. Meskpun sebenarnya lumayan sepi. Aku hanya mengantarkan dia sampai kira-kira limapuluh meter dari beberapa gundukan rumahnya. Akupun pulang mengambil rute lain, tidak kembali ke jalan tadi, tapi jalan terusannya. Karena angkot Cigeureung lewat kesana juga katanya.

Kisah jalan-jalan yang cukup menyenangkan. Namun penuh resiko. Karena kutahu mungkin saja dia sudah punya pacar, atau yang jelas dia dikatakan sudah tunangan dengan lelaki yang sekarang kuliah di Mesir. Begitupun aku saat-saat senang bisa lupa pada Nazifa. Cinta besar dapat hilang oleh cinta lebih besar lagi.

Sampai di kosan kuingat mau mencuci. Cucianku sudah menumpuk. Hampir semua pakaian dicuci, terutama bekas kemarin. Karena semua baju dicuci, aku jadi tak bisa kemana-mana. Hanya kupakai kaos dalam dan sarung. Padahal kerjaan menyusun laporan magang sudah menunggu untuk segera diselesaikan. Menambah ide penyusunan laporan masih susah untuk jalan penyelesaiannya. Karena ini tugas kelompok, jadi pada sering mengandalkan pihak lain. Saling mengandalkan. Malah muncul keraguan dilanjutkan tidaknya menyusun laporan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori