Oleh: Kyan | 23/08/2006

Begitulah Baiknya Liza Sahara

Rabu, 23 Agustus 2006

Begitulah Baiknya Liza Sahara

**

Kemarin malam setelah mengantarkan dia pulang. Tak sempat kubeli pulsa buat dia. Ku sms dia supaya datang ke kosan, buat mengambil uang ganti. Karena kemarin aku tak ada baju buat keluar membeli pulsa. Malah dia yang membelikanku pulsa. Tak lama kemudian, ia datang ke kosan. Tapi hanya masuk ke kamar Neng Titin, tidak masuk ke kamarku. Kamarku dengan kamar Neng Titin bersebelahan.

Tapi sebentar kemudian dia muncul berdiri di pintu, memaksaku minta fotoku. Aku bukan tak mau memberinya tapi aku menginginkan dia supaya duduk dulu sebentar. Kubilang gak sopan kalau bertamu tanpa masuk dulu. Kubilang jangan kesini lagi kalau tak mau masuk. Akhirnya dia pulang dengan muka ketus. Aku panggil berulang kali, ia tak menyahutnya. Begitu saja marah.

Namun tak lama dia mengirim sms ke Neng Titin yang katanya minta maaf tadi gak mau duduk dulu di kamar Neng Titin. Ia bilang minta maaf tadi gak duduk dulu karena sedang haid. Kalau duduk suka banyak darah keluar. Mungkin tadi malu kalau bilang padaku bahwa ia lagi haid. Maklum aku lelaki. Buatku aku bisa memahami kodrat wanita. Akupun ingin tahu dan ikut merasakan sakitnya wanita kalau sedang datang haid. Apalagi kalau haid pertama kali. Banget sakitnya. Kata orang-orang perempuan.

Neng Titin mengajakku makan Pecel dan Karedok. Setelah sekian tahun, baru kali ini bisa makan Karedok dan Pecel. Menurutku ia makanan enak dan bergizi. Soalnya dari sayur-sayuran jadi cocok buat vegetarian. Murah lagi harganya. Selama aku di Bandung aku belum menemukan Pecel dan Karedok. Mungkin karena aku tak sempat mencarinya. Bila dengan perempuan segala makanan ingin dicoba dan dibeli.

Tinggal seatap dengan Neng Titin selalu ingin segalanya dibeli. Membeli buah lengkeng, jeruk, sate dan aneka jenis makanan lainnya. Memang terasa sih menyehatkan bila sering makan dan mengkonsumsi buah-buahan. Sebulan lebih tinggal di Tasik terasa ada perubahan pada badanku. Aku jadi agak putih dan sedikit gemuk. Neng Titin menyarankan aku pakai tomat untuk mengobati jerawat. Setiap malam aku selalu memakai masker tomat. Tapi kalau tiap malam risih juga dibuatnya. Suka ada rasa malas kalau sudah kantuk. Mau mencuci muka saja kadang malas ketika mau tidur.

Memang memerlukan pengorbanan biar jerawatku gak parah-parah amat. Mesti membiasakan diri mencuci muka dan pakai masket tomat. Dulu aku cuek saja dengan soal jerawat. Aku ingn lebih memperhatikan nalar intelektual. Tak ingin mempersoalkan penampilan. Tapi sekarang jadi lain, seperti kembali ke SMU yang selalu ingin memperhatikan penampilan. Sebuah prinsip ternyata bisa berubah meskipun memang perlu waktu lama. Hanya ketika aku bercermin ada yang sangat berubah adalah badanku yang sekarang bisa gemuk. Itu sangat terasa, yang asalnya melihat mukaku tirus, tapi sekarang pipiku sedikit tembem, berisi. Ada yang mungkin karena segalanya tersalurkan dan ada yang perhatian lebih? Mungkin begitu kalau aku nanti menikah.

Hari ini aku baru bisa datang ke kantor Askes. Aku harus segera menuntaskan pengerjaan laporan. Pipih baru hari ini bisa membantu mengerjakan laporan. Sedang fokusnya berpikir bagaimana menyusun sistematika laporan, aku dikagetkan dengan kedatangan Neng Titin dan Pipih. Aku menyuruh mereka meminta data-data ke Ibu Ririn dan Pak Soleh. Aku sendiri malas untuk menanyakannya. Itung-itung pembagian tugas. Aku ingin konsentrasi menuangkannya dalam tulisan. Tapi sebelum adzan Duhur perutku sudah miscal. Aku harus segera mengisi bahan bakar dulu. Supaya tenagaku bisa pulih kembali. Duh, tidak ada yang bawa tustel lagi. Tak ada pengabadian kenangan kami mengerjakan laporan. Aku harus memback-up foto-foto sewaktu di Manonjaya dan Wisata ke Jakarta.

Masalah lain dengan laporan, kami harus punya flasdisk buat menyimpan data. Kalau patungan buat membeli flasdisk apa teman-temanku mau. Sudah kukatakan sejak dulu waktu Ibu Ida memberi uang masing-masing limapuluhribu, aku mengusulkan jangan dibagikan dulu, buat nanti menyusun laporan. Eh mata Liza sudah terbelalak ingin segera menerima uang. Dia bilang itung-itung sebagai gaji pertama. Dia sampai bilang ke cowoknnya mau diberikan semuanya ke mamanya sebagai gaji pertama. Akh, dia perempuan manja.

Ya Allah, kenapa aku begini membenci dia. Aku sedang enek padanya. Dia sudah tanpa ampun padaku harus segera membayar uang foto. Kalau pun aku sudah punya uang pasti segera kubayar. Sekarang aku lagi defisit, ini terus-terusan ditagih. Memang tingkah orang kaya terkadang menyakiti orang miskin. Sekarang aku jadi tahu karakter Liza yang sebenarnya. Dia sering dibilang sombong dan sering bahan pembicaraan teman-temannya karena soal kejelekannya. Ia dianggap sangat perhitungan apalagi soal menyangkut uang. Katanya dia terlalu apik. Pelit kalau diminta pertolongan.

Tapi begitulah sekelumit kejelekannya disamping kelebihan dan kebaikannya. Bagaimanapun juga ia telah berbuat baik padaku. Dia adalah temanku. Sebagai teman aku ingin memberi masukan buat dia supaya yang dibicarakan oleh teman-temannya bukan lagi kejelekannya. Tapi bagaimana supaya bisa dikenang sebagai teman yang baik. Jangan sampai air susu sebelanga menimpa pada kebaikannya yang lebih.

Dia mempunyai karakter seperti itu, tidak lepas dari lingkungan yang membentuknya. Terutama oleh mamanya yang terlalu memanjakannya. Maklum anak tunggal. Sekarang hubunganku dengannya jadi renggang gara-gara aku dibaut kesal ditagih terus supaya membayar uang foto. Aku jadi mencuekannya kalau bertemu dia. Bagaimana aku tidak kesal dibuatnya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori