Oleh: Kyan | 24/08/2006

Dalam Buai Kecupan Malam

Kamis, 24 Agustus 2006

Dalam Buai Kecupan Malam

**

Dalam keriuhan aktivitas kerja karyawan PT. Askes, aku susah untuk konsentrasi dan menuangkan ide-ide gagasanku. Dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore, aku hanya bisa menuangkan sebuah tulisan sebanyak dua lembar. Begitu susahnya membuat BAB Pendahuluan. Sampai Duhur pun tak sempat makan. Aku baru bisa makan sehabis salat Ashar.

Kalau mengerjakan tugas suka lupa pada segalanya. Lagian aku malas ke kosan. Soalnya Neng Titin sedang marah padaku. Karena aku tak menjawab pertanyaannya. Aku lagi pusing mikirin tugas, ini bertanya ini dan itu. Jadi esmosiku meluap-luap. Sungguh perangaiku gampang emosi dan tersinggung. Selalu ingin marah. Tapi lebih banyak tak termuntahkan dengan kemarahanku.

Aku masih fokus pada tugas. Ingin segera menyelesaikan tugas laporan tapi susah untuk membuat sistematikanya. Karena konsep awal bukan aku yang menyusunnya. Tapi Dian yang sudah lebih dulu pulang ke Bandung. Kalau melanjutkan proyek orang, bila tak paham harus dibaca dan dikerjakan dulu sendirian. Dan lebih baik menyelesaikannya dilakukan sendiri pula.

Tapi dimana bangunan kerjasamanya. Dalam waktu yang terbatas, tugas harus segera selesai. Jadi lebih baik mengerjakannya sendiri. Keinginan teman-teman membikin bertambah pusing. Mau dilanjutkan malam hari, para pegawai Askes sedang sibuk latihan Dance. Aku tak ingin mengganggu dan mereka pun tak ingin diganggu. Aku malah menonton mereka yang sedang latihan.

Tidak tahu apakah Neng Titin masih kesal padaku. Dia bilang padaku Yenyen minta dijemput di depan kantor Askes. Katanya mau menginap ikut di kosan Kebon Tiwu. Dia memberikan kunci kamar, dan aku melengos keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang menonton latihan Dance. Kutunggu dia barulah muncul dia turun dari angkot. Dia bertanya mana Teh Neng, kujawab lagi di dalam. Kami berjalan menuju kosan supaya tidur saja duluan di kosan. Karena aku dan Neng Titin rencananya mau mengerjakan tugas di kantor Askes. Sampai di kamar kosan, ia langsung tergeletak saja merebahkan diri di kasur. Mungkin pasrah karena kecapean.

Aku duduk saja di sampingnya. Ia hanya diam. Diantara kami hanya saling berpagut diam. Dia pun merubah posisi menjadi tengkurap. Aku cuma bisa memberikan sentuhan lembut pada rambutnya yang panjang tergerai lurus. Kupuji rambutnya yang hitam dan halus itu. Ia hanya diam saja. Tapi aku tak berani macam-macam. Aku masih punya iman, meski kesempatan besar untuk membuat perempuan tak berdaya. Sebagai bukti aku sayang padanya, aku harus menghargai kehormatan dirinya.

Kusuruh dia tidur saja dan mau ditinggal dulu sebentar mau ke kantor Askes. Begitu aku cengkat dia menarik tanganku. Dan terjadilah dalam dekap malam. “aku, takut ditinggal disini sendirian,” dengan manja ia membisik. “Hanya sebentar saja kok ke kantor untuk menyelesaikan tugas”, kuyakinkan dia dan aku bergegas cengkat dari ranjang. Sampailah aku di kantor. Aku dan Neng Titin cuma bengong melihat karyawan Askes yang sedang latihan Dance. Mengerjakan tugas gak bisa konsentrasi.

Karena tak memungkinkan untuk mengerjakan, akhirnya aku dan Neng Titin pulang ke kosan. Daripada bengong di kosan, Neng Titin mengajakku dan Yenyen jalan-jalan ke Pancasila. Neng Titin mau traktir makan bakso mas Kiman di Pancasila. Soalnya katanya Neng Titin baru dapat uang dari bapaknya. Memang sungguh dia sangat baik tidak hanya padaku, tapi pada siapa saja.

Berbicara tentang kebaikan dia, jadi teringat ketika aku dan dia mengerjakan tugas BMT. Terkesan ketika pertama kali kami jalan bareng ke Daarut Tauhiid. Setiap pengemis dan pengamen yang dijumpainya pastinya dia memberikan uang. Memang ia sungguh dermawan. Bila kubandingkan dengan Neng Liza sangat jauh. Ibarat langit dan bumi. Sangat berbeda 180 derajat.

Sekarang aku jadi tahu Liza itu baagimana orangnya. Sedikit ada benarnya seperti yang dikatakan teman-teman kampus. Bagaimana aku tidak kesal, saban hari selalu menagih bayar foto. Sudah tahu aku gak punya uang. Aku sebenarnya bukan tak punya, tapi antisipasi buat sebulan. Lagian awalnya aku tak ingin ikut difoto. Sejak awal dijanjikan hanya membayar enamribu, sekarang harus membayar limabelasribu. Itu kan melenceng dari kesepakatan. Pemborosan hanya demi kesenangan.

Memang kusadari ternyata tarifnya mahal. Resiko harus ditanggung bersama. Suruh siapa mengajak-ajak banyak orang. Neng Titin dan Pipih sudah pada membayar. Karena memang mereka punya uang. Aku sedang tidak punya uang. Liza saking ngototnya sampai-sampai menagih ke Neng Titin. Katanya dibayarin dulu akhirnya oleh Neng Titin, tanpa sepengetahuanku. Sungguh kebaikan Neng Titin tak akan terbalaskan olehku. Liza begitu teganya sampai begitu padaku. Orang pelit harus dipelitin lagi. Buat apa kaya tapi sisa pelit pada orang lain. Aku ingin kaya, tapi kaya sebagai sisa berbagi dengan orang lain.

Jalan-jalan malam kami cukup sampai di kedai Bakso Mas Kiman. Pulanglah kami menuju kosan. Di kosan berbagi-bagi cerita sampai jam sudah menunjukkan angka sebelas malam. Meski sudah makan bakso di Mas Kiman jam sebelas malah sudah lapar lagi. Neng Titin menyuruhku mencari makanan ke luar. Begitu aku hendak keluar, sang gadis Niskala malah ingin ikut menemaniku. Neng Titin membolehkan dia ikut denganku dan dia katanya menunggu saja di kosan.

Berdua menyusuri gang demi gang mencari-cari warung yang barangkali jami sebelas lebih masih buka. Warung yang dekat kosan sudah pada tutup dan terpaksa lebih jauh lagi kami mencari. Tiba-tiba handphone berbunyi. Ada sms dari Neng Titin, “Awas, jangan berlebihan ya! Yenyen masih lugu.” Dia mengingatkanku untuk tidak berlebihan memperlakukan dia. Ya, aku harus tahu diri harus menjaga kehormatan perempuan. Harus mampu menahan gejolak hasrat yang dalam satu kesempatan bisa lolos dari jeratan.

Sungguh nuansa malam begitu indah dalam remang malam cahaya bulan. Di tengah-tengah berjalan bergandengan aku berhenti. “Dek, lihat tuh bintang. Indah ya..,” sambil aku menunjuk langit. “Mana, tak ada,” dia terus melongok menatap langit. “Barusan muncul, masa aku salah lihat. Mungkin bintangnya sudah jatuh,” bisikku. “Jatuh kemana?,” sergahnya. “Ke dalam hatimu..” sambil cengengesan aku berlari. Tuh lihat, kemilaunya tertutupi kabut.”

Dia yang tadi melongo menengadah mencari bintang bergegas mengejarku. Kutunggu dia dan merangkulku dari belakang. “Ah Aa, bisa saja godain perempuan.” Dalam suasana hening, lalu… Dengan manjanya ia minta digendong, karena mungkin lelah berjalan kaki terus. Aku pun jongkok dan kupersilakan merengkuh pundakku. Begitu aku berdiri dia malah tak mau. kamipun pulang penuh keceriaan menikmati senyapnya malam. Jam duabelas kami masih berkeliaran.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori