Oleh: Kyan | 25/08/2006

Menikmati Kehangatan Kue Serabi

Jum’at, 25 Agustus 2006

Menikmati Kehangatan Kue Serabi

**

Pagi-pagi sekali Neng Titin menyuruhku mencari sarapan. Karena pagi begitu dinginnya, ingin dicarikan yang hangat-hangat. Ia bilang di depan ada yang jualan kue serabi. Niskala ingin ikut juga menemaniku. Kuingat kejadian semalam kami menyusuri lorong gang yang sama. Sampalah kami di lokasi tempat kutemukannya orang berjualan kue serabi. Seorang nenek yang usianya mungkin sudah enampuluhan yang ditemani mungkin itu anaknya atau cucunya.

Tidak yakin aku dengan sang nenek. Apakah ia sejak pagi sekali ia berjualan demi sesuap makan. Dari segi dandanan sang nenek, ia seperti bukan orang melarat. Mungkin beliau hanya menikmati kebiasaannya sehari-hari berjualan serabi, yang anak-anaknya tidak dapat melarang untuk berjualan lagi. Karena ia mungkin dari berjualan dapat memperoleh ekstase-nya sendiri. Ia ingin membagi rasa pada orang-orang untuk mencicipi serabinya.

Disana kami menunggu cukup lama. Karena begitu kami sampai, mereka baru saja menggelar lapak dan memulai masak kue serabi. Kami duduk di kursi glodogan sambil menghirup wangi kue serabi. Karena pagi begitu dingin, kupeluk saja Niskala untuk sedikit menghangatkan badan. Toh mungkin sang nenek menyangkanya kami ini suami istri. Tidak tahu pula kenapa aku sekarang berani seperti itu. Mungkin karena kutub positif dan negatif bertemu, akhirnya menjadi lengket saat hawa pagi menggigilkan badan.

Kami pulang membawa beberapa kue serabi hangat. Nella—namaku untuk Neng Titin—sedang berkemas-kemas. Katanya sudah mau dijemput tunangannya pulang membawa barang-barang. Hanya barang-barangnya saja diantarkan sampai dekat kantor Askes. Dia bilang pulangnya mau besok. Katanya kasihan padaku tidak ada yang menemani. Biasanya aku ingin ditemani, tapi tak ingin diganggu ketika menyusun laporan. Hanya ditungguin dengan bengong saja mauku.

Hari ini mengerjakan tugas sampai jam malam lebih. Jadinya setiap malam bergadang terus. Tadinya hari ini adalah hari terakhir magang. Rencananya kami yang magang mau pamitan sekarang, tapi tugas menyusun laporan belum selesai. Kalau dibawa ke Bandung, seperti yang dibilang Veri, nanti makin malas dan untuk mendapatkan data pasti susah. Masa harus fotokopi data semuanya. Sementara aku sudah tak punya uang. Kemarin aku sudah dua kali yang membeli disket dan yang menyusun laporan aku juga. Mengandalkan teman-teman malah bikin tambah runyam. Setiap orang mempunyai keinginan berbeda-beda. Memang itu bagus sebagai tanda eksistensi diri bahwa ia ada.

Tapi sering dianggap itu sikap egois. Kata ini dimasukkan sebagai kosakata negatif. Padahal ego ada sebagai bukti eksisensi. Bukankah kita harus memiliki ego yang teguh pendirian. Tapi memang sisi lain ia harus bisa meleburkan ego dirinya ke dalam ego yang lebih besar. Namanya bisa disebut ego kebenaran. Bersikap egois ketika kita mempertahankan dan memperjuangkan kebenaran. Meskipun ada yang bilang bahwa kebenaran itu relatif, tapi ada anggukan universal dimana semua orang telah bersepakat tentang hal itu.

Akhirnya kami tak jadi pamitan hari ini. Kenapa juga menyusun laporannya tidak sejak awal magang. Memang dikerjakan sejak awal, tapi buntu saja ketika ingin menuangkannya. Biasanya kalau sudah mepet, baru bisa muncul ide-ide. Ketika mepet pasti berpikir lebih serius dan pasrah. Namanya pasrah berarti ketundukkan hanya pada Tuhan. Itulah sikap tauhid. Tidak menuhankan kekuatan lain, selain Tuhan.

Sudah menjadi premis bahwa dalam kondisi kritis selalu ada jalan penyelesaian. Mungkin karena sugestinya begitu. Karena dalam kondisi kritis, semesta akan mendukung. Bergoyangnya kesana-kemari dalam bandul ketidakpastian. Tapi akhirnya akan mencapai titik kesetimbangan bernama takdir.

Nella mau lebih dahulu berangkat sendirian ke kantor. Sementara Niskala masih mandi dan berkemas-kemas berangkat sekolah. Aku menghampirinya saat dia sudah siap berangkat. Duh kehidupan fatamorgana dunia. Hari ini aku mempunyai kenangan indah dalam hidupku. Dapat merasakan kecupan manis saat pagi menyala-nyala. Dia sudah dua malam tidur di kosan Nella. Rasa-rasanya seperti baru kali ini aku merasa disukai oleh seseorang perempuan. Pertemuan menuju mesra dan hampir setiap hari menjalani saat-saat terindah dengannya.

Dia memiliki memiliki kelebihan lain dibanding perempuan lain yang kutemui selama ini. Desir-desir kecup mesra seperti telah membawaku mengalami hembusan hawa surga. Aku memang sayang padanya. Tapi sudahkah aku memilikinya. Tapi kenapa muncul perasaan lain, seperti ada satu kebingungan. Kenapa aku merasa belum melihatnya ia sosok perempuan yang ideal bagiku. Lantas perempuan ideal bagiku seperti apa ukurannya belumlah jelas pula. Mungkin karena aku menganggap Niskala usianya masih belia, masih SMA. Tapi meski masih SMA sudah menampakkan kedewasaannya padaku.

Setiap perempuan pasti akan memiliki kelebihan di satu sisi, tapi ada kelemahannya di sisi lain. Mungkin aku terlalu mengharapkan yang begitu sempurna. Sesempurna yang ada dalam bayanganku, sesempurna khayalan tingkat tinggiku. Mungkin itulah yang kuharapkan memilih satu perempuan. Aku belum menemukan yang sesuai dengan detak hatiku. Tapi pasti akan menemukan dirimu, sayang. Oh angin, sampaikan salam kerinduanku padanya. Dan kecuplah bibirnya untukku. Bila itu adalah dirimu atau dirinya, berikan aku keyakinan.

Pagi-pagi aku segera mandi karena ingin segera ke kantor Askes untuk menyelesaikan laporan. Aku merasa mempunyai beban moral jika tak mampu menyelesaikan tugas itu. Karena menyusun laporan masih belum selesai, pamitan dan berterima kasih ke Askes pun direncanakan mau hari Senin. Neng Titin tak mau lebih lama lagi di kosan. Ia ingin segera pulang terutama katanya disuruh mengaji di acara rumahnya.

Dia memang sudah dikenal memiliki suara bagus, terutama kalau menyanyi dangdut dia lebih jago. Di UPTQ saja dia masuk tim Nasyid Hikari. Kuingat ketika acara OPM orang-orang pada heboh ketika dia bernyanyi dengan iringan petikan guitar Sani Ahmad. Tapi sayang saat itu aku sedang tidak disana, hanya mendengar dari perbincangan teman-teman. Tapi kalau kami sedang menempuh berjalan kaki, sesekali dia sering bernyanyi dengan cengkok dangdut. Benarlah ia memiliki suara bagus. Tapi aku belum pernah mendengar ia membaca Alquran qiraat.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori