Oleh: Kyan | 26/08/2006

Jalan Menuju Gumam Cinta

Sabtu, 26 Agustus 2006

 Jalan Menuju Gumam Cinta

**

Hari ini aku sudah janji mau main ke rumah Niskala. Pagi-pagi aku segera mandi karena ingin segera ke kantor askes untuk menyelesaikan laporan. Karyawan Askes hari Sabtu libur. Di kantor hanya ada penjaga. Jadi kami tetap dibolehkan menggunakan komputer kantor untuk menyelesaikan tugas laporan. Di pundakku menanggung beban moral jika tak mampu menyelesaikan tugas magang.

Sebelum ke kantor Askes aku disuruh membeli bubur ayam dulu. Buatku dan Neng Titin. Uangnya dari Neng Titin. Memang dia sangat baik padaku. Selesai makan bubur aku langsung berangkat ke Askes. Neng Titin menyusul ke kantor jam untuk berkemas-kemas hendak pulang ke Manonjaya. Memang ia sudah habis masa kontrakannya sejak kemarin. Tapi meminta kepada ibu kosan beberapa hari boleh menginap dulu untuk menyusun laporan magang yang belum kelar. Karena tugas belum selesai membuatnya ia tertahan tidak pulang dulu. Dia memiliki rasa tanggung jawab pada tugas laporan.

Jam sepuluh lebih dia mengirim sms padaku. Katanya sudah ada di depan memintaku diantar ke Pancasila. Begitu aku keluar dari kantor, kulihat dia membawa tas yang penuh isinya. Katanya mau naik angkot saja ke Manonjaya. Ketika kami lagi jalan di sekitar terminal, tiba-tiba ada motor menghampiri kami. Ia memakai pakaian sekolah SMA. Ternyata ia saudaranya Neng Titin yang sama-sama mau pulang ke Manonjaya. Kebetulan, apakah benar-benar sebuah kebetulan? akhirnya dia pulang nebeng pada saudaranya.

Aku segara balik dulu ke kosan. Setelah sampai di kamar, tergeletaklah secarik kertas yang dilipat. Ternyata tulisan Neng Titin buatku. Isinya ia meminta maaf atas semua kekhilafannya dan selalu menasihatiku segala hal. Terima kasih ya Neng!

Darinya aku menjadi tahu kekuranganku bahwa selama ini aku egois. Terutama kalau jalan bareng katanya jangan ninggalin perempuan di belakang. Memang aku terbiasa berjalan cepat, seperti orang penuh disiplin. Ia memberi nasihat sering-seringlah salat Tahajud dan hindari tidur setelah subuh. Tapi yang lebih penting lagi ia mengingatkan aku bahwa aku jangan pernah berniat jadi buaya darat yang begitu gampangnya mempermainkan perempuan.

Ya, mungkin bahkan semua orang, lelaki manapun tak pernah berniat ingin jadi buaya darat atau menduakan seseorang. Tapi karena ada kesempatan dan tak tahu bagaimana penyelesaiannya, sehingga dengan kondisi itu menjerumuskannya pada kondisi yang kata orang disebut buaya darat atau poligami.

Mungkin bukan maksud ingin menjadi buaya,  tapi dalam rangka seleksi untuk mendapatkan yang terbaik. Berhubungan dengan banyak perempuan agar menjadi tahu mana yang terbaik. Melalui penjajakan buat menemukan kelemahan dan kekurangan masing-masing sehingga akhirnya saling melengkapi.

Mengerjakan tugas belum selesai juga. Terpaksa kukerjakan sampai Asar saja. Karena sudah janji mau berangkat ke rumah Niskala. Berangkat aku naik angkot Cigeureung sambil mengingat-ingat tempat turun dari angkot menuju rumahnya. Aku masih ingat dan yakin sudah benar jalurnya.

Setelah beberapa meter dari kerumunan rumah orang-orang, aku sms dia tapi tak ada jawaban. Menjadi bingunglah aku. Tadinya aku mau balik lagi, tak jadi saja ke rumah dia. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya ke orang disana. Mereka tahu rupanya dan kutemukan juga akhirnya tempat tinggalnya. Aku diterima ramah oleh Uwa-nya laki-laki yang usianya sekitar empatpuluhan. Aku mendapat banyak ilmu dari Uwa-nya. Aku merasa Uwa dia sangat menerimaku dengan baik dan ramah.

Ketika kami sedang berbincang-bincang, datang teman Uwa-nya laki-laki yang usianya sebaya dengan Uwa Niskala. Kamipun bercengkrama bertiga. Dan tak lama kemudian juga Uwa-nya yang perempuan datang. Katanya ia baru pulang dari Bandung, dari Panyileukan menengok anaknya. Bercengkrama kami berempat. Ia bertanya padaku dari mana asalnya. Kujawab saja aku dari Cikatomas, dari Tawang. Ia bertanya lagi Tawang-nya dimana. Kujawab dari Citamiang. Rupanya dia tahu Haji Muslihin, kiyai di kampungku.

Bahkan dia pun tahu asal-usulku, kakek nenekku. Lalu Uwa yang perempuan berkomentar: Oh ternyata orang Turki juga—Turunan  Kidul. Wilayah Cikatomas dan Pancatengah kan termasuk daerah Pakidulan, selatan. Dataran Pakidulan, termasuk keempat dari empat dataran di pulau Jawa bagian Barat.

Tadinya aku dan Niskala mau main ke sawah. Mau main layang-layangan ceritanya. Tapi keburu adzan Maghrib tiba. Akupun salat di kamarnya. Selesai salat aku melihat-lihat kamarnya. Dipajang ada beberapa foto. Memang tak ada foto laki-laki disana. Mungkin akulah lelaki pertama yang masuk ke kamarnya. Kuamati setiap jengkal ruangannya, mulai dari kasurnya, dinding kamarnya, hiasannya dan pakaian yang bergantung di pintu.

Sesudah puas menikmati suasana kamarnya, akupun keluar dari kamar. Kuamati hiasa di pintu kamarnya. Tertulis nama Yenyen Yena, owh itu nama panjangnya. Dia kelahiran tahun ’89. Ia masuk kamar menunaikan salat dan terdengar ia mengaji sebentar. Sudah jam tujuh, aku pun pamitan dengan diantar oleh dia dan Uwa-nya yang perempuan. Melalui jalan lain rupanya kami diantarkan, bukan jalan yang aku lewati tadi. Melewati gedung sekolah, area pekuburan, dan barulah sampai di pinggiran jalan raya. Mereka cukup jauh mengantarku. Semoga saja aku masih mengingat jalan menuju kesana.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori