Oleh: Kyan | 27/08/2006

Gembira Terlipat Marah Memuncak

Ahad, 27 Agustus 2006

Gembira Terlipat Marah Memuncak

**

Pagi-pagi aku sudah mandi dan langsung segera menuju kantor Askes. Mau mengerjakan dengan lebih giat lagi supaya cepat selesai mengerjakan tugas laporan magang. Ku kirim sms pada Niskala, katanya dia sedang mengeringkan rambutnya dulu. Ia mau ke kantor Askes untuk menemeniku di kantor.

Setiap hari aku ke kantor Askes untuk terus mengerjakan tugas magang. Ketika aku sedang dalam keasyikan berpikir merangkai kalimat yang kuketik pada papan ketik, tiba-tiba ada tangan lembut yang menutup kedua mataku. Ia mendekapku dari belakang begitu erat dan mesra. Hawa sejuk meremas helaian rambutku, menyusup sampai di pori-pori jantungku. Menghujani denyut nadiku, membawa rasa senang dan tenang. Sang kekasih yang kurindu telah datang berkunjung di pusara hatiku.

Di kantor yang luas, satpam berada di ruang depan sambil menonton TV. Sementara kami di ruangan yang terpisah oleh satu ruang. Sehingga memiliki sedikit kebebasan meramu kemesraan. Aku sibuk berpikir merangkai kalimat demi kalimat yang sesekali dia menggangguku. Mungkin karena dia pun bosan menggangguku, dia menyalakan satu komputer bermain game.

Melihat keasyikan dia bermain game, kubalik ganggu dia. Kukagetkan dia menutup matanya sebagaimana ia perlakukan tadi padaku. Kuusap-usap lembut rambutnya dan kucium rambutnya yang dibiarkan tergerai. Entah mungkin takut terjadi sesuatu, ia melepaskan pelukanku. Ia bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.

Aku minta padanya supaya diantar ke Tasik Indah Plaza. Ia bilang tidak ada apa-apa di TIP. Tapi aku penasaran saja satu bulan lebih tinggal di kota Tasik masa tidak sempat mampir ke TIP. Kujanjikan selepas Duhur kami berangkat kesana. Ternyata sampai disana, kupikir TIP itu sejenis Mall. Tapi hanya bangunan ruko yang berjejer. Mirip Metro Trade Center kalau di Bandung, hanya berukuran kecil. Kami susuri ruko demi ruko yang lebih banyaknya pajangan fashion.

Hanya sebentar menyusuri TIP, selebihnya duduk-duduk saja. Hanya bercanda-candaa seperti anak ABG yang sedang kasmaran. Menyeberang dan menunggu angkot pulang. Sudah puluhan mungkin angkot yang lewat, tidak kami cegat. Kami masih asyik bercanda dan bermesraan. Seperti kami tidak ingin terpisahkan yang padahal hari ini mungkin adalah hari perpisahan. Tempat terakhir kami bertemu yang entah suatu saat akan bertemu lagi atau tidak.

Mungkin dia menyadari itu adalah hari terakhir bertemu. Ia terus bergelayutan, mengusap-usap kedua pipiku, memain-mainkan kumis dan jenggotku. Seperti ingin semua disentuh dan dirabanya untuk dapat memberikan penanda suatu kenangan. Diperlakukan begitu akupun diam dalam hati yang belum sepenuhnya yakin bahwa dia mencintaiku. Sentuhan fisik memang itu maunya lelaki, sehingga menjadi tertumpahkan gejolak hasratnya. Tapi mungkin perjalan hati masih memerlukan cukup waktu.

Setelah jam lima kami pun pulang. Kuanterkan dia sampai ia turun di persimpangan jalan menuju tempat tinggalnya. Aku tidak ikut turun karena di kosan harus segera berkemas-kemas besok mau pulang. Sampai di kosan kukemasi barang-barang dan pamitan pada ibu kosan. Tak lupa ke A’ Helmi, penghuni kamar sebelah. Pada mereka aku meminta maaf karena bisa dipastikan aku banyak melakukan kekhilafan. Rencana malam ini aku menginap di rumah Veri. Dia mau menjemputku ke kosan karena tahu sudah habis masa kontrak kosanku full selama sebulan.

Selepas Maghrib Veri datang menjemputku. Di mengambil rute arah berlawanan angkot Cigeureung, melewati persimpangan tempat turunnya Niskala menuju rumahnya. Namun tiba-tiba aku melihat satu pengalaman yang sungguh mengagetkanku. Siangnya kutemukan kesenangan, keceriaan dan kebahagiaan bersamanya, namun malamnya, malam ini menjadi hancur berantakan. Saat kami melewati daerah tidak jauh dari persimpangan dekat rumahnya, kulihat perempuan yang entah dia atau mirip dia sedang berjalan dengan seorang lelaki. Ia mengenakan kaos hijau dimana aku pernah melihat Niskala memakai baju itu.

Memang tempatnya tidak begitu jauh dari rumahnya. Apakah lelaki itu hanya teman biasa, tetangga rumahnya, ataukah lelaki yang dari Cisalak itu? Kuingat kemarin lusa saat bertandang ke rumahnya, Uwanya yang perempuan sempat bertanya padaku apakah aku teman dari Cisalak? Kujawab bukan, kami bertemu Niskala di tempat magang. Mungkinkah sebenarnya ia sudah punya seorang teman lelaki yang orang Cisalak. Jika kuhubungkan fakta itu untuk mendapat kesimpulan baru. Tapi benarkah dia yang sedang berjalan itu, tidakkah aku salat melihat.

Bisakah kemarahanku dikendalikan oleh logika percintaan? Aku ingin dan harus berpikir positif, tapi apalah daya emosiku membuncah. Melihat kejadian itu perasaan dan pikiranku tak menentu. Seolah-olah kebahagiaan dan kesenangan yang telah terbangun selama ini, tiba-tiba runtuh dan hancur berkeping-keping. Semakin tidak percaya saja aku pada perempuan.

Meski aku belum bisa melupakan sepenuhnya perempuan lain, kuakui aku amat sayang padanya.  Kupikir tadinya buat apa menunggu sesuatu yang tidak pasti. Aku sudah mulai merasakan kejemuan dalam menunggu. Tapi ingin mulai menjalin hubungan baru, kembali muncul rasa ketidakpercayaan. Meski aku berusaha berpikir bahwa jangan pernah merasakan waktu dalam menunggu. Tapi terlanjur sudah terjalin komitmen, aku harus melupakan seseorang yang selama ini kunantikan itu. Tapi saat ini mengapa harus kubangun pula perasaan puing-puing yang berserakan di atas ketidakpercayaan? Akankah kutemukan satu perempuan yang pada bibir hatinya tersimpan ketulusan dan kejujuran.

Aku pun tidak mencoba mengirim sms padanya untuk mengetahu benar tidaknya dia tadi sedang berjalan dengan seorang laki-laki. Kuingin menunggu dia sms lebih dulu. Dalam perjalanan dari Kebon Tiwu menuju rumah Veri, aku bertemu kejadian sungguh yang mengagetkanku. Sungguh membuatku tidak percaya bahwa itu adalah dia. Aku bisa memastikan bahwa dialah yang sedang berjalan berdua itu. Karena lokasinya dekat rumah dia dan dia pakai kaos hijau yang pernah dikenakannya saat aku bertandang ke rumahnya.

Selama disini, aku telah merasakan betapa cerianya diperhatikan oleh seseorang. Bahkan mungkin dicintai oleh seseorang yang semoga prasangka ini benar. Tapi apakah benar adanya, apakah dia mencintaiku. Tapi sekarang pikiranku berkecamuk tak tentu arah. Ingin kuteriakkan rasa kemarahan ini. Dari perlakuannya padaku apakah benar-benar dia mencintaiku. Tapi kenapa dia jalan dengan cowok lain. Memang aku harus berpikir positif, tapi ini jalan-jalan malam hari. Bukankah orang lain akan menuduh yang tidak-tidak. Setidaknya aku yang berprasangka begitu.

Apalagi Uwa Veri bilang pada Veri yang disampaikan padaku, yang disangkanya Niskala seperti seorang perempuan murahan dan mempermainkan laki-laki dengan begitu gampangnya. Aku tak ingin dan tak tega mendengar tuduhan itu pada seseorang yang bagaimanapun telah memberi kegembiraan padaku. Fakta apa sebagai dasar atas tuduhan itu tidaklah jelas dan aku pun tak tahu. Mungkinkah dari segi cara berpakaiannya?

Memang tak dapat disangkal karena ia sendiri yang tidak memakai kerudung dari empat anak SMKN 1 Tasikmalaya yang magang di PT. Askes. Memang orang akan menilai dari penampilan luarnya. Tapi penampilan luar tidak selalu menjamin baiknya seseorang. Bahkan kita kadang terkecoh oleh penampilan. Banyak perempuan yang penampilannya sopan, bahkan pakai kerudung atau bahkan jilbaber ternyata sering dijadikan kedok supaya dianggap perempuan baik-baik padahal dia seorang pencuri atau pelacur.

Memang itu hanya oknum, tapi ketika kita mau menilai seseorang janganlah hanya melihat penampilan luarnya saja. Lihatlah ke dalam. Buatku tak sempat dan tak ingin menilai orang lain. Diriku sendiri saja jarang dan gak sempat kunilai buat perbaikan diri. Apalagi ini menilai orang lain. Aku ingin selalu berpikir positif, tapi kurasa orang lain menilaiku sangat polos. Aku belum bisa membedakan antara kepolosan dan kejujuran. Ketika aku berbicara begini, bukankah sedang menilai orang lain juga.

Prasangkaku sekarang, kejadian tadi yang kusaksikan apakah sebuah skenario. Skenario antara Veri dan Niskala agar aku tak terlalu mengharapkan dia. Karena dia tak pernah benar-benar ingin mencintai dan menyayangiku. Mungkin selama ini hanya sebagai bentuk kesenangan semata. Aku menyimpulkan begitu, karena sebelum berangkat dari kosan di KebonTiwu, Veri mengirim sms yang entah pada siapa. Prasangkaku ya Veri mengirim sms buat Niskala, supaya ketika aku lewat jalan Cisalak, dia disuruh jalan dengan seorang cowok untuk memastikan bahwa dia sudah sebenarnya sudah punya cowok. Aku harus diyakinkan bahwa dia tak mencintaiku. Bahwa selama ini hanya main-main saja. Tapi tidakkah dengan itu bisa menimbulkan citra jelek baginya?

Prasangkaku yang lain, mungkin dia benar seorang perempuan yang cuma mempermainkan laki-laki. Asal senang saja bisa berhubungan dengan banyak laki-laki. Kejadian tadi bukan skenario, tapi suatu bukti yang membikin aku ada tanda tanya besar. Kenapa kejadian begitu saja membuatku berpikir macam-macam dan tidak-tidak. Kenapa muncul di pikiranku banyak pikiran jelek. Tak bisakah aku berpikir positif tentangnya. Setelah kemesraan yang terjalin dari hari ke hari, dia yang telah memberikan kenangan padaku yang tidak terkirakan, yang mungkin tidak akan terulangi lagi, kenapa berakhir dengan prasangka buruk padanya. Ya Allah, maafkan atas semua khilafku. Aku telah menyangka yang bukan-bukan pada orang lain.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori