Oleh: Kyan | 28/08/2006

[Niskala dan Nazifa] Diantara Lain Hati

Senin, 28 Agustus 2006

[Niskala dan Nazifa] Diantara Lain Hati

**

Hari ini aku sudah di Cibiru Bandung. Sampai di Bandung menjelang Maghrib. Aku naik bis Budiman bareng sama Pak Toni, sopir pribadi pimpinan Askes Tasikmalaya yang kebetulan bertemu di PO Budiman. Dia orang Askes yang biasa mengajak kami yang magang untuk diskusi ringan sampai yang berat. Di bus pun kami berdiskusi. Meski ia seorang sopir pribadi kepala cabang Askes, tapi wawasan dia sangat luas. Aku senang berbincang dengannya. Beliau pun sering memakai istilah-istilah ilmiah yang belum aku mengerti. Tanda aku adalah orang yang masih bodoh.

Siang hari sebelum kepulanganku, tadi kami yang magang di PT. Askes pamitan secara formal pada Bapak Hendi S. Sutawijaya, selaku kepala cabang Askes Tasikmalaya. Hal yang berkesan darinya ia seorang yang ramah dan sepertinya tidak mempersulit masalah. Dua kata yang selalu ia ungkapkan, yakni data dan informasi. Betul penelitian tidak lepas dari pencarian data dan informasi. Selepas pamitan, perasaan kami menjadi lega.

Sejak pagi ada seorang perempuan yang berulang kali menelponku. Dia yang semalam yang membuatku bertanya-tanya perempuan macam apa dia. Niskala ingin ikut ke Bandung. Di telpon dia menangis sesunggukan menginginkan aku tak jadi pergi ke Bandung. Sampai dia bilang bahwa aku adalah makhluk teregois di dunia yang tak memiliki perasaan apapun. Namun akhirnya dia minta maaf atas perkataannya. Dia sangat mencintai dan menyayangiku. Meski aku tidak tahu perasaan hati dia sebenarnya, karena itu hanya perkataan di telepon saja. Tapi kusadari dan kurasakan baru kali ini ada seseorang yang mengungkapkan perasaan itu padaku. Aku telah merasa benar-benar dicintai olehnya.

Tapi tak lama kemudian dia mengirim sms lagi, katanya Niskala mencintai sebagai kakak. Karena dia tahu bahwa aku sudah memiliki perempuan bernama Nazifa di Bandung. Mungkin dia pun merasakan perasaanku yang masih setengah hati padanya. Akupun tidak tahu kenapa hatiku memiliki perasaan lain. Kenapa aku menganggap bahwa cintaku masih belum untuknya. Apakah karena sebelumnya dan sejak awal aku sudah membangun komitmen dan ingin mencintai satu perempuan saja. Aku hanya mengharapkan satu orang yang telah lama kunanti. Meski sampai saat ini aku selalu dibuat gelisah karenanya. Meski aku tak mendapatkan kepastian dalam kemanisannya.

Kuberitahukan pada Nazifa aku sudah di kosan Cibiru. Lalu hapeku berdering ada sms balasan. Ia mau datang ke kosanku bareng teman-temannya. Mungkin sekalian memperkenalkan adik sepupunya padaku. Sekalian ada temannya yang butuh referensi Munaqasah. Entahlah kedatangannya ke kosanku, mana yang utama antara mengantar temannya yang ingin meminjam buku, memperkenalkan adiknya, atau ia ingin melepas kangen padaku. Sebulan lebih kami tidak bertemu.

Mengapa aku jadi gede rasa begini. Sampai aku bilang pada semua orang sudah bertemu dengannya. Ya, ini sebagai ungkapan kebahagiaan ketika bersamanya. Lalu ia pun pamit dan aku antar dia pulang. Sekalian aku mau ke stand Taaruf.  Di jalan tiba-tiba sandal jepit merahnya copot. Untung dalam keadaan gelap, jadi tidak membuat malu dan dilihat orang. Aku mencari-cari tali buat mengikatnya sementara supaya tali sandalnya tak lepas sampai tempat kosannya.

Omong-omong rupanya aku gembira malam ini. Melapas kepenatan perjalanan dari Tasik sampai di Cibiru lagi. Di stand MKS kongkow-kongkow sampai hampir jam duabelas malam. Akupun pulang ke kosan. Pagar kosan sudah terkunci dan aku memanjat saja pagar kosan.

Sampai di kamar aku tercenung sendiri. Aku telah meninggalkan kenangan pada satu perempuan di Tasik. Mungkinkah ia merasakan sakit karena penolakanku? Tapi apakah dia benar-benar mencintaiku? Bila benar dia mencintaiku, aku telah menyakiti hatinya. Aku sudah memberi sakit pada beberapa perempuan. Karena aku selalu mengharap pada satu cinta dan satu perempuan. Sering aku berpikir kenapa aku hanya terpaut padanya. Apa yang bisa membuatku tergila-gila dengan cintanya. Kelebihan apa yang dia miliki, sehingga aku menganggap bahwa dia satu-satunya perempuan terbaik.

Kenapa aku tak bisa berpikir logik. Sudah jelas dia tak ingin padaku. Karena aku tak memiliki apa-apa. Lantas ada perempuan gadis belia yang sudah kurasakan kasih sayangnya padaku kenapa kubiarkan. Niskala memberikan hati padaku karena alasan apa ataukah memang tidak memiliki alasan. Sementara bagi Nazifa kecakepan fisik tak menjadi ukuran baginya. Mau tak mau adalah perkara gampang baginya. Tapi harus realistis mana yang bisa memuaskan bagi kehidupannya.

Benar Aril bilang, dia lebih suka pada orang yang terjun langsung ke lapangan, daripada pada orang yang sekedar berwacana. Mungkin sampai saat ini aku baru mampu sebatas berwacana. Sedangkan sudah ada satu orang yang menginginkannya, ia sudah terjun langsung ke lapangan. Mungkin juga di pikirannya menjadi dilema untuk menentukan pilihan. Apakah aku atau dia yang ia pilih. Aku hanya konsen di kuliah dan belum terjun ke dunia riil. Sedangkan dia yang meski hanya lulusan STM, tapi sudah lama tejun ke dunia riil. Tentu dari sana ia mendapatkan ilmu. Bukankah ilmu sejati adalah didapat dari kehadiran kita berhadapan langsung dengan yang riil. Meski demikian, semoga masa depanku cerah.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori