Oleh: Kyan | 29/08/2006

Realitas Cinta dan Kerinduan

Selasa, 29 Agustus 2006

Realitas Cinta dan Kerinduan

**

Pagi-pagi aktivitasku sudah kumulai dengan mengirim sms pada seorang perempuan. Memberitahukan aku mau datang ke kosannya untuk mengambil kartu perpustakaan daerah yang tempo hari dia pinjam. Aku masih belum mau beranjak dari kamarku. Aku ingin menulis dulu tentang segala hal yang menjadi harapan dankebingungan. Pokoknya aku ingin menulis di saat pagi menjelma harapan bidadari.

Aku merasa belum bisa menulis yang benar dan enak dibaca. Belum bisa merangkai atau meruntun kata-kata yang mengalir. Kubaca novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata. Buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi. Akupun sudah membaca Laskar Pelangi. Ceritanya lucu kocak dan penuh makna. Dalam buku Sang Pemimpi ini kata-katanya sungguh puitis. Aku ingin memilikinya, tidak meminjamnya dari Dudi. Semua buku ingin kupunya. Di perpustakaan juga banyak tersedia buku-buku bagus, tapi tak puas bila membaca dengan tidak memilikinya.

Ternyata pikiran begini bukan hanya aku saja. Tapi Uly Ajnihatin bilang hal yang sama. Aku ingin lebih banyak lagi membaca. Tapi Dian bilang lebih baik sedikit saja membaca, soalnya malah memunculkan rasa semakin tidak tahu dan akhirnya bingung sendiri mana yang benar dan mana yang salah, dan mana yang lebih dahulu diaplikasikan.

Mendapat ilmu langsung dari ilham memang itu ilmu sejati. Seperti dikenal orang namanya ilmu laduni, tapi dalam literatur tasawuf itu ilmu hudhuri atau dapat juga dikategorikan ilmu irfani. Tapi Imam Khomaini pun bilang berusaha secara lahiriah adalah sebuah kemestian untuk dilakukan. Jangan berpangku tangan saja, jangan Jabariah menunggu ilmu datang dengan sendirinya.

Umat Islam kebanyakan Jabariyah, meskipun di mulutnya mengaku Asyariyah. Ini yang membuat umat tidak mengalami kemajuan signifikan. Mungkin pada saat ini yang perlu dikembangkan adalah aliran teologi Mutazilah seperti yang digagas pak Harun Nasution, seperti ketua jurusanku bilang belajarlah teologi Muktazilah. Mungkin pada masanya aliran teologi Jabariyah mungkin diperlukan, ketika geliat keagamaan dan semangat pencarian setiap muslim pada saat itu begitu menjalar.

Mengisi pagi hari, kubaca pula “40 Hadits”-nya Imam Khomaini. BAB 1 soal Jihad Nafs. Jihad dunia lahir dan batin. Dimulai dari perenungan harus bertekad karena itu sebagai tanda manusia. Daya imajinasi amarah dan syahwat harus bisa diarahkan menjadi pasukan Ilahi. Dikatakan bahwa wajah manusia ditentukan oleh karakter jiwa dan struktur batinnya. Makanya kenapa ahli ibadah sering terlihat berwajah teduh. Tak akan tampak kegarangan, meski oleh musuhnya dianggap garang. Ini berarti bila para pengusung dakwah simbolis Islam berwajah garang, bisa dipertanyakan keislamannya.

Selesai membaca dan menulis, segera bergegas mandi. Sewaktu sampai ke kosannya, dia sedang duduk termangu pada layar monitor. Katanya ia sedang menyusun proposal kerjasama. Aku sedikit berlama-lama disana. Pembicaraanku dengannya terus terpotong oleh panggilan telpon. Ia bilang dari relasi bisnisnya. Dalam diam mengamati raut mukanya, pikiranku menerawang. Dia sudah terbang jauh menginggalkanku. Rupanya ia sudah terbang jauh bagai burung gagak. Menginggalkanku yang masih merangkak bak si kura-kura.

Pembicaraannya denganku tak lepas dari dunia bisnis. Dia selalu membicarakan Pak Diyan, yang dianggap sebagai gurunya. Kupikir mungkin seperti dialah lelaki yang dia cari, yang sanggup memberi solusi ketika menghadapi berbagai masalah. Dia selalu bisa. Dan aku adalah aku. Tak bisa persis seperti dia. Aku hanya bisa menjadi diriku sendiri.

Dari kosannya, aku langsung menuju budaran Cibiru. Naik bis Damri Kalapa atau Elang—Jatinangor untuk menuju perpustakaan daerah. Aku mau mengambil kartu perpanjangan sekalian mencari-cari referensi pesanan dia. Ia meminta dipinjamkan buku yang diperlukan buat temannya yang Rabu besok mau Munaqasah.

Setahun lagi aku pun akan sidang tugas akhir. Aku harus membuat agenda yang jelas di semester lima ini. Aku harus sering membuka-buka contoh laporan penelitian di Bapusda. Aku harus menyempatkan waktu buat ke sana. Membaca buku-buku umum yang tidak berhubungan dengan jurusan mesti dikurangi. Eh pulang dari perpustakaan malah kupinjam buku: Pemerintahan Tuhan, Senja di Nusantara, dan Jombang-Kairo.

Mampir ke stand MKS. Kangen-kangenan dengan seorang adik kelasku yang sering manja di hadapanku. Sinta Fujianti. Meski ini rindu yang tertahan, tapi kuakui aku sangat sayang padanya. Dalam hatiku sudah dipenuhi dengan sejuta pengharapan untuk seorang perempuan. Aku selalu rindu padanya. Aku sangat sayang padanya. Tapi dalam hatiku sudah dipenuhi dengan sejuta pengharapan untuk sayap-sayap malamku. Hanya karena satu perempuan aku telah menyakiti satu dua tiga perempuan.

Mungkin aku telah menyakiti satu dua tiga perempuan. Karena aku selalu mengharap pada satu cinta dan satu perempuan. Sering aku berpikir kenapa aku hanya berpaut padanya. Ada hal apa pada dirinya sehingga membuatku tergila-gila untuk mengharap cintanya. Kelebihan apa yang dia miliki, sehingga aku menganggap bahwa dia satu-satunya perempuan terbaik diantara perempuan baik-baik.

Kenapa aku tidak bisa berpikir logic. Sudah jelas dia tak ingin padaku, aku masih ngeyel mengiba rindu. Bukankah aku tak memiliki apa-apa yang bisa membikin ia terpana. Kecakepan fisik tak menjadi ukuran baginya. Ia bilang soal mau tak mau adalah perkara gampang baginya. Tapi dia ingin hidup realistis. Hanya itu yang bisa memuaskan bagi hidupnya. Bagaimanakah ini kutinggalkan?[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori