Oleh: Kyan | 31/08/2006

Masih Terpaut Pada Satu Cinta

Kamis, 31 Agustus 2006

Masih Terpaut Pada Satu Cinta

**

Pagi hari aku telah bersiap-siap berangkat ke jalan Gatot Subroto. Asun bilang disana ada gerai Siemens. Tapi setelah kususuri dengan angkot dan berjalan kaki, tak kutemukan gedung kantornya. Aku kesal saja dibuatnya. Mumpung aku kesana sekalian kuputuskan diteruskan main ke Palasari. Di BBC kubeli tafsir Fi Zhilal Alquran jilid enambelas. Melihat-lihat buku, banyak sekali buku yang ingin kubeli. Tapi tak kupunya uang banyak. Daripada uang habis buat membeli pulsa untuk menelepon perempuan, lebih baik uangnya kugunakan untuk membeli buku.

Uangku tertinggal empatpuluh ribu. Ini sudah dibelikan buku tafsir seharga duapuluh tujuhribu. Kuyakinkan saja ini buat kebaikan mencari ilmu. Aku ingin rutin lagi sehabis menunaikan salat Maghrib bisa membaca Alquran dan tafsirnya. Sedikit daripada tidak sama sekali.

Benar saja dengan anugerah Allah, sewaktu di BBC aku menerima telepon dari pak Anton Athoillah, ketu ajurusanku. Beliau bilang kenapa beasiswa belum diambil. Karena aku harus tahu informasinya. Setiap beliau bilang sesuatu, pasti harus segera dilaksanakan tanpa ditunda-tunda. Alhamdulillah, aku bakal menerima beasiswa Supersemar lagi. Dipikir-pikir aku sejak SD, lalu SMP, dan SMU pernah menerima beasiswa dari Supersemar. Selama aku menempuh pendidikan dalam setiap jenjangnya mendapatkan bantuan dari Supersemar milik Pak Harto itu. Terlepas beliau dicap KKN, kepada Bapak Soeharto pemimpin yayasan Supersemar, aku mesti berterima kasih pada beliau.

Jalan-jalanku ingin diteruskan ke BEC. Karena maksudku jalan-jalan hari ini ingin menemukan gerai Siemens. Sampai disana langsung kucari-cari gerai dengan bertanya ke Satpam.  Ditemukanlah gerai Siemens dan kulihat disana banyak orang. Ternyata tidak aku saja yang imempunya keluhan mesin handphone Siemens. Sekarang mulai ragu aku pada produk Siemens. Ini baru saja dua bulan lebih sejak membelinya dari  konter sudah ada kerusakan dan keluhan. Memang buatan manusia pasti tidak bisa sempurna. Sekarang harga handphone Siemens ME75 seperti yang kupunya sudah turun menjadi sejuta seratus. Baru turun seratusribu. Jadi ingin kubeli handphone yang ada mp3-nya. Akh, itu hanya keinginan. Tak perlu memenuhinya.

Sekarang uang beasiswa yang kuterima ingin kubelikan komputer. Target tiga bulan aku harus punya komputer minimal Pentium tiga. Karena hidup mesti mempunyai target. Tahun ajaran sekarang mesti menguasai bahasa. Jika aku sudah mempunyai komputer bagus, bisa sering kursus bahasa Inggris lewat tutorial software kursus. Aku pasti bisa membeli komputer minimal Pentium tiga.

Aku harus menghemat lagi soal penggunaan uang. Harus dijatah membeli pulsa cukup duapuluh duaribu perbulan. Jangan terlalu menghambur-hamburkan pulsa. Jika tidak penting untuk apa menelepon atau mengirim sms. Jangan diperbudak oleh teknologi. Aku harus bisa mengendalikannya. Siapa harus mengendalikan apa.

Begitu lelahnya sampai kosan. Merebahkan diri di kasur lepet pemberian yang sudah lebih dari sebulan kutinggalkan ke Tasik. Malam kian beranjak sunyi. Dalam pekatnya malam dan semilir dinginnya udara, menyusup sebuah perasaan yang terus mengibas-ngibas permukaan kulitku. Kulit perasaanku rentan dan kental merindukan sentuhan dan sapuan hangat kemesraan. Kini tak ada lagi dekapan hangatnya yang mengharu lembut. Tiada lagi percikan-percikan seberkas sinar yang menerangi gelapnya malam perasaanku. Mungkinkah nasibku telah memilih dan bersahabat dengan kesedihan kelu.

Masa-masa keceriaan ketika di Tasik hanya membekas sekejap. Aku menjadi kembali seperti dulu. Terombang-ambing antara harapan, kenyataan, dan mungkin kepengecutan. Meski hampir setiap malam Niskala dari Tasik sering menelepon dan sms, masih belum menguap rasa ketidakpercayaanku padanya pada kejadian itu. Ini semestinya lelaki yang harus lebih rajin menelepon, tapi ini perempuan belia. Tidak gagah banget aku kalah dengan dompet perempuan anak SMA. Mungkinkah ini sebagai tanda dia sesungguhnya ingin memberikan perhatian. Mungkin dia tahu keadaanku bahwa aku sangat membutuhkan kasih sayang dan kemanjaan.

Tadi sore ia menelepon lama banget, sampai teman-teman pada menggangguku. Aku jadi bingung menghadapi realita. Keceriaan di ketika Tasik kini hanya kenangan. Bagaimana aku membangun hubungan yang terpisah oleh dua kota. Aku tidak percaya dengan hubungan jarak jauh. Kenapa masih terus mengharap pada satu perempuan yang kini inten kembali bertemu. Setengah hari main di stand mks, aku melihat-lihat ke aula banyak sekali perempuan berparas cantik. Tapi hatiku kenapa masih selalu terpaut pada satu orang itu. Bukankah ini hanya menyiksa diriku sendiri.

Aku jadi teringat Syifa Fitria, sobatku di waktu SMU. Dia mau menikah tanggal 10 September. Aku harus menggagendakan waktu buat ke sana. Ingin bertemu dulu dengan Fitrian Error, supaya bisa berangkatnya bareng. Aku harus datang ke acara pernikahannya yang sudah kuanggap sebagai adikku. Soalnya dulu telah menganggapku sebagai kakak. Kami berdua pernah mengukuhkan diri sebagai adik kakak. Dan mungkinkah ia pernah memiliki ketertarikan frekuensi padaku? Mungkin itu bukan cinta tapi sejenis rasa kagum saja. Tapi aku malah mengharap cinta yang lain. Kepada banyak perempuan, kuhaturkan maafku. Bila selama ini pernah menolak maksud baikmu.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori