Oleh: Kyan | 02/09/2006

Impian Pengembaraan Intelektual

Sabtu, 02 September 2006

Impian Pengembaraan Intelektual

**

Aku mendapatkan energi hidup setelah selesai kubaca buku Sang Pemimpi yang ditulis Andrea Hirata. Buku yang kupinjam dari Dudi. Sebuah novel yang bercerita tentang masa kecil pengarangnya bersama sahabat-sahabat kecilnya. Oleh ibu gurunya yang bernama Ibu Muslimah, mereka dipanggil kumpulan Laskar Pelangi. Entah sang penulis memang itu kejadian detil masa kecilnya begitu ataukah rekayasa imajinasi belaka. Seperti nama Laskar, apakah ini dari Laskar Cinta-nya Dewa. Tujuan sang penulis tersampaikan sehingga pembaca dapat mengambil banyak inspirasi darinya. Terutama meskipun anak kampung yang minim fasilitas, tapi teruslah bermimpi dalam merealisasikan segala mimpi.

Kurasa semakin optimis dalam menjalani hari-hariku setelah kuhela nafas membaca buku ini. Diceritakan sang penulis yang asli kampung Belitung sebelum bisa kuliah di Universitas Indonesia dan Sorbonne Prancis, sempat turun drastis semangatnya soal masa depan. Ketika ia berinjak dewasa dan mulai melihat keadaan dirinya secara real, yang hendak ke Ciputat malah nyasar ke Bogor, terlempar jadi tukang fotokopi. Dengan ia berpikir realistis berimplikasi pada sikap hidupnya yang pesimistis. Namun pertanyaanku apakah sang penulis dalam berpikir hari ini masihkah pesimis bisa melihat realitas bangsa saat ini. Mungkin masih begitu, karena kalau tidak ia tak dapat mengantarkannya menjadi penulis Laskar Pelangi.

Meski hari-hari sebelumnya dan bahkan mungkin sampai sekarang masih pesimis dalam hidup sebagai akibat berpikir realistis, tapi masih bisa melihat adanya berbagai kemungkinan. Aku telah melihat keadaan senyata-nyatanya dan aku harus berpikir terhadap kemungkinan-kemungkinan lain. Seperti yang dikutif sag penulis, “Tanpa mimpi dan semangat, orang sepertiku akan segera mati”. Maka aku harus punya mimpi dan semangat. Aku harus possibility dalam menyikapi hidup. Meski sekarang nampak suram, yang penting sekarang berbuat yang terbaik pada titik dimana sekarang aku sedang berada. Aku dapat menampilkan yang terbaik pada titik dimana sekarang aku tegak berdiri. Karena itulah sesungguhnya sikap yang realistik.

Sekarang aku jadi mahasiswa, jadilah mahasiswa terbaik. Memimpin komunitas Ayasophia, kembangkanlah sebaik-baiknya. Setiap orang memiliki atau bakan terseret oleh nasib pada jalan yang berbeda-beda. Setiap orang mempunyai agenda masing-masing untuk dapat diperjuangkan. Tidak bisa dikatakan itu baik ini jelek dalam kebiasaan orang sehari-hari, karena semua memiliki konsekuensi masing-masing. Tidak harus iri dengan apa yang sudah dicapai orang lain. Terpenting aku bisa menjadi yang terbaik ketika aku berdiri di titik ini.

Semoga dengan aku mendapat beasiswa sekarang menjadi tanda bahwa aku telah serius atau bersungguh-sungguh dalam belajar. Dengan apa yang kujalani sampai saat ini aku telah menjadi mahasiswa terbaik. Bisakah sekarang aku mendapat IP 4, ada tiga mata kuliah lagi nilainya belum keluar. Mudah-mudahan kudapatkan nilai A semua. Nilai penting tidak penting, tetaplah suram membayang masa depanku. Mungkin tidak hanya aku tapi mungkin setiap orang tak dapat menatap masa depan dengan pasti. Terpenting segakarang mencoba berbagai kemungkinan.

Masa depan itu gaib seperti mempercayai datangnya kematian dan hari kiamat. Rasul ketika ditanya kapankah datangnya kiamat. Jawabnya, “Aku tidak tahu, yang bertanya lebih tahu” ketika ditanya malaikat Jibril ketika menurunkan hadits qudsi pilar keimanan. Jalan Islam adalah untuk membimbing dan menimbang untuk menjalani saat ini dan merekayasa masa depan. Berusaha sebaik mungkin dan selebihnya hanya pasrah pada-Nya. Tiada daya dan kekuatan melainkan kekuatan dari, oleh, dan untuk Allah SWT.

Aku mengambil beasiswa, ada satu persyaratan kurang. Resi pembayaran SPP semester masih di Uly. Karena selama bulan kemarin sebagai bulan pembayaran SPP aku menjalani magang di Tasik dan kuminta tolong padanya untuk membayar SPP-ku dengan uangnya ditransfer ke rekening lewat Bank BNI. Aku bergegas ke kosannya tapi sampai disana dia tak ada kosan. Ketika kutelepon ia sedang ada keperluang. Kupaksa dia supaya balik dulu ke kosan karena aku butuh sesuatu. Takut dia bohong, aku datang saja ke kosannya. Dan benarlah disana dia tak ada. Bahkan suasana asrama Lestari sepi senyap seperti banyak ditinggal penghuninya. Maklum masih belum sibuk kuliah lagi.

Maka aku pulang saja. Di kampus bertemu Siti Nuraeni dan Ipah Latifah. Nuraeni bercerita tentang dia. Apakah dia bilang sesuatu sekedar hanya ingin menyenengkan hatiku saja ketika bilang, “Sebenarnya dia juga punya perasaan padamu, Dika. Tapi sudah terlanjur bilang gak mau”. Ah, kenyataannya dia memang tak menginginkan aku. Biarlah itu hanya obsesiku saja. Lelaki ketika melihat kesempurnaannya, sesempurna apa sih dia. Lelaki seperti apakah yang diinginkannya yang dapat menjadi tumpahan harapannya? Aku jadi benci semuanya. Tapi aku tak boleh cengeng lagi. Sekarang aku sudah tegar dengan semua ketidakpastian. Lihat saja nanti aku yang sering tersakiti. Dengan segala penderitaan yang diterima, banyak orang di bumi ini mengantarkannya menjadi orang besar. Sekarang aku mesti punya mentalitas merealisasikan ide jadi tindakan nyata.

Pulang ke kosan. Sambil tidur-tiduran kubaca buku “Jombang Kairo Jombang Chicago”. Buku yang memaparkan corak pemikiran Gusdur dan Caknur. Pemikiran yang diusung keduanya adalah Islam kosmopolit, dimana pengertiannya Islam yang lebih inklusif, pluralis dan lebih bisa diterima oleh berbagai komponen bangsa.

Aku begitu terpikat dengan pemikiran keduanya. Gusdur terkenal dengan pribumisasi Islam dan Caknur dengan sekulerisasi. Sekulerisasi yang dimaksud bukan westernisasi sebagaimana orang-orang yang menentang pemikirannya. Yang aku pahami dari pemikiran Caknur adalah reformulasi dan reinterpretasi Islam yang harus berdasarkan kedisinian dan kekinian (here and now). Sekulerisasi yang dimaksud beliau adalah memanusiakan hal-hal yang menjadi wilayah manusia dan memisahkannya dari yang ukhrawai, yang sakral. Karena yang terjadi di Indonesia, orang-orang cenderung mengukhrawikan yang sebenarnya itu urusan dunia. Mungkin ini karena pengaruh antromorfhisme dan sufisme yang khas penyebaran Islam Indonesia.

Maksud sekulerisasi Caknur bukan maksud benar pemisahan. Tapi keduanya antara duniawi dan ukhrawi untuk dapat dibedakan. Karena tak bisa dipungkiri pasti memiliki keterkaitan antara yang duniawi dengan yang ukhrawi dalam hubungannya. Pemikiran lain Caknur tidak berusaha untuk memformalisasikan agama ke dalam sistem kenegaraan. Karena negara hanyalah instrumen, bukan tujuan agama itu sendiri. Melainkan berusaha nilai etika Islam menjadi spirit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga umat Islam memberi andil dalam cita-cita negera. Buat apa negara Islam tapi isinya tidak Islami. Mungkin semua orang sepakat dengan pernyataan tadi.

Karena belum memasuki hari kuliah, aku berkunjung ke Leles Garut. Sekedar liburan sebentar di rumah kakakku di Garut. Kegiatanku hanya makan, tidur, nonton Pisyi dan baca. Kalau aktivitas begitu selama berhari-hari pasti akan sangat membosankan. Tapi efeknya membikin badanku sedikit gendut. Liburan semester sekarang selain mendapat sejuta pengalaman juga bikin sedikit gemuk. Apakah karena jarang berpikir. Aku takut bila jarang berpikir membikin otak tumpul. Karena otak harus digunakan setiap saat. Penggunaan otakku setidaknya ketika aku menulis catatan haian. Sekalian perenungan diri alias kontemplasi. Imam khomaini menganjurkan untuk selalu melakuan perenungan diri.

Tak lupa aku menelpon Niskala Yenyen kurang lebih selama limabelas menit buat mengobati kekangenanku. Aku merasa kehilangan setelah aku di Bandung setelah beberapa minggu di Tasik kutemukan kegembiraan dengannya. Semenjak aku di Bandung ia yang sering menelpon dan mengirim sms. Kupikir dia yang sangat perhatian padaku. Tapi kenapa aku masih setengah ragu. Berbeda dengan Nazifa Ajnihatin. Mungkin bukan dia gak mau membalas smsku, tapi ia berpikir prioritas. Ia bisa menentukan mana itu hal penting dan mana itu yang bisa membunuh waktu. Kakak Iparku melihat foto keduanya dan cenderung memilih Niskala Yenyen. Meskipun keduanya cantik. Tap dia pun setuju kalau mendapat jodoh orang Jawa. Karena orang Jawa orangnya pekerja keras.

Pemikiranku dari hari ke hari masih seputar itu-itu saja. Semua itu terus melingkupiku. Aku ingin beralih ke ranah pengembaraan intelektual sebagai jalan kebahagiaan.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori