Oleh: Kyan | 12/09/2006

Penglihatan Zaman Dehumanisasi

Selasa, 12 September 2006

Penglihatan Zaman Dehumanisasi

**

Penelitian terbaru di Amerika mengungkap bahwa hidup membujang beresiko tinggi terhadap kematian dini. Sebading dengan resiko kematian akibat kolesterol. Itu yang kubaca di koran Republika. Lalu mengenai ekonomi bisnis, terutama ekonomi syariah. Kataya agen asuransi syariah memerlukan lebih banyak lagi sumber daya insani dibandingkan perbankan syariah. Sosialisasi pasar modal ke masyarakat dan kalangan kampus harus digencarkan. Intinya dibutuhkan lebih banyak sumber daya insani yang faham eknomi syariah. Di STEI SEBI dan STEI di Yogya ada program beasiswa untuk mencetak sarjana ekonomi Islam. Apakah aku termasuk salah satu nominasi sarjana ekonomi Islam. Apakah aku mampu secara intelektual dan finansial? Aku harus yakin dengan apa yang kuinginkan. Bahwa segala harapan bisa tercapai. Hidupku ingin berdedikasi pada ekonomi syariah secara kaaffah.

Itulah yang menjadi pikiranku setelah mengunjungi ke perpustakaan daerah. Aku ingin sering mengunjunginya. Tapi memerlukan ongkos angkot mahal. Semua memerlukan pengorbanan untuk mendapatkan informasi. Belum lagi kalau surfing internet kadang asyik sendiri sehingga lupa waktu dan bengkaklah membayarnya. Di Malaysia sudah diberlakukan pemotongan harga komputer dan buku. Bahkan saat ini ang asalnya pemotongan sebesar 1500 menjadi 3000. Harga buku mendapatkan potongan 800 menjadi 1000. Ini bukti komitmen pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia yang kompetetif. Apakah Indonesia sudah melakukan itu?

Pulang dari Bapusda, langsung menuju Aula UIN untuk mengikuti seminar “Tafsir Ulang Pernikahan Lintas Agama” yang pembicaranya Siti Musdah Mulia dan kalangan dari agama lain. Pembicaraan ibu Musdah sangat memukau. Beliau seorang aktivis perempaun dan bukunya, Muslimah Reformis disuruh ditarik dari peredaran. Katanya mengusung liberalisme dan feminisme. Tapi beliau tidak setuju dengan pernikahan lintas agama jika ada berbagai modus. Seperti politisasi agama, trafficking dan modus lainnya. Beliau juga memaparkan lima prinsip tentang keutamaan pernikahan. Ini membuatku untuk membaca Tafsir al-Mishbah makin menggebu. Finansial lagi masalahnya belum mampu kubeli. Tapi harus yakin aku bisa membelinya. Semua perlu pengorbanan.

Kuliah Modal Ventura, dosennya pak Setia Mulyawan. Beliau seorang konsultan. Semangat kami membuncah setelah mendapat paparan. Menjadi ekonom muslim jadi menggebu dalam diriku. Katanya kami adalah calon manajer keuangan yang bakal digaji 134 juta per bulan. Kami harus optimis dengan hidup.

Alhamdulillah, badanku fresh ketika hari ini sempat tidur siang. Ini sebuah catatan yang bermula dari peristiwa tidur siang yang begitu mahalnya saat ini. Kupanjatkan syukur pada Tuhan dalam seperempat waktu siangku aku bisa tidur siang. Sebab dalam Alquran disebutkan siang itu dipakai juga buat istirahat, tapi istirahat sejenak. Sekedar melepas kepenatan mengais karunia di pencakar bumi.

Kecendrungan manusia sejak dulu, waktu siang menuju sore dipakai buat istirahat sejenak. Tapi zaman sekarang dimana manusia sudah terlingkupi oleh kompetensi, bahkan sampai diperbudak oleh mesin-mesin industri, membuat waktu istirahat terasa semakin sempit.

Padahal seharusnya lebih lempang lagi waktu istirahatnya karena tenaga manusia sudah tergantikan oleh mesin-mesin. Tapi ini malah membuat semakin ketat berjibaku dengan rutinitas dan spesialisasi pekerjaan. Membuat orang-orang menjadi stress karena teralienasi dari holistika sosial.

Penemuan yang katanya demi kesuksesan dan kemudahan hidup manusia malah membuat sisi kemanusiaan menjadi pudar. Mesin-mesin industri yang merupakan hasil kreatifitas rasio, memperlemah sifat-sifat kemanusiaan. Kepekaan emosional, apalagi spiritual seolah-olah pupus dari diri manusia. Memang sudah saatnya manusia kembali untuk mengenali dirinya ke dalam.

Karl Marx menghendaki waktu kerja cukup tujuh jam dari pagi menuju sore, petang hari minum-minum di kedai kopi, dan malam hari dapat membaca puisi. Bagi kaum pekerja Sabtu-Minggu adalah hari yang dinanti. Dalam puncak liburan Minggu terasa berat jika hari sudah menuju Senin. I like Monday, begitu slogannya. Kecuali yang bertemu Senin menjadi riang hatinya adalah di tempat kerjanya ada pacar atau selingkuhan.

Kita pun tidak ingin berleha-leha, karena hidup adalah perbuatan. Kita pergi bekerja untuk produktivitas dan mengangkat derajat kemanusiaan dari lumpur kemiskinan. Sebab kemiskinan adalah dehumanisasi, penghilangan kemanusiaan. Sabda Rasul, kemiskinan lebih dekat pada kekufuran.

Begitupun sekarang kubaca buku, “Sejauh Mana Anda Berani Kreatif?” terasa memusingkan, karena bising oleh suara-suara hasil teknologi modern. Ditambah penjabarannya bertele-tele. Hanya saja yang kudapatkan adalah bahwa seniman adalah para wakil zamannya yang visioner, yang mampu memprediksikan masa depan. Dan itulah buah dari imajinasi. Televisi sudah menjadi darah daging manusia dan ia tak bisa lepas darinya. Efek positifnya tentu banyak, tapi negatifnya tidak sedikit. Entah mana yang jauh lebih banyak, yang pasti televisi selain menyita waktu, juga memiskinkan kreativitas dan mengkerdilkan imajinasi.

Apakah membaca buku akan terkalahkan dengan menonton TV? Orang-orang apa tidak bosan, selalu saja di depan kotak ajaib itu yang memancarkan silau cahaya. Ingin aku meminimalisir kontak dengan sinar ultravioletnya layar TV, monitor, dan handphone. Takut mata minusku makin bertambah bila terus-menerus retina mataku tak lepas dari berkas-berkas yang tajam menusuk.

Meski aku kini sudah berkacamata. Tapi kata sang dokter fungsi kacamata hanya sekedar memanjangkan waktu bertambahnya minus mata. Karena mata minus (rabun jauh) akan terus bertambah, dan berkurang hanya ketika usia 40 tahun saat mata mengalami positif (rabun dekat).

Makanya bukan kenapa aku menyuruh orang bayar gede kalau ada jasa mengetik atau jasa pembuatan tugas. Karena efeknya yang jadi korban adalah mataku yang jadi rusak akibat banyak kontak dengan monitor. Meski teorinya setiap sepuluh menit berusaha untuk berkedip, tetap saja aku menjadi lupa dengan kedipan kalau sedang serius mengetik dan mengedit tulisan. Memang ada bagusnya ketika aku mengetik disampingku ada seorang kawan atau pacar yang dapat mengganggu konsentrasiku.

Kekhawatiran ini ikut memperlemah juga pada semangat membaca buku. Bagaimana bisa mengasah intelektualitas kalau bukan dari membaca. Bahkan masa depan media tulisan sedang beralih dari cetak kepada digital. Koran cetak menjadi koran digital, buku cetak menjadi e-book. Semua serba terkomputerisasi, segalanya terpaut pada sinyal-sinyal listrik.

Tapi semoga aku baik-baik saja. Tak perlu aku khawatir berlebihan dengan soal mata tak normal. Mata minus mungkin itu harga yang harus dibayar. Seperti potret di sebuah majalah Singapore tentang anak-anak sekolah yang semuanya berkaca mata. Singapore sebagai lambang kemajuan, anak-anaknya berkaca mata dan setelah dewasa dilepaslah kacamatanya. Sebab sudah dewasa sudah pandai mencari uang untuk operasi ilasik mata.

Dehumanisasi dalam segala lini kehidupan manusia, termasuk dalam bidang ekonomi maka para ilmuwan Islam memformula ekonomi Islam sebagai solusi. Maka aku bercita-cita ingin menjadi pakar ekonomi Islam. Aku memutuskan demikian karena takdir aku kuliah di MKS. Untuk menjadi Ekonom Muslim harus memahami secara komprehensif sisi-sisi ekonomi konvensional dan perspektifnya menurut Islam. Bidang ilmu yang mendukung seperti filsafat, fiqh, dan sosiologi serta yang lainnya harus dipahami juga. Untuk mencapai ke arah sana, apa yang mesti dilakuan. Intinya adalah terus belajar.

Maka tadi sewaktu mau memfotokopi materi kuliah Akuntansi, di tempat fotocopi ada kurikulum nasional ekonomi Syariah. Kufotokopi saja untuk referensi. Untuk menjadi sarjana ekonomi Islam harus menguasai bahasan-bahasan yang ada di silabus tersebut. Aku harus mencari referensi untuk kupelajari. Aku harus menguasainya dengan banyak diskusi tentang ekonomi Islam.

Wadahnya sudah ada, yakni Fossei. Tapi di kampus UIN kegiatannya vakum. Malah karena tak ada kegiatan dan tak pernah mengirimkan delegasi, kelompok kajian di UIN harus mendaftar ualng. Mulai saat ini aku akan berdedikasi pada Fossei, insya Allah. Aku ingin kajian ekonom Islam ini menjadi setingkat UKM. Seperti Lpik (Lembaga Pengkajian Ilmu KeIslaman) yang dulu awal masuk kuliah aku ingin berkecimpung disana.

Hanya saja aku melihat Lpik didominasi oleh orang-orang liberal. Dikesankan anggotanya hanyalah kumpulan orang-orang tukang nongkrong. Aku tak berani menyebut mereka bermoral rendah. Karena bisa jadi mereka lebih moralis dibandingkan orang-orang yang simbolistis. Hidup penuh sangka-purbasangka. Hidup penuh dengan kekhawatiran dan memandang negatif atau anti terhadap sesuatu yang belum kita kenal. Bisakah kita tidak gampang menilai sesuatu secara negatif. Aku berpikir positif dan aku bebas dari tekanan orang lain. Aku bisa membawa diriku sendiri kemana yang kuinginkan.

Aku ingin banyak kegiatan, tapi aku tak ingin terbelenggu. Meski itu tahu ada harga yang mesti dibayar. Tapi aku tak ingin mengorbankan fisikku yang menjadi sakit-sakitan, mataku jadi bertambah minus, dan waktu istirahat jadi sangat minim. Kecemasan dan kegelisahan sebenarnya datang dari diriku sendiri. Bukan datang dari luar. Aku menyadari itu. Makanya aku tak ingin terbelenggu. Aku ingin bebas, lepas dan tentunya masih dalam koridor etika yang telah disepakati.

Saat ini pun aku pun tak ingin cengeng lagi dengan soal perempuan. Cukuplah sampai disini dan saat ini saja sikap kekanakkan itu muncul. Sekarang aku harus menatap masa depanku yang tidak bisa dilepaskan dari pundakku sendiri. Aku mempunyai tanggung jawab besar dalam hidupku. Ingin bebas dengan caraku sendiri dalam meralisasikan mimpi-mimpiku. Aku harus bersungguh-sungguh belajar dan bisa menghasilkan materi. Aktivitasku harus mendukung pada pencapaian mimpi-mimpiku. Aku tak ingin dipaksa dan ingin dibiarkan bebas dalam caraku sendiri. Kegelisahan pada masa depan biarlah yang menjadi motivasi untuk berubah. Sebab aku paling benci dengan orang-orang yang sok tahu semuanya dan harus kemana aku melangkah…[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori