Oleh: Kyan | 14/09/2006

Menerima Realitas Tanpa Waktu

Kamis, 14 September 2006

Menerima Realitas Tanpa Waktu

**

Kuliah mulai dari setelah Duhur. Mata kuliah Multi Keuangan dan Kredit masih belum lepas dari menulis tangan. Waktu tatap muka habis cuma dipakai buat menulis. Tradisional dan tak menghargai teknologi. Mungkin tujuan dosen baik, supaya kuliah tak cuma diam dan dengan materi kuliah yang sering masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Tapi dengan menuliskan apa yang sudah didengar secara alam bawah sadar akan menjadi pemikiran. Maksudnya baik supaya ada gerakan-gerakan dan hasilnya dapat diperlihatkan dari satu pertemuan itu.

Menurutku alangkah bagusnya waktu tatap muka dioptimalkan buat mendiskusikan hal yang  berkaitan dengan materi. Kadang aku pun mempunyai kendala seperti malu bertanya. Merasa susah ketika mencurahkan gagaan yang berseliweran di otak ke dalam bentuk rangkaian kalimat yang jelas dan mudah dicerna pendengar. Kadang aku susah membuat rangkaian kata yang bisa mewakili isi pikiranku. Tapi aku harus belajar terus.

Ketika mau masuk kuliah kedua, Ipah bertanya pada MKS-C khususnya padaku. Katanya, “Sudah dibilang kuliah jam dua sore. Ini jam setengah tiga baru nongol. Dosen sudah lama menunggu kalian”. Ya bagaimana bisa mereka menumpahinya padaku. Aku belum tahu jadwal kuliah, teman-teman MKS-C malah bertanya padaku. Mereka bertanya apakah karena aku memang terlihat rajin dan IP-ku paling gede di kelas, bahkan sejurusan. Sombong sekali ini aku. Semoga saja persepsi mereka mengenaiku adalah positif.

Pulang kuliah mengantar Deri dan Dede yang mau mencari handphone seken di depan kampus. Aku beruntung  bisa membeli handphone bagus dan mahal. Mereka hanya bisa membeli handphone seken. Aku harus banyak bersyukur. Harta adalah titipan Allah, aku harus menjaga amanah-Nya. Sering saja merasa kurang dengan apa yang kuterima selama ini. Semua serba dalam ketidakpastian. Tapi menurutku ketidakpastian demi kebaikan tidak apa-apa. Yang keliru adalah serakah dengan segala cara dalam meraih sesuatu tanpa memandang halal haram. Sifat manusia selalu punya keinginan lebih dan lebih. Maka perlu sikap pengendalian.

Pulang sampai kosan, kepalaku terasa pusing. Kutidurkan tapi gak bisa tidur. Apakah karena kurang tidur. Biasa di Bandung tidur larut malam hanya lima jam, bahkan kurang. Mungkin karena kurang tidur bawaannya ingin marah melulu. Katanya aku pemarah. Keluarga ibuku kalau gak pemarah karakternya pendiam. Keluarga ayah juga pendiam. Apakah aku yang pemarah karena kurang tidur atau turunan. Wajar aku punya sifat pemarah dan pendiam. Tapi kalau lagi mood ngomong, segalanya diomongin. Itulah aku.

Beberapa malam berturut-turut nonton pelem terus, menyewa di rentalan. Tak sempat akhirnya buat belajar. Agenda bisa berubah gara-gara banyak orang-orang yang mengganggu aktivitasku. Supaya agendaku tidak melenceng, aku meski punya tekad. Tapi aku takut dianggap gak solider. Apalagi Nenk Titin dan Pipih sudah menyebutku sifatku sebagai orang egois. Memang yang menilai bukanlah keyakinanku sendiri, tapi orang lain. Susah kalau menilai diri sendiri itu. Musuh terbesar kita adalah diri sendiri.

 

Mengisi hari libur kuliah kuputuskan mau main ke Palasari. Mau mandi susah gak ada air. Bayar listrik saja digedein, asalnya Rp 35.000,- berdua sekarang menjadi Rp 47.000,- Kalau ada uang sih tidak masalah. Tapi lagi sekarat begini bikinnya ingin marah saja ditagih terus.

Sendirian aku ke Palasari. Memang sudah biasa sendirian dan gak ada yang mengganggu kemanapun aku pergi. Ketika berjalan gontai sendirian terpikirkan pula indah rasanya kalau bepergian dengan seseoarng. Apalagi seseorang itu hobi main ke toko buku juga. Ia selain cantik, juga tingkat intelektualitas tinggi. Alangkah indahnya hidup jika bersama orang yang memiliki hobi sama. Tapi tidak tahu pasti. Kuhitung belanja buku habis duaratusribu membeli buku Akuntansi, Akuntansi Syariah, Modal Ventura, Pasar Modal, Jurnalisme Universal, Demokrasi Religius dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Tadinya aku mau membeli Tafisr al-Mishbah malah membeli Tafsir Fi Zhilal Jilid 24.

Selalu tak sesuai rencana. Dulu aku pernah janji jika aku mendapat beasiswa bakal aku belikan pada buku semua. Sekarang sudah terlaksana, tapi ada keinginan membeli komputer. Karena sangat penting keduanya. Keduanya sama-sama buat mendukung perkuliahan. Lebih baik sekarang aku harus kutunaikan janjiku sebesar 20 persen dulu. Nanti 70 persen lagi saat kupunya uang lagi.

Di kosan dengan teman-teman menonton film Realita Cinta Rock n Roll, film bagus. Film yang mempropagandakan bahwa hidup harus real dan kita harus menerima realita itu. Sering kita melihat hal-hal yang kita rasa beda dari keumuman. Kalau ingin populer harus berani beda. Tapi berani berbeda sering dipandang positif dan negatif. Didekati orang atau dijauhi. Penggiringan pemikiran juga, selain penggiringan pada pemikiran harus menerima realita tapi juga menggiring supaya kita mau menerima manusia yang bukan laki-laki bukan pula yang perempuan, alias bencong atau banci. Tetap saja aku memandangnya itu sebuah kelainan dan menyalahi fitrah. Aku pun menerima bahwa ada realitas seperti itu. Hidup penuh dengan keanehan, dan teman-teman bilang padaku aku termasuk orang aneh.

Main ke kampus teman-teman sedang beres-beres buat besok. Untuk acara pelantikan pengurus KBMP baru. Semester lima aku tak melihat mereka. Pengurus lama seolah-olah melepas begitu saja. Ke kosan Pipih menanyakan tugas Akuntansi. Disana ada Eka semester tiga yang kulihat sedang tak memakai kerudung. Dia termasuk cantik, tapi teman-teman bilang ia biasa-biasa saja. Cantik itu bagaimana sih menurut mereka. Melihat orang lain lagi pacaran, lama banget ia pacaran. Ketika aku datang ia lagi mengobrol dan saat aku pulang masih tetap begitu. Orang yang dimabuk cinta tak pernah merasakan waktu.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori