Oleh: Kyan | 16/09/2006

Kala Berpisah di Suatu Ketika

Sabtu, 16 September 2006

 Kala Berpisah di Suatu Ketika

**

Karena tugas Akuntansi belum selesai aku jadi marah pada diriku sendiri. Kenapa gak bisa membawa diriku sendiri menyempatkan waktu untuk mengerjakan tugas. Ingin menyalahkan orang lain, tapi mereka gak salah. Aku saja gak bisa menolak. Aku harus berani menolak ajakan mereka. Namun tetap saja kadang terpengaruh dalam pertarungan kehendak. Jika kemarin aku dan teman menonton film Realita Cinta Rock n Roll, malam sekarang malah menonton lagi, film Jomblo.

Film Jomblo adalah sebuah film yang mengetengahkan sepenggal cerita kehidupan anak kampus. Begitulah adanya kehidupan kami bisa terwakili. Memang sebuah seni adalah cerminana dari kehidupan zamannya. Sebuah potret realitas tapi harus mencerahkan masyarakatnya. Realita di lapangan diangkat agar bisa disaksikan oleh semua orang. Si pembuat film berkata, “Iniah kehidupan sebagian anak manusia. Loe berkata apa”. Tujuan diangkat menjadi film dapat bermacam-macam positif maupun negatif.

Namun kaum cendekia haruslah memberikan sebuah kesimpulan dari realitas tersebut. Tentang apa kelebihan dan kekurangannya serta memberikan solusi. Dan para teknisinya harus bersungguh-sungguh dalam mengangkat realitas tersebut. Jangan asal komersialisme belaka. Pendidikan moral atau etika yang menjadi tujuan dari semuanya. Etika sebagai manusia yang memanusia, bukan membinatangkan. Semakin sering aku menonton, makin aku sering berpikir-pikir. Segala pikiranku berkecamuk. Bahwa aku tak bisa menolak sebuah realitas itu. Begitulah adanya realitas. Seolah-olah aku dipaksa harus berpikir seperti itu.

Dunia riil dan dunia ideal. keduanya harus dipandang dialektis. Aku harus tahu keduanya secara mendalam. Dunai riil harus menuju dunia ideal. Apakah ideal itu kata benda atau apa, kata kerja seperti kata Islam? Meski ini hanyalah pengkonsepsian dari manusia, tapi baik untuk perbaikan hidupnya. Manusia mengerahkan akalnya demi kemajuan bersama. Manusia itu berpikir dan bertindak. Tidak hanya ongkang-ongkang kaki menunggu nasib baik. Tapi nasib baik harus diperjuangkan oleh semua yang menghendakinya. Bagaimana nasib baik yang dilahirkan?

Malam semakin larut. Aku tak bisa memejamkan mata. Riuh oleh cenda tawa teman-teman yang menginap di kosanku. Aku, Amy, Dudi, dan Aceng tidur berjejer rapat seperti ikan Teri. Hari sebelumnya juga temanku bermalam berempat. Di kosanku memang sering banyak yang menginap. Seperti Niskala Yena sering bilang, “Domba-domba tersesat”. Ia tahu itu karena pernah membaca buku catatan harianku. Kalau datang ke kosanku akan dibilang domba tersesat. Hanya lelucon belaka.

Jam satu pagi aku belum juga bisa tidur. Kunyalakan saja komputer buat mendengar musik sampai pagi. Komputerku sering standby duapuluhempat jam. Ini memang komputer jadul tapi bandel. Tiap pagi aku ingin membiasakan diri membaca buku dan olahraga ringan. Itulah sarapanku. Aku ingin setiap hari bisa push-up sebanyak 100 kali sekarang baru 25 kali, sudah ngos-ngosan. Semangatku harus tetap membara dalam membangun disiplin hidup. Begitupun dalam mengejar cinta janganlah kalah sebelum mati.

 

Tapi waktu tidak selalu berjalan sebagaimana kumau. Seiring waktu mungkin aku akan kehilangan dia. Aku menyerah karena sudah tak mampu menembus dunianya. Aku tak ingin memasuki realita bahwa dia memang tidak suka padaku. Pelan tapi pasti, cepat atau lambat realita yang sedang kupikirkan menjadi kenyataan. Apakah pengharapan selama ini akan hancur begitu saja? Pengharapan selama tiga tahun akan hancur berkeping-keping dalam waktu tiga detik? Dalam pertemuan terakhir nanti aku ingin memberikan sesuatu padanya.

Perpisahan diantara kami hanya setahun lagi. Apa yang mesti keperbuat untuk mengisi hari menjelang perpisahan dengannya. Masih ada waktu satu tahun lagi. Jangan terburu-buru menyerah dalam selangkah lagi menempuhnya. Tapi sangat terasa dari sekarang aku sudah merasa kehilangan dia. Secara fisik mungkin masih ada pertemuan. Tapi secara jiwa entahlah. Aku semakin kehilangan dirinya.  Muncul keraguan apakah ia seorang yang terbaik buatku? Kupikir ada perempuan terbaik yang mau menerimaku apa-adanya diriku. Mungkin pikiran itu bisa ditepis jika ada komitmen dan ia secara jelas ia mencintaiku. Apakah sekarang pantas aku bertanya padanya apakah ia mencitaiku atau tidak.

Sejak  kemarin-kemarin, kuliah semester lima aku merasa sering diperhatikan olehnya. Secara tak sengaja aku memergokinya sedang memandangku dengan tatapan sayu. Sering sekali aku melihat dia dengan sekejap ia mengalihkan pandang. Apakah aku ini gede rasa? Aku begitu gampang menyimpulkan bahwa ia mulai merasakan getaran cinta dan menampakkannya. Apakah sekarang hatinya sudah luluh? Apakah sekarang ia mulai yakin atas cintaku padanya? Karena begitu seringnya aku mengirim berbait-bait puisi lewat e-mail dan mungkin ia tersentuh oleh salah satu puisiku.

Namun semuanya tetaplah menjadi dilema bagiku. Aku sekarang ingin diam saja. Bukan aku merasa kelelahan dan kekahalan. Tapi mungkin juga begitu. Tapi ingin melihat apakah dia akan merasa kehilangan setelah kepergianku. Kuliah bersama-sama tinggal setahun lagi. Apakah pertemuan dengannya hanyalah setahun lagi. Itupun terpotong oleh liburan. Aku akan semakin jarang menatapnya. Jika tidak diperjuangkan, secara perlahan-lahan aku akan kehilangan dia.

Meskipun mungkin dia tetap di Bandung, tapi dia sudah mempunyai dunianya sendiri. Dan aku seolah-olah tak bisa menembus dunianya. Aku tak ingin memasuki realitas ini, tapi secara pelan-pelan cepat atau lambat realitas yang sedang kupikirkan akan menjadi kenyataan. Apakah semua pengharapan selama ini akan hancur begitu saja. Pengharapan selama tiga tahun akan hancur berkeping-keping daam waktu tiga detik? Dalam pertemuan terakhir aku akan memberikan sesuatu untuknya. Semoga dia itu akan selalu teringat padaku dan semoga ia bisa menanti sampai suatu ketika.

Apa yang mesti kuperbuat untuk mengisi hari-hari, bulan-bulan menjelang perpisahan dengannya? Sekarang aku ingin fokus dalam menumbuhkan satu komitmen saja. Bahwa aku tidak akan mencoba untuk memberikan kenangan buruk kepadanya. Aku dapat memberikan sesuatu agar hidupku, mungkin juga hidupnya tidak terombang-ambing. Ketika kami lulus memiliki acuan dan pegangan bagaimana menempuh masa depan. Apakah ini pengambilan keputusan terlalu cepat? Terlalu dini? Bukankah jalan itu masih panjang?[]

 

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori