Oleh: Kyan | 18/09/2006

Menghadapi Hari Wisuda 8 September

Senin, 18 September 2006

Menghadapi Hari Wisuda 8 September

**

Mengikuti mata kuliah Modal Ventura berhubungan erat dengan teori-teori ekonomi. Aku kelimpungan kurang memahaminya. Temanku, khususnya Dian dan Aril sangat kaya wawasannya soal ekonomi. Katanya karena mereka sering menonton Metro-TV dan baca koran. Sedangkan aku terlena dengan bacaan tasawuf dan filsafat. Makanya aku akan sering main di perpustakaan buat membaca koran Republika dan Pikiran Rakyat. Aku harus memahami perkembangan ekonomi secara makro maupun mikro. Supaya pikiranku ketika kuliah bisa nyambung dengan pikiran dosen. Kalau nyambung bakal terjadi diskusi yang panjang dan ditemukan pikiran-pikiran baru dah hal-hal baru. Selama ini saat kuliah aku kebanyakan diam.

Begitulah gunanya kuliah supaya ada pembelajaran dan asah-mengasahi antara dosen dengan mahasiswa. Terjadi dialektika antara mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Setiap mahasiswa mempunyai pikiran dan latar belakang berbeda. Kalau di bangku kuliah selalu saja aku ini merasa bodoh tak tahu apa-apa. Sedangkan mereka pada pintar. Percuma IP-ku paling gede sedangkan ilmunya rendah dibanding yang lain. Tapi ini haus jadi motivasi buatku agar berbanding lurus antara nilai dengan pengayaan ilmuku. Kalau sudah pintar ngapain juga kuliah, sudah saja jadi presiden.

Aku melihat kalender akademik. Kami diharuskan wisuda delapan September, setahun kurang dari sekarang. Kami akan selesai perkuliahan enam semester dan selesai juga tugas akhir. Namun sampai saat ini aku masih belum menemukan permasalahan apa sebagai bahan untuk menyusun tugas akhir. Mencari gagasan mesti kemana. Mencari-cari gagasan ke dalam diri. Aku harus sering melakukan perenungan. Tentunya harus bermula dengan memperkaya bacaan. Aku ingin menelaah tugas akhir punya orang.

Aku harus sering main ke perpustakaan. Sekarang harus distop membaca buku-buku selain ekonomi. Jikapun membeli buku paling Tafsir al-Mishbah, Fi Zhilal dan buku ekonomi syariah. Membeli komputer uangnya terpakai terus alokasinya. Aku mau bilang ke ibuku aku ingin membeli komputer. Pasti ibuku bakal memberiku uang. Tapi aku jangan lagi meminta-minta pada ibuku yang dapat memberatkan. Aku harus pandai menganalisis perekonomian Indonesia dan dunia. Aku harus cakap menjelaskan ekonomi Islam yang bukan lagi sekedar wacana, tapi telah membumi ke ranah sektor riil. Aku bakal jadi sarjana ekonomi Islam. Aku bakal menjadi ekonom muslim. Aku pantas jadi akademisi, jadi praktisi pun aku bisa. Lantas apa yang tidak bisa bagiku?

Membaca buku “Demokrasi Religius” sebagai peta pemikiran Caknur dan Amin Rais. Keduanya tokoh nasional yang berkecimpung membawa gerbong Indonesia menuju iklim demokrasi. Apakah sejalan atau bertentangan antara Islam dengan demokrasi? Apakah memang kedaulatan rakyat di Barat berlaku secara mutlak. Apakah benar suara mayoritas adalah suara Tuhan. Suara mayoritas yang bagaimanakah yang menjadi keputusan. Bagaimana dengan ungkapan Imam Syafii bahwa kumpulan orang berilmu tak akan bersepakat dalam kemungkaran. Tidak akan bersepakat dalam kesalahan. Apakah demokrasi itu tujuan atau hanya sekedar alat.

Katanya substansi demokrasi adalah sejalan dengan Islam. Namun ada sisi perbedaannya. Memang banyak pendapat yang saling bersinggungan, saling mendukung dan bertentangan. Aku masih belum bisa memilih dan aku termasuk golongan mana dari pendapat mereka. Namun saat ini aku masih menganggap esensi demokrasi merupakan prosesi dalam Islam. Demokrasi adalah menuju cita-cita Islam. Mungkin cita-cita demokrasi adalah sama dengan cita-cita Islam. Katanya kalau orientasi Islam adalah menuju Allah, sedangkan demokrasi sekedar pencapaian materi. Kata siapa orientasi materi. Apakah itu anggapan dari orang-orang Timur kepada Barat? Bila manusia mendengarkan hati nuraninya dan itupun tak terkotori, niscaya akan didapatkan kebenaran sejati.

Apakah bisa aku menjadi seorang tokoh. Mereka menjadi tokoh memang karena memiliki daya intelektualitas tinggi. Sedangkan aku ini merasa bodoh tak mampu apa-apa. Wajar mereka berhasil karena latar belakang keluarga dan lingkungan sangat mendukung. Sedangkan aku sangat jauh dari harapan. Tapi aku tak akan menyerah pada nasib. Jika mereka bisa, akupun bisa, sebisa apa yang kuanggap bisa. Aku mempunyai definisi sendiri tentang kesuksesan diriku. Tak ingin disamakan meskipun sama. Berbeda satu dengan yang lain.

Aku lebih tertarik membaca buku politik, filsafat, tasawuf, dan hal lain selain ekonomi. Aku ini anak ekonomi. Aku ingin jadi sarjana ekonomi Islam. Aku ingin membaca buku-buku ekonomi Islam. Mungkin suatu saat aku mau. Aku haus mengoleksi buku-buku ekonomi Islam untuk kubaca. Tapi selingannya tetap buku tafsir dan novel. Kalau ekonomi terus bakal monoton. Tapi aku harus konsentrasi secara lebih baik. Aku bisa melakukannya. Aku harus bisa meluangkan dan menetapkan waktu untuk mengulang mata kuliah. Selama ini seolah-olah tak sempat. Sekarang harus sempat. Dengan fokus bisa mencapai yang terbaik. Itu bukti kesungguhan diri. Diriku tetap saja tak bisa dipaksa dan monoton. Aku ini bukan mesin, tapi aku punya akal. Jiwaku adalah jiwa yang bertingkat. Bukan sekedar mesin dengan sistem mekanikanya.[]

**

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori