Oleh: Kyan | 19/09/2006

Mencuri Pandangan Pertama

Selasa, 19 September 2006

Mencuri Pandangan Pertama

**

Ekonomi Islam tidak bisa dikatakan normatif—sebagaimana seharusnya, atau positif—sebagaimana adanya, tapi keduanya saling terkait atau terintergrasi. Normatif adalah penderivasian dari nilai-nilai syariah, dari Alquran dan Sunnah. Tapi ilmu ekonomi sangat terkait dengan syarat nilai yang kadang bisa berubah-ubah, sesuai pemaknaan atas sumber ajaran Islam tersebut. Sehingga maksud positif karena sebuah realitas yang diangkat ke muka, untuk dicarikan solusinya dengan berdasarkan formulasi normatif.

Begitupun ekonomi Keynesian dan Marxis sebelumnya adalah sebuah realitas yang diangkat menjadi teori-teori ekonomi. Dimana mungkin racikannya dengan panduan moral Alkitab dan humanisme. Lalu berusaha untuk menjadi realitas yang diharapkan sebagaimana teori-teorinya. Begitupun sistem ekonomi Islam adalah sebuah harapan untuk menjadi realitas yang sesungguhnya dengan panduan kalam Tuhan.

Membaca buku langsung karangan pakar ekonomi, sungguh bergizi. Memang itu buku terjemahan. Buku terjemahan kembali ke editor atau penerjamhnya. Kalau ia menguasai bidangnya niscaya bakal menghasilkan terjemahan yang baik. Segala sesuatu harus dikembalikan pada ahlinya. Niscaya akan memuaskan hasil karyanya. Bagai orang yang serius ingin menekuni bidang tertentu, harus menyadari bakal ada tantangan yang sangat berat. Sebuah pengorbanan mencerminkan bersemainya pengharapan dalam impian.

Membaca sambil menonton TV memang tidak fokus. Tapi tidak ingin terlewatkan yang dalam beberapa hari ini ada film pendek karya sineas wanita yang disponsori Lux. Kuingin dapat kata-kata mutiaranya. Seperti yang kudapatkan malam ini: Kecantikan adalah kebahagiaan untuk meraih kesempatan, kecantikan adalah kekuatan untuk berbagai kebahagiaan, dan kecantikan adalah kekuatan untuk berani bertindak. Menemukan kata-kata indah memberiku keindahan. Kata-kata adalah simbol atau alegoris dari perasaan dan pikiran manusia. Manusia dalam menghayati hidupnya melahirkan simbol-simbol sebagai jejaknya. Seperti maksud Nizhami, kegilaan Qais pada Laila adalah alegoris kecintaan hamba pada Tuhan.

Hari ini kuliah Praktika Statistika Bisnis, perlu komputer bagus. Minimal pentium tiga. Aku harus jadi membeli komputer baru. Komputer adalah media belajar yang tidak bisa tergantikan. Aku harus bisa menabung. Buku tabungannya sudah ada. Cuma untuk target 2006 aku harus bisa membeli Tafsir Fi Zhilal enam buku lagi seharga seratuslima puluhribu sementara uang yang kupegang empatpuluhribu ditambah di tabungan limapuluhribu. Bila uang dollar Singapore kutukar bakal jadi berapa. Sekarang penerbit Gema Insani Pers sedang ada diskon tigapuluhlima persen. Jelasnya aku mesti melihat lagi infonya. Besok aku harus ke perpustakaan dan mengambil uang dollar di Neng Titin. Tapi paling cuma dapat berapa bila kutukarkan ke Money Changer.

Tapi bahagialah aku hari ini. Aku selalu merasa bahagia saat ini. Keceriaan yang termaktub dalam cermin diri semoga tidak lapuk dan rapuh. Dengan optimis hidupku semoga berasal dari kekuatan pikiranku. Namun ketakutan besar bukan berasal dari adanya kekurangan, melainkan datang dari kekuatan kita yang melampaui batas. Tapi bukankah itu sebuah kesombongan. Sesungguhnya kebesaran adalah dari Tuhan. Tapi bukankah manusia harus meniru Tuhan. Namun apakah merasa kekurangan juga merupakan keriyaan atau sikap ujub. Karena merasa orang yang menjadi paling baik sebagai makhuk penuh kekurangan. Jadi sikapku harus bagaimana? Kuserahkan semuanya pada-Mu. Ya Allah. Tiada daya dan kekuatan semua kembali pada-Mu.

Suka dan duka akan silih berganti. Bila kemarin kurasakan bahagia, saat ini tiba-tiba saja aku merasa sedih. Datangnya sedih bila aku memikirkan soal cinta. Kurasa kegundahanku bila aku tak bisa meyimpulkan sesuatu dari pikiranku. Katanya mencintai tidak datang dari ucapan, tapi dari perbuatan. Cinta datang dari seberapa jauh aku menjaga orang yang yang amat sangat kucintai. Mungkin selama ini aku belum memberikan penjagaan dan perhatian yang  sewajarnya sebagaimana orang mencintai orang.

Sudah dua tahun lebih, sejak pertemuan dengannya pertama kali. Ketika dia bertanya padaku tentang kapan dimulainya perkuliahan. Aku masih teringat pertemuan itu di depan pintu gerbang kampus di pinggir jalan. Entah aku mengikuti kemana dia pergi, tapi aku melihatnya lagi ketika dia baru beranjak dari makan batagor. Tidak pernah terpikir akan berlanjut sampai detik ini setelah mencuri pandang pertama itu. Ketika pertemuan pertama dan beberapa selajutnya tak ada perasaan apa-apa. Mungkin benar ungkapan “Cinta datang karena ada kedekatan”.

Aku gak bisa berpikir jika seandainya dia menikah dengan orang lain, apakah aku akan menangis atau tak akan menagis sama sekali. Ya karena aku sudah bersahabat dengan tangisan. Tangisan sudah kutaklukan dan sudah menyatu dengan dengan diri tanpa tangisan. Sehingga nampaklah aku tak akan pernah menangis menerima nasib terburuk sekalipun. Seolah-olah air mataku telah kering. Aku telah buat terhadap perempaun lain, aku menjadi menutup diri buat orang lain. Kupikirkan kenapa hanya dia. Akankah aku jadi gila layaknya Qais yang menjadi gila karena Laila. Aku berpikir apakah dia merupakan yang terbaik buatku. Tak adakah yang lebih baik dari dia. Aku berkata sangat banyak permpuan yang lebih biak tapi…

Aku harus berkomitmen untuk mencoba pada satu cinta. Lantas bagaimana dengan ungkapan bahwa setiap orang berhak mendapatkan seorang yang terbaik. Memang hidup adalah pilihan. Mau memilih kerangka berpikir mana dalam melihat dan menjalani kehidupan ini. Dunia penuh dengan perang propaganda cara berpikir. Baik itu melalui diskusi, debat, dialog, film, media dan segala hal media penyampaian informasi. Apakah akan memilih wordview Islam, lokal wisdom, global wisdom? Semuanya ada proporsinya. Bukankah kebenaran adalah dimana semua orang menyepakatinya? Anggukan universal.

Kakak Iparku bilang, ”Perempuan itu baik dan lebih baik dibanding perempuan Sunda.” Itulah pandangan subjektif berdasarkan pengalamannya. Memang perempuan Sunda setelah menikah kebanyakan diam saja di rumah. Kalau perempuan Jawa selalu ikut membantu suaminya dalam mencari nafkah. Temanku juga bilang, “Dia bakal taat pada suami, karena dia berilmu”. Semoga saja begitu dan menjadi doa untuknya.

Dia pernah memerintahkan lebih baik datang ke orang tua langsung tanpa sepengetahuannya sebagai bukti keseriusan. Tapi untuk saat ini apa yang harus dibanggakan di hadapan keluarganya? Aku gak punya apa-apa. Masih belum punya apa-apa. Bukan berarti aku tak mau serius, tapi sungguh sebelum kedatangan pada perempaun manapun, aku harus menjadi kebanggaan kelurganya. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi bukti kesungguhan dalam meminangnya. Namun saat ini aku harus bisa meyakinkan dirinya bahwa aku sungguh mencintainya. Memang belum memiliki bukti konkrit, tapi betapa teramat sangat aku mencintainya.

Ah, aku tak ingin berkata apa-apa padanya. Karena mencintai tidak datang dari ucapan, melainkan dari sikap dan perbuatan. Suatu saat nanti aku akan meminta kepastian padanya. Saat ini hubunganku dengannya tidak pasti. Merasakah dia ada hubungan spesial denganku? Yang pasti akulah cowok yang paling dekat dengannya saat ini di kampus. Namun entah kehidupan dia di tempat pekerjaannya. Tapi aku melihat dan membaca jiwanya, dia sudah menemukan dunia di pekerjaannya. Di kampus hanyalah raganya sekedar mengugurkan kewajiban pada keluarganya. Ketika bertemu dengannya tidak bertemu lagi dengan diri seutuhnya.

Aku hanya bertemu dengan raganya tidak dengan jiwanya. Jiwanya entah sudah dimana. Sungguh sayang dengan kehidupannya tak bisa menikmati detik demi detik yang terjadi. Sudah terbelenggu oleh doktrin-doktrin yang membelenggu. Tapi ini hanya prasangka saja. Bagaimanakah untuk menyelamatkan hidupnya. Setidaknya dia bisa menikmati masa muda. Bukan hanya perempuan yang bisa dibeli dengan materi. Melainkan perempuan yang berani mengatakan tidak, ketika ditindas oleh kehidupan.

Sekarang aku harus bisa meyakinkan dirinya bahwa aku sungguh mencintainya. Memang belum ada bukti konkrit. Tapi betapa teramat sangat aku mencintainya. Aku tak ingin berkata-kata apa-apa adanya. Detik demi detik harus kunikmati. Aku harus menyadari dalam pertemuan pasti ada perpisahan. Meskipun berat dan sedih tapi semuanya harus kujalani. Meskipun itu sejenak sangat terasa berat menerima kenyataan yang akan terjadi. Memang perjalanan hidup tak selamanya berjalan seperti yang kumau. Aku harus menjalani takdir kehidupan. Mungkin waktulah yang bisa mereggutmu dari aku.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori