Oleh: Kyan | 22/09/2006

Mengakhiri Kebahagiaan Dalam Pertemuan

Jumat, 22 September 2006

 Mengakhiri Kebahagiaan Dalam Pertemuan

**

Bila gagasan tidak segera ditulis, hilang lenyaplah dan susah untuk diingat kembali. Menulis setiap hari secara konsisten memerlukan perjuangan berat. Memang hidup adalah perjuangan. Menulis adalah perjuangan. Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer, menulis sudah menjadi jalan hidupnya. Sejak kecil beliau dididik ayahnya agar berani mengatakan kebenaran meski itu pahit. Beliau seorang penulis dengan idealisme tinggi, setinggi rumahnya yang tiga tingkat.

Sebelumnya aku menganggap penulis buku pop saja yang bisa jadi sumber pundi-pundi keuangan. Menulis buku semi porno misalnya supaya bukunya cepat laris meski kurang berkualitas segi isinya. Sebelumnya menjadi penulis ideal bahkan menjadi penulis saja dari segi materi tak bisa diharapkan. Tapi sekarang penulis banyak yang menjadi kaya raya dan sudah disejajarkan dengan selebritis. Niscaya menjadi penulis akan mendapatkan segalanya, begitu seloroh Hilman Hariwijaya,  pengarang serial terlaris ‘Lupus’.

Tadi siang aku menghadiri Dialog Lintas Agama mengenai puasa. Dalam perspektif tiap agama, tujuan puasa mendapat titik temu, yakni peningkatan kualitas diri untuk kehidupan. Hanya cara atau metode puasanya saja yang berbeda. Tapi intinya sama-sama menahan atau mengendalikan. Di kampus akhir-akhir ini jadi sering diadakan dialog lintas agama. Kupikir ini perkembangan ke arah positif. Berbeda beda bukan membeda-bedakan. Mencari titik persamaan untuk kemaslahatan bangsa. Sudah tidak zamannya lagi membeda-bedakan untuk mencari pertentangan dan merasa paling benar. Agama yang ada sekarang mungkin hanyalah tafsiran yang melembaga terhadap satu kebenaran sejati.

Kuliah Manajemen Syariah-nya Pak Anton Athoillah, ketua jurusan kami tidak jadi masuk. Lantas aku dengan teman-teman mencoba instal SPSS di komputer Robbi. Aku senang bisa bareng-bareng dengan mereka, mengborol dengan mereka. Sebab tinggal berapa bulan lagi suasana seperti itu segera berakhir. Maka detik demi detiknya harus kunikmati. Aku harus menyadari dalam pertemuan pasti ada perpisahan. Meskipun berat dan sedih, tapi semuanya harus kujalani. Terasa berat untuk berpisah dengan sobat-sobat di kampus dan betapa sakit yang teramat sangat bila aku ditakdirkan berpisah dengan seorang yang kucintai dan kusayangi.

Kenapa sampai saat ini aku belum bisa meyakinkan dirinya bahwa aku mampu memberinya kebahagiaan. Memang kebahagiaan adalah anugerah Tuhan. Hanya bisa diperjuangkan tanpa kita tahu akan mendapatkannya atau tidak. Biarlah kesedihan seperti ini mengalir, mengayuh, mengada, bersama takdir yang tak tahu akan mengarah kemana takdirku. Aku hanya bisa menikmati detik demi detik perjalanan menuju takdirku sendiri.

Kunikamati saja bulan demi bulan, munggu demi minggu, hari demi hari saat pertemuan dengannya. Aku akan memandangnya sepanjang kesempatan dari yang ada. Aku ingin terus memandangnya. Mati pun setelah memandangnya dengan puas. Aku ingin pula menatap wajah yang teduh itu, ingin kukecup kening dan bibir merahnya. Untuk menghiaskan daya kreativitasku. Biarkan waktu yang merenggutnya dariku. Aku tak bisa melawan waktu dan aku tak bisa melawan berlalunya waktu. Aku harus menyatu dengan waktu.

Kunikmati senang dan ceria bercengkrama dan bercanda tawa bersama mereka. Namun setelah sampai di kosan sendirian aku merasa tiba-tiba menjadi sedih. Padahal aku baru saja kudapati keceriaan bersamanya.  Apakah gara-gara memikirkan kata-kata yang muncul di bibir merahnya yang menghapuskan segala pengharapanku selama ini. Segala perasaaan dan keinginanku merasa sudah tahu semuanya. Aku tak ingin berpura-pura lagi. Namun, apakah kesungguhnaku hanya dianggap lelucon belaka. Mungkin aku ini dianggap badut. Kesungguhanku tak bermakna apa-apa dalam pandangannya. Sudah jelas aku tak punya apa-apa bagai punggung merindukan bulan.

Aku memang lemah. Mungin dia sudah menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Dia harus mendapatkan yang terbaik, harus lebih baik dariku. Meskipun diantara kita susah untuk dilihat mana yang terbaik karena perbedaan persfektif. Setiap orang tak ingin dibanding-bandingkan. Semua orang mempunyai perspektif masing-masing dalam menilai. Mungkin aku dalam pandangannya aku terlalu banyak kekurangannya. Mungkin tak pantas aku untuk mendapatkannya. Lantas kenapa aku berkomitmen untuk selalu mencintai dan membahagiakan dirinya.

Sampai saat ini aku belum bisa meyakinkan dirinya bahwa aku mampu memberinya kebahagiaan. Memang kebahagiaan adalah anugerah Tuhan. Hanya bisa diperjuangkan tanpa kita tahu akan didapatkan atau tidak. Biarlah kesedihan seperti ini mengalir, mengayuh, mengada, bersama takdir yang tak tau akan mengarah kemana takdirku. Aku hanya bisa menikmati detik demi detik perjalanan menuju takdirku sendiri. Salahku tidak ingin meminta kepastian. Meskipun akan satu saat nanti akan kuminta mau dibawa kemana hubungan ini. Apakah tak ingin jawaban karena aku belum siap untuk menerima jawabannya? Padahal jawabannya cuma ya atau tidak. Kupikir dia akan menjawab tidak pada cintaku.

Bukankah suatu materi jika dibiarkan tanpa diberikan respon positif ataupun negatif akan lebih mempercepat menjadi racun? Dibandingkan jika direspon negatif sekalipun. Sebab diam akan lebih menyakitkan. Tapi jika segera meminta jawaban, ketika jawaban ya apakah aku akan langsung mendatangi orang tuanya. Dan tidak akan segera mencari penggantinya yang lebih baik. Apakah perasaanku lebih nikmat ketika suasana seperti ini? Aku yang lemah ini pantasnya menerima dan menikmati perasaan ini.

Berilah aku keceriaan dan kebahagiaan untuk menjalani hari-hariku. Aku ingin menjadi semakin arif menyikapi hidup dan menjadi lebih faham tentang senandung lirih kehidupan. Nyanyian rinduku bisa menghentakkan dan memekakkan bagi si pendengar yang dibuluh perindu. Kenapa kesedihan selalu melanda jiwaku. Kesedihan yang datang bertubi-tubi memenuhi ruang jiwaku. Para dewi-dewi malam tak pernah dan tak ingin menghiburku dalam rengkuhannya. Para dermawan tak pernah memberikan pundi-pundi agar aku bisa mencicipi ruh kehidupan. Hanya Dia yang mampu memberikan segalanya dengan penuh kasih. Aku hanya bisa kembali pada-Nya.

Antara diorama cinta dan tugas akhir. Muncullah ketakutan yang dibuat sendiri. Susah mendapatkan rumusan masalah Tugas Akhir. Aku bisa mengatakan bahwa aku bisa. Aku tertekan karena terbebani oleh ada keharusan menjadi yang terbaik. Tugas akhirnya karena harus berkualitas. Meskipun sulit tapi harus dijalani. Meyadari dengan pasti bakal menemukan segala kesulitan dan memerlukan pengorbanan. Tapi aku bisa menjadi yang kuingini.

Kegelisahan dan kegundahanku hanyalah beban yang kuciptakan sendiri. Sebab bermula dari sebuah komiten dan nanti akan terus tersakiti. Kenapa aku begitu tergila-gila padamu, duhai cantikku? Mengapa kau diam saja, mengapa engkau pura-pura? Mengapa engkau membohongiku? Sampai kapan engkau mendiamkanku? Mungkin aku tak pernah memahamaimu. Maafkan saja diriku yang tak pernah memahamimu! Aku tak bisa memahami dengan sepenuh hatiku. Berilah aku waktu untuk bisa memahamimu dalam membahagiakanmu sepanjang hayatku. Berikan aku waktu dalam sepenggalan waktumu.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori