Oleh: Kyan | 22/09/2006

Panggang Kebahagiaan

Panggang Kebahagiaan

**

… Sampai saat ini aku belum bisa meyakinkan dirinya bahwa aku mampu memberinya kebahagiaan. Memang kebahagiaan adalah anugerah Tuhan. Hanya bisa diperjuangkan tanpa kita tahu akan didapatkan atau tidak. Biarlah kesedihan seperti ini mengalir, mengayuh, mengada, bersama takdir yang tak tahu akan mengarah kemana takdirku. Aku hanya bisa menikmati detik demi detik perjalanan menuju takdirku sendiri.

Kunikamati saja bulan demi bulan, munggu demi minggu, hari demi hari saat pertemuan dengannya. Aku akan memandangnya sepanjang kesempatan. Aku ingin terus memandangnya. Mati pun setelah memandangnya dengn puas. Aku ingin pula menatap wajah yang teduh itu, ingin kukecup kening dan bibir merahnya. Ingin menghiaskan daya kreativitasku sendiri. Biarkan waktu yang merenggutnya dariku. Aku tak bisa melawan waktu, aku tak bisa melawan berlalunya waktu. Aku harus menyatu dengan waktu….

Senang dan ceria bisa bercengkrama bercanda tawa bersama mereka. Namun setelah sampai di kosan aku merasa tiba-tiba menjadi sedih. Padahal aku baru saja kudapati keceriaan bersamanya.  Apakah gara-gara memikirkan kata-kata yang muncul di bibir merahnya yang menghapuskan segala pengharapanku selama ini.

Segala perasaaan dan keinginanku merasa sudah tahu semuanya. Aku tak ingin berpura-pura lagi. Namun, apakah kesungguhnaku hanya dianggap lelucon belaka. Mungkin aku ini dianggap badut. Kesungguhanku tak bermakna apa-apa dalam pandangannya. Sudah jelas aku tak punya apa-apa.

Aku memang lemah. Mungin dia sudah memenukan seseorang yang lebih baik dariku. Dia harus mendapatkan yang terbaik, harus lebih baik dariku. Meskipun diantara kita susah untuk dilihat mana yang terbaik. Orang tak ingin dibanding-bandingkan. Semua orang mempunyai perspektif masing-masing dalam menilai. Mungkin aku dalam pandangannya menjadi yang terbaik. Aku terlalu banyak kekurangannya. Mungkin tak pentas aku untuk mendapatkannya. Aku hanya punya komitmen untuk selalu mencintai dan membahagiakan dirinya.

Sampai saat ini aku belum bisa meyakinkan dirinya bahwa aku mampu memberinya kebahagiaan. Memang kebahagiaan adalah anugerah Tuhan. Hanya bisa diperjuangkan tanpa kita tahu akan didapatkan atau tidak. Biarlah kesedihan seperti ini mengalir, mengayuh, mengada, bersama takdir yang tak tau akan mengarah kemana takdirku. Aku hanya bisa menikmati detik demi detik perjalanan menuju takdirku sendiri.

Salahku tidak ingin meminta kepastian. Meskipun akan satu saat nanti akan kuminta mau dibawa kemana hubungan ini. Apakah tak ingin itu karena aku belum siap untuk menerima jawabannya? Padahal jawaban cuma ya atau tidak. Bukankah suatu materi jika dibiarkan tanpa diber respon positif ataupun negatif akan lebih mempercepat menjadi racun? Dibandingkan jika direspon negatif.

Sebab diam akan lebih menyakitkan. Tapi jika segera meminta jawaban, ketika jawaban ya apakah aku akan langsung mendatangi orang tuanya. Dan tidak akan segera mencari penggantinya yang lebih baik. Apakah perasaanku lebih nikmat ketika suasana seperti ini?

Aku yang lemah ini pantasnya menerima dan menikmati perasaan ini. Biarlah keadaan seperti ini mengalir, mengayuh, mengada bersama takdir yang tak tahu akan mengarah kemana. Aku hanya bisa menikmati detik demi detik perjalanan menuju takdirku sendiri.

Berilah aku keceriaan dan kebahagiaan tuk menjalani hari-hariku. Aku ingin menjadi semakin arif menyikapi hidup dan menjadi lebih faham tentang senandung lirih kehidupan. Nyanyian rinduku bisa menghentakkan dan memekakkan bagi si pendengar yang dibuluh peirndu. Kenapa kesedihan selalu melanda jiwaku. Kesedihan yang datang bertubi-tubi memenuhi ruang jiwaku. Para dewi-dewi malam tak pernah dan tak ingin menghiburku dalam rengkuhannya. Para dermawan tak pernah memberikan pundi-pundi agar aku bisa mencicipi ruh kehidupan. Hanya-Nyalah yang mampu memberikan segalanya dengan penuh kasih. Aku hanya bisa kembali pada-Nya.

**

Antara diorama cinta dan Tugas Akhir. Muncul ketakutan yang dibuat sendiri, susah mendapatkan rumusan masalah Tugas Akhir. Aku bisa mengatakan bahwa aku bisa. Aku tertekan karena terbebani oleh ada keharusan menjadi yang terbaik. Tugas akhirnya karena harus berkualitas. Meskipun sulit tapi harus dijalani. Pasti bakal menemukan kesulitan. Perlu pengorbanan. Aku bisa menjadi yang kuingini.

Kunikamati saja bulan demi bulan, munggu demi minggu, hari demi hari saat pertemuan dengannya. Aku akan memandangnya sepanjang kesempatan. Aku ingin terus memandangnya. Mati pun setelah memandangnya dengn puas. Aku ingin pula menatap wajah yang teduh itu, ingin kukecup kening dan bibir merahnya. Ingin menghiaskan daya kreativitasku sendiri. Biarkan waktu yang merenggutnya dariku. Aku tak bisa melawan waktu, aku tak bisa melawan berlalunya waktu. Aku harus menyatu dengan waktu.

Kegelisahan dan kegundahanku hanyalah beban yang kuciptakan sendiri. Sebab bermula dari sebuah komiten dan nanti akan terus tersaikit. Kenapa aku begitu tergila-gila padamu, duhai cantikku? Mengapa kau diam saja, mengapa engkau pura-pura? Mengapa engkau membohongiku? Sampai kapan engaku mendiamkamku? Mungkin aku tak pernah memahamaimu. Maafkan saja diriku yang tak pernah memahamimu! Aku tak bisa memahami dengan sepenuh hatiku. Berilah aku waktu untuk bisa memahamimu, membahagiakanmu sepanjang hayatku. Berikan aku waktu dalam sepenggalan waktumu…[]

** Jumat, 22 September 2006


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori