Oleh: Kyan | 26/09/2006

Filosofis Diri Dalam Melepas Ketakceriaan

Selasa, 26 September 2006

 Filosofis Diri Dalam Melepas Ketakceriaan

**

Pulang kuliah sore. Aku sempat masak nasi lagi sejak awal Ramadhan, untuk berbuka dan sahur. Sewaktu aku mencuci beras, menyembul kata-kata untuk menggambarkan keadaan diriku. Aku telah menemukan filosofis diriku bahwa aku ini bukan siapa-siapa, tak memiliki apa-apa, tak mampu apa-apa, dan tak akan menjadi apa-apa. Kekuranganlah yang menjadi kelebihanku. Ini bukan ketawadhuan, tapi memang begitulah adanya diriku.

Selepas pulang kuliah, aku selalu merasakan ketidakceriaan. Aku bingung sebenarnya apa yang kuinginkan. Aku bingung dengan apa yang kuinginkan sebenarnya. Bukankah aku ingin menikmati detik demi detik perjalanan ini. Aku ingin menikmati hari-hari dalam perjalanan setahun ke depan yang semakin berkurang. Tidak seperti Dudi yang menjelang Maghrib ia datang ke kosanku dengan wajah berseri-seri. Dia bercerita panjang lebar mencurahkan rasa bahagianya di hari ini. Katanya ia baru pulang dari rumah Teh Riska, seorang akhwat yang sangat dia idamkan. Ia baru mengungkapkan segala isi hati kepadanya dan perasaannya sudah plong.

Ia bilang sekarang tak ada lagi yang membebani. Ia mengungkapkannya lewat sebuah cerpen karya sendiri. Akupun sempat membacanya dan lumayan bagus. Ia sudah bisa mengeluarkan satu karya. Emang referensi novel dia banyak. Jadi wajar dia bisa menulis novel. Kapan aku sempat membuat karya yang sama. Aku termasuk jarang membaca novel, aku lebih tertarik pada kajian-kajian, terutama kajian Islam. Tapi sekarang ingin juga kubaca Tetralogi Pram.

Tadinya mau menyetop membaca novel atau bacaan lain, karena ingin konsentrasi membaca buku-buku ekonomi syariah. Tapi terasa monoton yang ingin diselingi dengan membaca novel. Lagian kosanku selalu ribut dan selalu saja ikut menonton tontonan yang hanya membunuh waktu. Sudah punya jadwal rutin Metro-TV ditambah jam tayang tidur sering panjang. Terasa waktuku tak cukup untuk belajar. Celakalah bagi orang yang menyia-nyiakan waktunya. Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.

Setiap hari aku selalu bersedih. Teman-teman bilang kenapa bersedih. Ai alias Siti Nuraeni sering memberikan support padaku. Ia selalu baik padaku. Katanya kenapa kita selalu memikirkan orang yang tak pernah memikirkan kita. Sementara ada orang lain yang lebih sayang, kita lupakan begitu saja. Memang aku mengalami hal demikian. Tapi cintaku hanya untuk seorang yang selama ini kunantikan. Aku sedang mencoba membangun setia sebelum berumah tangga. Meski sudah diperlakukan sinis atau marah, tak pernah aku membencinya. Cintaku tak pernah berubah menjadi benci. Apakah ada masanya? Entah kapan aku bisa melupakannya. Andaikan aku sudah punya segalanya dalam diriku.

Sulit kunikmati segala perasaan yang berkecamuk tak beraturan ini. Sebenarnya aku ingin apa. Mengharap cinta datang menyapaku. Cinta harus dicari dan dikejar sampai aku menemukan dan bersatu dalam iramanya. Perjuanganku tak pernah selesai. Ingin kunikmati hidup ini. Ingin kulepas dari ketidakceriaan ini. Selalu saja suasana kubat jadi sedih. Semua tak bisa membuatku bahagia. Kenapa aku harus selalu terpaut padanya. Belum bisa kutemukan seseorang yang lebih baik darinya. Apakah karena gak membuka diri untuk yang lain. Mana bisa kuberpaling dan melupakan jika selalu bertemu dengannya.

Mungkin jika perpisahan harus terjadi, aku bisa melupakannya. Namun aku akan menyesal bila sebelum perpisahan aku tak sempat mengungkapkan seagla perasaanku yang amat dalam. Aku sungguh mencintainya. Mungkin kata-kata tak bisa menggambarkan betapa dalamnya cintaku padanya. Aku bahagia mencintainya. Meski baru sekedar kata-kata dan tak akan bermakna bila tak disertai dengan bukti nyata. Untuk saat ini hanya itulah yang bisa kuperbuat. Aku hanya ingin bersikap jujur pada diriku sendiri. Cintaku tak bisa dirasai oleh diriku sendiri, tapi cintaku harus diberikan padanya. Perasaan cintaku harus dibagi dengannya. Jangan dinikmati sendiri.

Setiap orang berbeda-beda dengan keinginan, motif dan tujuannya. Jangan memaksakan kehendak dan jangan membungkam ketika orang bicara. Semuanya harus dipandang positif dan tenang. Jujur aku kadang menyikapinya secara tegang. Dan ketika aku bicara terlihat seperti marah. Aku terkadang terpancing emosi. Susah untuk menjadi tenang. Semoga Tuhan selalu memberkan ketenangan padaku dan memberikan rasa cinta yang teramat dalam ketika mengabdi pada-Nya. Cintaku pada makhluk-Nya tidak membutakan, tapi menyinarkan. Mungkin selama ini aku selalu dihantui kegelisahan karena cintaku pada makhluk mengabaikan cinta-Nya. Namun Dia jualah yang  memberi rasa ini padaku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori