Oleh: Kyan | 28/09/2006

Bersatu Dalam Kesendirian

Kamis, 28 September 2006

Bersatu Dalam Kesendirian

**

Merasakan saat-saat berbuka dan sahur. Saat kesendirian begini sangat terasa adanya kesenyapan. Aku harus mengukur diri, layakkah untuk mendapatkannya? Lebih baik aku terus sendirian saja. Aku harus bahagia dengan kesendirianku. Aku harus menemukan kebahagiaan dalam kesendirianku. Bila aku tak mendapatkan cintanya, pilihan kedua adalah berjalan dalam sendirian. Memperkaya makna hidup agar tercipta kedamaian pikiran.

Begitu dengan ibuku di Batam, beliau sendirian. Hanya dengan teman-temannya. Juga ayahku di Tasik selatan, ia sudah gak bisa kemana-mana, karena kakinya patah tertabrak motor beberapa bulan lalu. Sudah lima tahun aku tak bertemu dengannya. Di rumah kosong di pinggiran hutan ia berdiam dan merenungi diri. Setelah sekian lama ia berkelana dan tak pulang-pulang ke kampung halaman, sampai mengabaikan anak-anaknya. Sekarang ia yang diabaikan oeh anak-anaknya.

Saat ini aku merasakan rindu pada keduanya. Tapi lebaran nanti aku ingin di kosan saja. Ingin mempelajari ekonomi syariah dan menysun tugas akhir. Apakah sama sepertiku, saat buka dan sahur ia selalu sendirian. Kakakku yang pertama pasti ia sendirian juga di rumah Batujajar. Kakakku yang kedua semoga saja dia merasakan kegembiraan di rumah Nenek di Tasik. Kakakku yang ketiga yang sudah menikah, suaminya kemarin terjatuh dari bangunan lantai tiga. Memang suaminya seorang kontraktor bangunan, mulai dari real estate sampai rumah  RSSS, sangat sederhana sekali.

Ya Allah, semoga keluargaku ternaungi dalam rahmat-Mu. Limpahkan kepada mereka kebahagiaan dan keberkahan rezeki yang berlimpah. Kedua kakakku belum menemukan pasangannya, maka temukanlah mereka dengan pasangan hidupnya segera. Karena menikah adalah tuntutan fitrah sebagai makhluk, agar sampai pada-Mu bersama seorang teman. Akupun ingin mendambakan sebuah keluarga yang penuh kasih sayang. Belum kutemui suasana dalam keluargaku saat berkumpul semuanya dalam naungan kasih sayang. Andai aku menikah nanti, ingin bersungguh-sugguh kubangun keluarga penuh cinta, penuh kasih sayang, penuh senyuman dalam naungan rahmat-Mu. Semoga aku bisa mewujudkannya.

Dibutuhkan ilmu dan menimba pengalaman dari generasi tua. Aku harus mampu menjadi pemimpin keluarga yang bertanggung jawab, visioner, dan bisa mengoptimalkan segala potensi anggota keluarga. Semoga Allah melimpahkan rezeki yang berkah melimpah pada keluargaku. meski sekarang belum punya pasangan. Suatu saat nanti aku yakin akan menemukannya. Ya Allah, berilah aku kesabaran dalam menantinya.

Seminggu awal puasa biarlah aku malas-malasan. Aku masih tidur-tiduran ketika selepas salat Subuh dan membaca tafsir. Aku harus melek pagi selepas Subuh. Tidurnya biarlah tidur siang dan tidur gak larut malam. Sekarang sudah jam sebelas, aku masih menulis. Tugas buat dikumpulkan besok masih belum segera diselesaikan. Subuh nanti mau gak mau aku harus segera mengerjakannya. Tugas semakin menumpuk. Belum tugas akhir buat pendahuluan yang harus dikerjakan secara serius.

Jam sepuluh pagi aku ke warnet kampus sampai Duhur. Kucari artikel-artikel yang berhubungan dengan Office Channeling. Aku akan mencoba mengapresiasi trend perbankan sekarang. Katanya melalui OC, diharapkan akan mendongkrak DPK perbankan syariah. Menariknya diharapkan mampu menggenjot dana sampai 200 persen. Karena selama ini perkembangan DPK tidak begitu signifikan. Aku ingin memaparkan mekanismenya dan sudut pandang fiqh muamalahnya. Tentang apa perbedaannya dengan ‘window banking’ yang diterapkan di Malaysia. Tugas akhir D3 hanya memaparkan saja, tidak lebih.

Kuliah Komunikasi Bisnis aku memakai baju seadanya. Memakai kaos oblong dan sandal. Gak biasanya, padahal kemarin aku sangat rapi banget, sampai teman-teman pada aneh katanya kayak mau ngelamar, mau nge-khitbah. Aku hanya ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku bisa bergaya apapun. Bukan bunglon atau tak punya identias diri, tapi aku bisa masuk pada berbagai golongan dan kalangan. Jika perbedaan golongan hanya pada bajunya, pada cangkang-nya.

Pulang kuliah aku sempat menghampiri seseorang, menanyakan soal tugas Kredit. Belum ada bank mana yang akan dikunjungi. Kunjungan ke bank paling bisa hari Senin. Ia juga menginginkan kuliah hari Jumat dirubah semuanya ke hari lain. Ia merasa kewalaan mengatur jadwal kuliah dengan kerjanya. Aku belum bisa membantu dia. Seharusnya aku dapat memberi solusi agar beban pikirannya jadi ringan. Aku juga bingung mesti bagaimana. Setiap dosen mempunya agendanya sendiri, mahasiswa pun sama. Meski tidak sampai mengubah jadwal, setidaknya lewat kata-kata manisku aku bisa menenangkan pikirannya. Aku harus bia menyenangkannya. Aku harus bisa membahagiakannya. Ketertarikanku padanya entah berawal dari mana. Karena kecantikannya? Kecerdasannya? Kemandiriannya? Kunikmati saat-saat bersamanya. Kupandangi wajah pesonanya. Aku dengannya sejak dulu sering satu kelompok. Karena sering sekelompoklah munculnya benih-benih cinta.

Selepas kuliah Kredit, aku janjian dengannya mau ke Bank Mandiri. Ketika kami lagi khusuk mendengar paparan dosen, sempat aku menoleh padanya dan ternyata ia lagi memandang ke arah samping tempat aku duduk. Entah dia lagi menatapku atau yang lain. Sejak semester lima ini aku sering melihat begitu. Hal itu membuatku tanda tanya. Pulang kuliah kami langsung ke wartel buat menghubungi pihak bank dan mereka bersedia tuntuk didatangi. Aku, dia dan Wati berangkat kesana. Robbi salah satu kelompokku cuma memberiku ongkos saja.

Di angkot dia bercerita tentang pak Firman, pimpinan Bank Syariah Mandiri. Katanya sekarang dia membuka café di Jatinangor, tapi karyawannya gak boleh berkerudung. Tidak tahu kenapa selalu ingin menyanggahnya ketika dia bicara sesuatu yang bernada negatif. Karena aku berpikir tafsir kerudung itu berbeda-beda. Ada satu pendapat menutupi rambut itu tradisi. Tapi itu memang tradisi yang baik. Dalam teks dalilnya, tutuplah dada, bukan rambutnya. Menurutku tidak apa-apa gak berkerudung juga. Tapi berpakaian sopan dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh alias berpakaian tapi telanjang. Memang itu pendapat kaum liberalis. Jadi hak dia berpendapat dan mengambil pendapat itu. Tapi aku pun tak boleh membungkam pendapat orang. Semua harus jadi pengasahan pikiran.

Dari Bank Mandiri kami hanya mendapat informasi ternyata dalam analisis kredit sudah terspesialisasi. Tidak hanya satu orang melainkan dibagi jadi beberapa bagian. Kami harus menemui beberapa orang dan itupun mesti ke kantor pusat. Aku coba datang ke Bank Buana dan bank Jabar. Kami pulang saja. Di angkot aku sempat bertanya padanya bagaimana kondisi Mihdan sekarang. Ternyata Mihdan bukan di tempat yang dulu aku kunjungi. Sekarang sudah pindah kantor.

Apakah aku menyesal dulu menolak ajakan mereka bergabung dalam wadah perjuangan Mihdan. Kejadian itu sudah lewat setahun lebih aku ditawari jadi marketing di sana. Mungkin kalau dulu bergabung aku sudah sangat dekat dengannya. Mungkin pula sudah dijodohkan oleh mereka. Aku jadi jago marketing dan menimba aspek keuangan perusahaan. Dia saja sekarang sudah mahir soal keuangan. Ternyata hidup harus berjalan sebagaimana skenario Tuhan. Aku menolak dan sekarang aku menerima kondisi aku detik ini. Aku bahagia hari ini. Aku sudah menjalani  kuliah dengan fokus dan hasilnya aku bisa meraih beasiswa Supersemar. Hanya aku dari MKS yang mendapatkannya.

Sorenya Deri mengajakku silaturahim pertemuan dengan K-Link Internasional sdn.bhd. kami pergi kesana berempat: aku, Deri, Hilman dan Dikdik. Sekalian berbuka puasa bareng. Tempatnya di perumahan Pasirluyu daerah Buahbatu. Aku sudah bisa menebeak sebelumnya K-Link pasti perusahaan MLM. Memang aku baru pertama kali tahun mana itu. K-link berasal dari Malaysia dan sudah mendunia. Kelebihannya menurutku ada pada produknya yang tidak dijual di pasar konvensional dan pasti harganya mahal produknya seperti penghemat BBM, anti bakar mobil, teknik praktis bekam, dll. Aku tertarik dengan produknya.

Aku bisa melihat peluang dan prospeknya tapi sudah meneguhkan diri. Jalanku akan berjalan sebagaimana telah terprogram. Aku ingin konsentrasi kuliah dan menjelajahi ranah intelektual. Lagian emang dulu aku termasuk orang optiistik. Tapi sekarang cenderung pesimistik. Orientasi hidupku tidak sekedar kaya tapi ingin mengoptimalkan potensi akal. Pasti aku ingin kaya dengan menjalankan bisnis MLM. Berdasarkan pengalamanku itu harus dijalani selain spenuh hati juga fokus. Bisa sih parttime tapi daripada separuh-separuh, lebih baik jadi terbaik pada satu bidang.

Aku khawatir kuliah yang kata orang hanya menyenangkan orang tua, kujalani tidak gak serius dan kesuksesan bisnis yang penuh keagresifan tidak membuahkan hasil. Bisnis perlu kerja keras. Aku melihat dari segi produk K-link bisa sukses. Dan di Bandung belum terpasarkan dan terealisasikan. Tapi dari segi harga bagi orang Indonesia sangat alergi dengan harga selangit. Mungkin hanya segelintir orang yang membelinya. Mereka lebih dulu memperhatikan perutnya daripada kebutuhan pengaman barang-barang istimewanya. Seperti kendaraan bermoot. Lagian adanya asuransi mereka belum memikirkan. Produk-produknya yang mahal sangat sulit dijangkau. Bisapun aku harus berjuang keras dan pasti waktuku harus dicurahkan ke hal itu. Tersibukkan dengan bisnis akan mengabaikan penjelajahan wacana intelektualku. Pasti yang dipikiran hanya bisnis dan bisnis.

Konsep MLM adalah hasil pemikiran para intelektual. Aku tidak ingin jadi hanya pengguna penemuan itu. Aku ingin jadi intelektualnya, menjadi penemunya. Aku ingin menghasilakan teori atau konsep yang beguna bagi masyarakat. Dari hak paten aku bisa jadi kaya. Bukan untuk memperkaya diri, tapi mengkayakan orang banyak.

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori