Oleh: Kyan | 30/09/2006

Bila Daya Perempuan Tak Menyapa

Sabtu, 30 September 2006

Bila Daya Perempuan Tak Menyapa

**

Nafsuku ingin tidur terus. Selepas salat Subuh menjadi kebiasaan tertidur sampai lebih dari dua jam. Bukankah kesuksesan adalah kebiasaan. Sementara kebiasaan yang kujalani sebagai orang yang tak menghargai waktu. Kebiasaan kadang membosankan. Mungkin bergantung pada pandanganku pada kebiasaan itu. Improvisasi dalam hidup. Mawas diri dalam menatap kehidupan. Kuserahkan segalanya hanya pada-Mu, Tuhan. Allah Tuhanku, semua memang berjalan sesuai kehendak-Mu. Aku hanya berusaha semampuku. Aku ingin ini dan itu hanyalah keinginan yang disertai kesungguhan dan perjuangan. Aku ingin sebagaimana yang kuinginkan. Begitu banyak yang kuharapkan dalam hidup ini.

Bangun jam tujuh pagi, aku segera mandi. Mengerjakan tugas Akuntansi selalu saja dalam waktu kepepet. Untung kemarin sudah mengerjakan tugasnya. Hanya tinggal memindahkan ke kertas baru. Dalam waktu luang, selalu tak sempat mengerjakan tugas. Apakah kebiasaan menulis ini sangat menyita waktu? Bagiku menulis sudah menjadi keharusan dalam sepenggalan waktuku. Aku akan terus menulis. Dan mengerjakan tugaspun harus selalu kelar. Bukan orang sukses jika tak bisa mengatur waktu.

Sampai di ruang kuliah, ternyata kuliah sudah dimulai. Aku ingin disiplin waktu, aku ingin tepat waktu agar menjadi kebiasaan. Duduk paling depan kadang bisa membuat percaya diri. Tapi bila ada lontaran pertanyaan dan aku tak bisa menjawab. Pikiranku orang menganggap duduk selalu paling depan, tapi tetap saja bodoh. Aku memang bodoh. Sementara mereka pintar dan cerdas.

Kalau sudah pintar ngapain sekolah. Bukankah sekolah supaya menjadi pintar, sehingga bisa menyelesaikan probelam-problema kehidupan. Untuk membuka wacana, membuka katup pikiran, membuka simpul nafsu, mengasah pisau analisis, dan meraih ilmu yang sejati untuk sampai pada Tuhan. Semua kembali kapada Tuhan. Semua menyatu dengan Tuhan.

Terkadang aku gak pede dilihat tidak seperti biasanya. Aku merasa kekurangan bila orang lain menatapku penuh lucu. Syukur mereka menatapku diam-diam secara berlama-lama karena terpesona oleh kelebihanku, bukan oleh kekuranganku. Begitu sulit kutemukan kelebihan yang ada pada diriku. Namun, aku yakin Tuhan menciptakan diriku dengan sempurna, sebaik-baiknya. Apakah baik itu relatif, baik di mata Tuhan belum tentu baik di mata manusia. Bila tak menyapa cinta. Mungkin perempuan itu bukan pasanganku yang akan menemani hidupku. Bila tak disapa cinta, tak boleh berpikir dia benci padaku. Mungkin aku bukanlah tipe idealnya. Tapi kecendrungannya selalu menyalahkan dan memperlemah diri yang banyak kekurangan ini. Selalu merasa kekurangan tapi kekurangan itu harus menjadi kelebihan. Kelebihannya adalah kekurangan.

Komputerku harus segera kuganti. Berhubungan dengan warnet pakai disket membikin repot sendiri. Aku harus mengumpulkan uang dan mampu membeli komputer bagus. Ya Allah, tunjukkan padaku jalan rezekiku. Aku melihat orang-orang begitu berlimpah dengan uang dan kekayaan. Aku ingin mendapatkan fasilitas agar aku selalu menjadi baik. Selalu menjadi semakin baik, hari demi hari yang kulalui. Keterampilan apa yang bisa kujual untuk mendapatkan uang dan kekayaan? Aku harus mengoptimalkan apa yang telah ada padaku.

Aku bersyukur asetku banyak dan belum teroptimalkan. Untuk menjadi penulis belum kesampaian juga. Aku yakin suatu saat aku bakal jadi penulis hebat. Karena semua tak menjadi sia-sia. Aku harus bisa melihat sesuatu secara positif. Sisi positifnya yang bisa kutatap. Buang semua energi negatif. Aku harus berpikir positif. Aku berpikir positif. Aku merasakan positif. Terima kasih cinta, engkau telah memberiku kegelisahan. Sehingga setiap waktuku selalu penuh dengan ketidakpastian, ketidakmenertian, dan kecemburuan. Engkau yang membuat aku seperti ini, yang termenung sendiri dalam naungan senyap malam. Begitu terasa kesepian tanpa engkau di sisiku. Engkau yang telah membuat semuanya menjadi suasana penuh kesunyian yang muram.

Karena kegelisahan aku telah menjadi mawas diri dalam menyongsong liku kehidupan ini. Aku menjadi ada dalam diriku sendiri. Selalu berusaha untuk menjadi ada. Mengada dalam estapet perjuangan memanusiakan insan-insan penikmat musik kehidupan. Aku tak pernah mengerti dengan diriku. Selalu ngotot dalam mengharapkan segalanya berjalan seperti yang kuinginkan. Padahal aku begitu rapuh untuk melawan takdir. Aku harus menyatu dengan takdir. Aku harus bersahabat dengan kegelisahan dan keangkuhan. Aku harus bercengkrama dengan daun-daun yang berderit membisiki kegelapan. Aku harus menyongsong dan menatap matahari dengan tegak berdiri dalam pandangan menusukku. Kuabaikan segala rintangan yang mengelabaui perjalanan. Aku menatap ke depan menyongsong masa depan yang tak berwajah ini. Tak harus bersedih jika cinta tak menyapaku.

Tak harus menepi jika kesulitan dan kekurangan mengoyak-ngoyak persembahan jiwaku. Tak perlu iri hati jika nafsu-nafsu durjana menggerogoti mencari muka ke hadapan para pendusta. Biarkan mereka berkelakar memperebutkan piala kebohongan yang direka-reka. Lebih baik berdiam diri sambil menatap biru langit tua. Biarlah semua kenangan terlupakan begitu saja. Aku benci dia. Andaikan dia mengungkap segala perasaannya hingga aku merasakan ketenangan mendengar curahan hatinya. Dulu pernah aku bilang meskipun dia egois, tapi aku akan tetap mengharapkannya. Bila ia mencintaiku sepenuh hatinya. Tapi aku tak bisa memaksa dia agar mencintaiku. Aku tak bisa memaksa.

Aku bertemu perempuan lain saja. Seorang adik semester yang dekat padaku. Luka di bibirnya ternyata sudah sembuh. Aku memujinya bahwa dia makin cantik saja. Akhir-akhir ini semenjak teman kelasku bercerita kalau perempuan itu ketika kesulitan sesuatu, pasti selalu menyebut namaku dengan begitu seringnya. Sebagai sesama perempuan, ungkapan itu menandakan dia simpati padaku. Selalu mengharapkan aku ada di sampingnya. Kuingat dulu ia pernah bilang padaku, “Ngedeketin namun setelah deket cuma didiemin saja”. Akh, aku seolah tak merasa saja. Lagian aku harus bagaimana dengan hubungan itu. Terus terang akupun simpati padanya. Mungkin telah tumbuh perasaan suka padanya. Karena ada satu janji setia yang lebih dulu mencintai satu perempuan. Kenapa dia datang terlambat dan kenapa aku tak boleh mengingkari janji sendiri.

Sekarang muncul di pikiran benci pada seseorang yang selama ini telah kucintai sepenuh hati. Mulai tumbuh juga pikiran sebagaimana digenjoti omongan orang, bahwa menunggu itu menjemukan. Menjemukan karena cinta tak bisa menunggu. Cinta tak bisa menunggu. Telah nampak kelayuan yang tak kuinginkan. Muncul perasaan bosan. Aku tak ingin memikirkannya lagi. Kepudarannya yang selalu kucintai dan kuhayati hanya memberikan kegoisannya. Aku menilai dia egois dan akupun dalam pandangannya egois. Jadi wajarlah keegoisan itu karena itu tanda eksistensi diri. Berani menolak pada sesuatu yang tak diinginkan. Tapi jangan sampai menyakiti dalam menunjukkannya. Harus ada dasar itikad baik.

Meskipun belum pasti perempuan itu mencintaiku, aku tak ingin dulu melepaskan “tanda-tanda”-nya. Aku tak ingin menyakitinya. Perempuan yang satu itu suka padaku. Meski ini sekedar asumsi, praduga, bisa benar bisa salah. Aku jadi bingung harus bagaimana. Perasaan bosan ingin dimengerti, ingin dicintai, tak ingin mengkhianati dan dikhianati.

Aku berbicara di depan anak jurusan semester satu buat menjabarkan quesioner tugas Statistik Bisnis Syariah. Waduh, aku masih kaku ketika berbicara di depan mereka. Aku harus membiasakan diri banyak bicara di depan umum. Sejak dulu aku tak pernah lancar berbicara di muka umum. Aku harus terlatih. Pembicaraanku harus mampu menggerakkan pikiran orang-orang. Bicaraku harus mudah dicerna. Aku harus banyak belajar dan belajar bicara seperti anak kecil lagi…[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori