Oleh: Kyan | 01/10/2006

The Great Lecture, Datang dan Hilang

Ahad, 01 Oktober 2006

The Great Lecture, Datang dan Hilang

**

Aku ingin menuliskan dua perasan yang saat ini sedang berkecamuk. Perasaan pertama tenang pencarian guru spiritual dan kedua tenang himpitan ekonomi. Para artis banyak yang memiliki dan menjadikan para Ustaz Muda dan Gaul seperti Aa Gym, Arifin Ilham, Uje, Yusuf Mansur, dan Ustaz lain yang memiliki kelebihan tampang keren dan gaul. Mereka menjadi panutan oleh mereka yang sering disebut ‘abangan’. Islam abangan. Memang mereka itu terkesan penampilannya kalem, ramah, dan cakap dalam menyampaikan pesan-pesan kedamaian dengan penuh keteduhan. Tidak gampang memvonis apalagi menggurui, seperti Ustadz yang Fiqh Oriented.

Masyarkat sangat membutuhkan para pendakwah agama yang santun dan supel serta memberikan kabar kegembiraan. Bukan sekedar memberi ancaman yang menakutkan. Masyarakat akan menjauhinya jika itu-itu saja tentang Surga dan Neraka yang disampaikannya. Aku pun terkesima dengan banyak munculnya orang-orang arif di kotak ajaib itu. Bahkan Metro-TV sering menampilkan tokoh-tokoh Nasional seperti Habibi, Amin Rais, Azyumazri Azra, Komarudin Hidayat, dan lain-lain. Dengan begitu aku bisa melihat dan mendengarnya secara langsung pembicaraannya. Tentang apa yang ada di otak kepala mereka.

Begitu cerdas dalam menyampaikan kearifan hidup. Pak Komar—panggilan Komarudin Hidayat—yang kata orang adalah golongan liberal. Aku menilai beliau seorang yang saleh dan bijak dalam berbicara. Begitu luas wawasannya dan bisa memberikan solusi konkrit bagi si pendengarnnya. Dalam program acara “The Great Lecture”, kuliah umum Pak Komar di Metro-TV membahas Psikologi Kematian, yang kajiannya dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit Mizan. Katanya kematian adalah pintu gerbang, transisi pada kehidupan selanjutnya. Mati itu pulang ke kampung halaman. Bukankah orang yang pulang kampung akan merasakan senang?

Meski waktu kematian tidak ada yang tahu kapan saatnya, tapi jangan takut dengan kemunculannya yang tiba-tiba itu. Sadarilah kematian itu amat dekat, dan berbuat baiklah terhadap orang-orang dalam waktu ‘mepet’ itu. Berikanlah rasa kebahagiaan pada kaum Mustadafin, kaum tertindas. Kematian adalah konsepsi “Kepepet”. Bukankah kalau kita diberi tugas, kalau pada mulanya terasa buntu untuk menyelesaikannya, tapi ketika waktunya sudah kepepet akhirnya bisa terselesaikan juga. Coba kalau waktu kematian sudah diketahui, niscaya tak tenanglah ia yang belum siap menghadapinya.

Melihat kehidupan Dalai Lama, tokoh spiritual dari Tibet. Beliau sangat berani menyampaikan kebenaran. Apakah dia seorang yang bertauhid? Bagaimana pandangannya terhadap Muhamamd. Beliau peraih Nobel Perdamaian. Presiden SBY pun dijadikan kandidat. Aku pernah mendengar El Baraday, seorang muslim yang menjadi ketua tim investigasi nuklir dan senjata pemusnah masal di Irak dan Iran. Memang orang Muslim banyak yang menjadi ilmuwan yang bekerja di Amerika dan Eropa, seperti di NASA banyak ilmuwan yang beragama Islam. Mereka biasanya di negerinya sendiri mereka tak bisa berkembang, karena tak ada sarana dan prasarana yang mendukung untuk mengembangkan pemikirannya.

Aku pun harus konsentrasi dalam merajut masa depan. Aku harus banyak menelaah berbagai macam literatur. Berinteraksi dengan segala kalangan, golongan, kelompok, jamaah, mazhab, agama atau apapun nama pembedaaannya demi mengasah dan mendewasakan pikiran. Aku harus banyak berdiskusi dengan orang-orang kompeten. Pokoknya kebiasaan-kebiasaanku harus mendukung pada perintisan masa depanku yang kuinginkan. Aku ingin menjadi seseorang yang aku inginkan sebagaimana gambaran dalam diriku.

Meskipun kadang pesimistis, tapi dalam relung kalbuku ada sinar perjuangan yang tak ingin menyerah pada nasib. Aku harus lebih baik dan semakin baik. Tidak sekedar kekayaan materi yang kukejar, tapi aku ingin mengkayakan batinku. Berani meneriakkan suara-suara kebenaran dengan penuh kedamaian. Mempergunakan akal untuk berpikir dan hati yang berdzikir yang menerangi jalannya bertindak. Aku makin menikmati Tafsir Fi Zhilal yang kaya sastera. Ingin menikmati pula Tafsir al-Mishbah. Ingin menjelajahi Tetralogi Pramoedya Ananta Toer: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Menjadi wajib juga membaca literatur-literatur ekonomi syariah.

Saat usiaku sekarang ini, mestikah berdiam menyendiri untuk menelaah isi buku. Bukankah harus terjun ke masyarakat. Namun harus ada waktu untuk kontemplasi buat merenung berdoa dan membaca sketsa kehidupan. Tempatnya tak mesti orang tahu seperti dalam film Ashabul Kahfi yang sekarang selama bulan Ramadhan ditayangkan di TVRI. Seorang Maxmilianus sang penasihat raja Romawi, telah bertauhid mengikuti ajaran Isa Almasih. Ia sering pergi ke tempat yang sepi untuk berdoa. Rasulullah Muhammad pun sering bertakhannus di gua Hira. Apakah keadaan zaman seperti sekarang ini dimana setiap orang suah terlingkupi dengan mobilitas tinggi kita, terutama aku masih bisa mengasingkan diri?

Aku merasa perlu dilakukan, tapi bukan untuk selamanya. Kontemplasi untuk sementara waktu dan kembali ke masyarakat untuk membawa perubahan. Muhammad ketika Isra dan Mikraj, ia telah mencapai pencapaian spiritual tertinggi dalam maqam sufi. Ia telah menghampiri Tuhan, menyatu dengan Tuhan yang tentu memberikan kenikmatan yang tiada terkirakan. Tapi beliau kembali turun ke bumi, kembali ke masyarakat untuk membawa perubahan sosial. Mungkin naik haji pun selain penyempurnaan rukun Islam juga sebagai penyucian dan penyadaran ke rumah Allah. Semoga dengan bertamasya ke rumah Allah bisa menyadarkan diri. Dan ketika kembali ke tempat lingkungannya ia tinggal ia memberi dampak positif bagi ingkungan.

Tranformasi sosial. Merasaan kebahagiaan ketika melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakatnya. Memasuki relung qalbu bagi kerabat dekatnya sehingga ketika ia berpulang, semua orang akan merasakan kehilangan dengan segala kebaikannya yang pernah ditorehkannya.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori