Oleh: Kyan | 07/10/2006

Kapitalisme + God = Ekonomi Islam

Sabtu, 07 Oktober 2006

Kapitalisme + God = Ekonomi Islam

**

Hari ini adalah impian hari kemarin dan esok hari adalah kenyataan yang diimpikan hari ini. Maka aku harus berani bermimpi dalam menatap hari ini dan masa depan. Apapun keadaannya hari kemarin adalah sejarah dalam hidupku. Aku cuma hidup saat ini dan disini dan entah apa yang akan terjadi esok hari. Aku hanya bisa merajut mimpi dan berani tersenyum kecut menatap hari esok. Aku tak ingin apa-apa selain ingin menjadi semakin baik. Aku tak ingin dimasukkan ke dalam orang yang penuh keserakahan dan kesombongan. Aku tak ingin dibutakan oleh dunia durjana.

Kadang aku tak mengenal diriku yang sebenarnya. Aku yang aku kenal sebelumnya penuh optimistik dan dengan lantangnya berani bermimpi, berani merealisasikan mimpi-mimpinya. Aku yang aku kenal adalah berani melakukan apa yang hendak dilakukan. Namun sekarang hari-harinya diisi oleh kemurungan dan pesimistis dalam menatap hari dalam segal hal. Meskipun ada sesuatu yang tersisa dari diriku sepercik harapan. Ingin kudobrak segala kesombongan, kesewenang-wenangan, dan  keserakahan.

Faisal Basri mengatkaan bahwa ekonomi Islam baru sebatas labelitas. Padahal Islam mengedepankan prinsip-prinsip kebebasan. Islam menjunjung nilai-nilai kebebasan. Sebagian kalangan memberi pengertian “kebebasan yang terbatas”. Apakah statement ini bisa mengkungkung kreativitas? Pemikiran salah seorang ulama kadang dimanfaatkan oleh penguasa melalui kebijakannya yang didasarkan pada hasil pemikiran ulama tersebut. Secara tidak langsung atau tidak, hasil pemikiran ulama tersebut diberlakukan atau dibakukan melalui kekuasaan.

Begitulah Islam ketika sudah menjadi teks. Alquran dan al-Hadits ketika sudah menjadi teks yang interpretasinya memungkinkan berbeda-beda bagi setiap orang. Meski secara umum banyak kesamaannya. Berbeda-bedanya itu bergantung keilmuan dan latar belakangnya. Pembakuan bisa membahayakan dan menyeragamkan berlawanan dengan prinsip kebebasan yang dikehendaki Islam. Semoga kebebasan yang dikehendaki bisa membangkitkan kreativitas. Entah apa penyebabnya umat Islam begitu terkungkung.

Ekonomi Islam pun menghendaki adanya peran negara dalam ha-hal tertentu. Untuk memungut hal apa negara bisa berperan? Dalam menegakkan keadilan. Untuk memungut bagian untuk orang miskin dan fakir dengan pranata Baitul Maal. Islam tak menghendaki yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin. Untuk menjembataninya ada kewajiban zakat. Sependapat dengan pemikiran ketua Prodi MKS bahwa ekonomi Islam itu kapitalisme + God. Kapitalisme + God = Ekonomi Islam. Kapitalisme dengan menyertakan Tuhan. Setelah BEP bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk kepentingan stakeholder (ummat). Pemerintah harus ada penyadaran kewajiban membayar zakat, infak dan sedekah.

Bulan Ramadhan sebagai bulan tempat suburnya kegiatan ZIS. Tapi di bulan Ramadhan ini bawaannya aku dibuat kesal. Aku ingin marah yang harus marah pada siapa. Tingkah laku orang membuatku semakin marah. Terutama soal buku. Orang pinjam buku lamanya minta ampun sampai setengah tahun. Belum lagi banyak buku yang hilang dan banyak orang pinjam seenaknya tanpa bilang-bilang. Sudah meminjam buku sangat lama, menghilangkannya lagi. Aku mati-matian untuk dapat membeli buku sampai gak makan, ini seenaknya pinjam buku lalu bukunya hilang. Banyak bukuku yang rusak. Mungkin aku gak tegas. Akhirnya aku jadi malas buku dipinjam orang. Dulu aku begitu terbuka meminjamkan buku dan ternyata karakter setiap orang berbeda-beda. Akibar dari pengalaman aku jadi malas meminjamkan lagi.

Memang disisi lain ingin sekali aku bisa membantu orang, tapi mereka tak pernah mengerti. Mereka seperti seenaknya merampas hak orang lain dan merusak hak orang lain. Apakah aku hanya memberi anpinjam buku buat dibaca di tempat saja? Kepada orang-orang tertentu saja? Justru orang-orang ini yang seenaknya pinjam buku tanpa memperhatikan etika pinjam-meminjam. Tadinya aku  ingin banyak menolong, tapi malah membuatku kesal. Apaakh ini karena ego, apakah karena aku sangat cinta pada buku, cinta dunia?

Aku pikir semua orang akan marah jika harta milik pribadinya diganggu dan dirampas. Itu kecendrungan manusia. Namun aku tak boleh khawatir secara berlebihan. Kuserahkan hanya pada-Nya, aku mengada pada-Nya, aku menjadi untuk-Nya. Harta pribadi adalah titipan. Justru karena titipan harus dijaga dengan amanah dan profesional. Semoga marahku reda. Bukan sekedar marah aku menjadi murung. Karena terlalu banyak pikiran yang bercokol. Karena semua jadi pikiran dan aku jadi membatin. Memang ketenangan hanya datang dari Tuhan. Allah lah yang membisikkan rasa ketenangan ke dalam hati para kekasih-Nya. Maka kenapa ketenangan sulit diciptakan.

Aku jadi berpikir aku sudah diberi amanah mempunyai aset buku. Ketika buku dipinjam orang selalu jadi pikiran. Bagaimana kalau diberikan amanah berupa harta yang lebih besar dan banyak. Apakah pikiran akan semakin kacau. Mungkin benar orang bilang bahwa orang kaya belum tentu bahagia. Kebahagiaan ada di dalam hati. Kebahagiaan ada ketika banyak menolong orang dengan materi yang kita punya. Dan materi yang kita kuasai harus disadari tidak akan kekal abadi. Tapi ini lain dengan soal bukuku. Orang pinjam sesuatu tidak bertanggung jawab. Tapi jiwa memaafkan adalah lebih mulia.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori