Oleh: Kyan | 09/10/2006

Bernegosiasi Dengan Takdir

Senin, 09 Oktober 2006

Bernegosiasi Dengan Takdir

**

Manusia selalu dilingkupi oleh penyakit hati. Ketika ia mengatakan sombong pada orang lain, ia sudah bersikap iri dengki. Kebanyakan ketika mengatakan sesuatu pasti mempunyai motif. Ketika ia bersikap rendah hati atau tawadhu, sesungguhnya ia terjerat merasa dirinya sudah suci. Merasa lebih saleh dibandingkan orang lain termasuk perasaan sangat dicela. Jadi harus bagaimana untuk menghindari dan membedakan mana perbuatan tercela kembali pada niatnya.

Intinya apakah ia mengharapkan keuntungan dari manusia. Apakah ia mengharap ingin dihormati oleh manusia. Mengharap keuntungan dan kehormatan hanya dari Allah semata. Bila manusia sudah mendapat ridha-Nya, maka ia akan dimudahkan segalanya. Sangat mudah bagi Allah membersitkan pada pikiran setiap orang agar menghormati orang yang diridhai-Nya. Dengan mudah Allah akan memperlihatkan amalan manusia supaya bisa dilihat oleh manusia lainnya. Hidup ini tiada lain selain hanya untuk mendapat iradah-Nya. Hanya itu.

Hari ini aku berjalan sendirian melakukan kunjungan ke BPR Bara di Manglayang. Sudah dua kali aku kesana berjalan kaki yang jaraknya berkilo-kilo. Dalam keadaan terik matahari aku harus sabar dalam menempuh perjalanan demi mendapatkan ilmu. Meski ini tugas kelompok tapi aku seorang lelaki harus bertanggung jawab. Memang aku lebih senang mengerjakan tugas sendiri. Tapi pembelajaran kerjasama tak ada. Mau gak mau sebuah pekerjaan harus ada pendelegasian dan pembagian tugas. Mungkin pekerjaan kecil bisa ditangani  sendiri. Tapi sebuah pekejaan besar harus melibatkan banyak orang.

Manusia adalah makhluk sosial satu sama lain yang saling membutuhkan. Aku tak boleh merasa sudah menolong banyak orang karena aku pun tanpa bisa berbuat apa-apa tanpa ada orang lain. Namun tetap saja di pikiran aku telah berbuat banyak sementara orang lain gak mau tahu. Mungkin aku tidak bilang meminta tolong kepada mereka. Tapi aku takut menyusahkan orang lain. Karena tidak mengatakannya orang jadi tak mau peduli.

Kegelisahanku semakin bertambah. Apakah takdir baik berpihak padaku. Bagaimana bernegosiasi dengan takdir. Samakah takdir dengan Sunatullah. Takdir manusia pasti mati, manusia ada laki-laki dan perempuan. Disebut takdir ketika peringatan orang-orang saleh diingkari maka tunggulah azab Allah. Adzab bakal datang menimpa kepada sesiapa yang mendustakan. Aku akan selalu berusaha memperbaiki diri dengan penuh kekhusuan dan kepasrahan kepada-Nya.

Aku memang bodoh. Tak pernah mengerti segala hal. Ya Allah. Berilah aku sedikit ilmu-Mu agar aku bisa lebih mengenal-Mu. Limpahkan cahaya-Mu untuk selalu menyinari hatiku dan penuntun dalam mengerahkan potensi akalku. Berikan jalan agar bisa mengoptimalkan potensi otakku agar hidupku tak sia-sia. Aku jangan hanya memberi andil membuat sesak bumi ini saja. Membiarkan diriku dan oang lain menganggap sedang melakukan perbaikan padahal dalam pandangan-Mu ini kami sedang melakukan pengrusakan-pengrusakan.

Aku sering melihat banyak orang berbicara. Maka jadikan lidahku seperti lidahnya Ibrahim. Musa, Isa, Muhammad dan para salehun dalam mengatakan kebenaran dengan lantang yang arif. Aku tidak ingin seperti mereka yang berbicara begitu frontal dan kurang mengindahkan kaidah-kaidah etika. Ya Allah. Berikan padaku nikmat kesehatan dan bisa mensyukuri kesehatan badan, pendengaran, dan penglihatan pada dunia. Buanglah perasaan ketidakpuasan dalam ketidaksehatan. Aku sudah tidak mensyukurinya. Ingin hatiku tenang mensyukuri segala nikmat-Mu. Aku berusaha untuk selalu mensyukurinya. Berikan pada kami nikmat kesembuhan dari segala penyakit. Apakah kekurangsehatan dikarenakan gaya hidupku yang kurang mendukung bahkan merusak tubuhku. Maka berikan padaku nikmat kesehatan jasmani dan rohani. Aku ingin sehat ya Allah..!

Sungguh berdosakah ya Allah. Selama lima tahun ini aku tidak menemui ayahku sendiri. Akhir-akhir ini aku sering teringat ayahku. Ia sudah meminta maaf dalam sebuah surat karena dia selama ini tidak bisa menjadi seorang ayah yang seharusnya dari keumuman seorang ayah. Bukan aku tak mau menemuinya, tapi untuk menemuinya perlu uang. Aku berpikir kalau punya uang lebih baik buat membeli buku saja. Supaya bisa memberikan pencerahan otakku. Sebab aku merasa ayahku tak pernah memberiku pencerahan. Tidak bisa aku mengatakan, “Aku ingin menjadi seperti ayahku”. Idolaku adalah ayahku sebagaimana sebagain anak yang sungguh bangga dengan sosok ayahnya.

Akh ini hanyalah celotehanku saja sebagai bentuk ketidakpuasan mempunyai ayah seperti dirinya. Tapi baik buruk begitulah ayahku sendiri yang menjadi perantara aku hadir di bumi ini. Tanpa melalui perantaraannya tidak mungkin aku dapat mengecup dunia gembira dan sedihnya. Semuanya tak menginginkan hal duka terjadi. Semoga bisa memberikan pendewasaan padaku. Selalu teringat soal keluargaku dan soal kuliah sudah menunggu untuk segera diselesaikan. Tugas Kredit harus segera dirampungkan. Aku harus serius dalam menjalani hari-hariku. Tak boleh menyerah dan berputus asa. Aku akan selalu menjadi lebih baik selalu. Selamanya…[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori