Oleh: Kyan | 11/10/2006

Macam Kesedihan Karena Kehilangan

Rabu, 11 Oktober 2006

Macam Kesedihan Karena Kehilangan

**

Ya Allah. Dosa apakah yang telah kuperbuat sehingga kemalangan menimpaku secara bertubi-tubi. Hari Sabtu aku sudah kehilangan kalkulator seharga delapanpuluh limaribu yang entah di kampus atau di kosan. Tapi besar kemungkinan hilangnya di ruang kelas. Dan sekarang harus sudah kehilangan lagi. Sepatuku diambil orang sewaktu aku sedang salat Ashar di masjid kampus. Ini kehilangan sepatu yang keenam kalinya di masjid sejak di Bandung. Selalu saja semuanya terjadi di masjid. Benar ungkapan majalah kampus bahwa masjid Iqamah adalah surganya para maling.

Sepatu yang hilang kali ini seharga duaratusribu yang hanya dua tahun aku mengenakannya, setelah itu berpindah ke tangan jahil. Aku sangat menyesal kenapa tadi tidak aku masukkan saja ke dalam tas. Biasanya selalu sedia kantong plastik di tas sebagai wadah sepatu kalau masuk masjid. Biasanya seperti itu setelah aku trauma sering kehilangan sandal dan sepatu di masjid. Meskipun kalau lupa membawa plastik, sering terpaksa aku masukan pula ke dalam tas. Secara rela akan mengotori tasku dan buku-buku. Apakah memang takdirnya hari ini aku harus kehilangan?

Aku selalu dilanda kesedihan. Aku merasa ‘enek’ tapi semua itu telah terjadi tak bisa diulangi. Kesedihan tak mendapatkan cinta menimpaku sampai hari ini ditambah pula kesedihan karena materi. Kesedihan oleh jiwa dan materi. Semakin sedih saja aku ini. Kemarahan terus memuncak. Sudah kehilangan buku, kalkulator, sepatu dan cinta yang ditolak. Kenapa semua ini harus menimpa padaku. Mungkin karena aku jarang bersedekah. Kuakui aku jarang sedekah secara langsung. Karena aku berpikir lebih baik dipakai buat membeli buku dan bukunya bisa dibaca olehku dan orang lain. Sehingga orang akan tercerahkan dan ia akan berbuat lebih optimal. Bukan sekedar hidup untuk makan. Pendidikan jiwa manusia yang ingin kutekankan.

Lalu kehilangan cinta, haruskah aku selalu tersenyum meskipun dilanda sepi. Ingin selalu tersenyum menatap cakrawala, bersuka cita bercengkrama dalam pelukannya. Tapi bersama dengannya malah membuatku terpaku tersudut di pojok biru. Tak ingin bicara bahkan tak ada pertemuan lagi. Tak ingin aku memandangnya lagi. Kuberlari menuju tepian. Terbelenggu sendiri. Sebab kurasa semuanya sudah berakhir hari ini. Kalaupun masih ada ingin segera berakhir saja. Biarkan semua menjadi kenangan yang mengukir dalam ruang dan waktu selama ini.

Aku tak mengerti tatapannya. Bagai kejora menaklukan durjana. Haruskah aku mengerti dengan kata-kata manis dibibir hatinya membuatku gagap. Tak menginginkan aku tapi malah menangis. Kepedihan yang melanda dirinya sudah terlalu besar jika ditambah lagi dengan persoalanku. Aku harus mengerti keadaannya yang serba tidak menentu. Bukannya ia tak mengerti aku, tapi takdir yang mengharuskan ia begitu.

Bisakah kubangun keceriaan burung-burung camar di rima cintanya. Aku tak bisa memaksa keadaan berjalan sebagaimana aku mau. Tapi kubulatkan tekad agar semuanya menjadi milikku. Aku harus mendapatkan semua itu. Aku yakin dengan keyakinanku.

 

Tapi kehilangan ini apakah sebagai teguran, cobaan, atau siksaan. Rasulullah pun ketika di-isra-mirajkan setelah diberikan cobaan yang bertubi-tubi dan berkepanjangan. Dengan meninggalnya Siti Khadijah, istri beliau yang dicintainya. Lalu Abu Thalib meninggal yang membuat jiwanya terpukul. Karena tak lagi memperoleh perlindungan dari sang paman. Sedangkan kemalangan yang menimpaku apakah pertanda akan mendapatkan kebahagiaan di depan mata? Ketika kesedihan datang harus ingat pada kebahagiaan yang selangkah lagi datang. Seperti si kabayan yang bersedih ketika menjumpai jalan turunan tapi tersenyum kalau menjumpai jalan tanjakan.

Ketika kebahagiaan datang harus teringat kesedihan. Karena harus menyadari kehidupan dunia akan berputar-putar. Menyadari harta yang dimiliki hanyalah titipan bukan memiliki semua secara mutlak. Ibarat tukang parkir mobil kata Aa Gym. Saat mobil-mobil mewah datang dan pergi, ia tetap santai-santai saja tidak merisaukannya. Tapi berat juga untuk mengaplikasikan pemikiran ini. Karena sudah terlanjur cinta pada dunia. Merasa sudah memiliki harta kekayaan itu.

Manusia selalu merasa ingin memiliki seterusnya. Setelah yang ia dapatkan tak ingin dilepaskan. Padahal harta itu milik Allah dan bila diambil oleh-Nya melalui cara apapun harus ridha untuk mempersilakannya diambil. Ridha atas apa yang telah terjadi. Tapi permasalahannya bahwa itu ada pelanggaran moralitas. Ada perampasan hak milik pribadi. Ketika ada perpindahan kepemilikan harta haruslah secara ikhlas dalam memberikannya. Tapi bagaimanapun aku harus sabar.

Ingat pada dua Ramadhan ke belakang aku juga kehilangan handphone. Sekarang hilangnya sepatu sedang bulan bulan puasa juga. Kalau dulu setelah acara berbuka puasa, sekarang sebelum acara berbuka puasa. Kok, selalu saja kehilangan sewaktu bulan Ramadhan. Bukankah di bulan puasa syaitan-syaitan dibelenggu? Kembali lagi pada manusianya sendiri apakah mau membelenggu atau melepaskannya syaitan-syaitan durjana itu. Maka benarlah konsep Asyariyah bahwa ketika sadar, memang aku selalu berhati-hati. Kalau mau salat sepatu biasa kumasukan kedalam tas. Handhphone biasa dimasukan ke lemari. Tapi suatu saat tiba-tiba saja tanpa disadari aku melakukan diluar itu. Melakukan hal yang tidak biasanya. Melakukan sesuatu yang jauh dari kebiasaan, dan akhirnya terjadilah tragedi.

Memang melakukan sesuatu di luar kebiasaan adalah sikap berani. Seperti menentang arus kebiasaan adalah sebentuk kreativitas yang beresiko sangat berat. Tapi begitulah takdir barang siapa berhati-hati ia akan rapi dan bila ceroboh akan tergopoh-gopoh. Karena manusia memiliki kepastian dalam menyikapi alam, maka ia akan semakin kreatif dalam mencari cara supaya bisa bersahabat dengan takdir. Bernegosiasi dengan takdir. Meski dengan kekuasaan-Nya hukum tersebut bisa berbalik, tapi manusia selalu mengharapkan yang bukan pada umumnya, yaitu keajaiban. Tapi keajaiban terjadi hanya satu persen dan 99 persen adalah takdir atau hukum kausalitas. Ada hukum alam sebab akibat.

Lepas dari soal kehilangan, semoga di pelupuk mataku akan terjadi sesuatu yang menceriakan dan membahagiakan. Hari ini dan kemarin-kemarin aku mendapat kemalangan, mungkin esok hari aku bakal meraih kebahagiaan dalam menggapai mimpi-mimpi yang mematri. Bukankah kesulitan-kesulitan diapit oleh dua kemudahan. Kesedihan diapit oleh dua kebahagiaan. Maka segala yang terjadi hari ini aku ridha. Segala sesuatu terjadi semua atas izin-Nya. Allah Maha Tahu hamba-Nya yang sedang mengalami kedukaan karena semua adalah milik-Nya. Makanya aku hanya peminta-minta kepada-Mu ya Allah. Kabulkanlah segala pengharapan yang terucap maupun yang terbesit di hati ini. Amin!…[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori