Oleh: Kyan | 13/10/2006

Bermalam di Bumi Kencana

Jum’at, 13 Oktober 2006

Bermalam di Bumi Kencana

**

Mau kuliah tak kebagian ruang kelas buat pertemuan. Apakah permasalahan akan dibiarkan begitu saja. Bagaimana mau lancar perkuliahan untuk tranformasi ilmu bila keadaannya terus begini. Selalu tak kebagian ruangan kelas. Kuliah memang tak harus dibangku kuliah saja. Tapi penting kuliah dalam kehidupan manusia. Kita harus selalu tercerahkan sepanjang hidup. Dapat mewariskan bekal perjuangan untuk melanjutkan estapet kekhalifahan. Manusia harus selalu berbuat dan bertindak. Manusia harus selalu bergerak. Manusia dilahirkan ke bumi untuk mendayakan bumi agar memperolah kemanfaatan bagi umat manusia.

Apakah ketimpangan akan selalu ada sampai hari kiamat. Ketimpangan harus diminimalkan sampai keadaan menjadi sempurna. Segala instrumen harus dipakai buat menghilangkan ketimpangan hidup. Baik itu istilah bahasanya berupa zakat, infak, sedekah dan segala bentuk philantropi harus dikelola secara profesional. Dari ‘mustahik’ harus menjadi ‘muzakki’. Kebutuhan dasar harus segera dipenuhi dan tidak ada pemborosan. Memberi untuk pemberdayaan bagi perbaikan hidupnya. Manusia harus selalu menjadi semakin baik.

Aku tak boleh diam. Aku harus bergerak. Tugas akhir harus segera kuselesaikan. Meski aku tak tahu akan kemana setelah lulus nanti. Pengerjaan TA untuk segera kelar, memerlukan kesabaran dalam segalanya. Keikhlasan adalah pangkalnya. Kuserahkan semuanya hanya pada-Nya. Aku tak mampu apa-apa tanpa bimbingan-Nya. Aku milik-Nya dan akan kembali pada-Nya. Dan lupakan segala apa yang telah terjadi. Biarlah menjadi kenangan yang terus mengharu biru.

Mungkin aku teramat sangat menyayanginya. Namun aku bukanlah siapa-siapa di matanya. Sampai kapan perasaan ini terus menghanyutkanku. Ingin kutulis cerita untuknya agar ia tahu keadaan sebenarnya dan seutuhnya. Aku tak ingin terbebani lebih berat lagi. Ingin kutuangkan segala pikiran dan perasaan dan tersampaikan padanya. Ingin kuakhiri luapan emosi ini.

Ingin segera kuselesaikan TA. Saat ini aku masih bingung sisi mana dari Office Channeling  yang ingin kubahas. Mungkinkah aku bisa tuntas menyelesaikannya. Kalau diam saja tak akan pernah selesai. Aku harus memulainya dengan suatu langkah. Aku harus mengerjakannya. Liburan Ramdahan kali ini harus aku optimalkan. Di samping tugas yang sudah menunggu harus kukerjakan, TA pun harus lebih awal kukerjakan. Sebelum Ramadhan aku harus harus meng-emailkannya ke pak Anton Athoillah. Aku harus segera mengirimkannya.

Menunggu waktu Ashar sambil bercengkrama dengan teman-teman di kampus di depan masjid. Kurasakan suasana persahabatan. Bercengkrama tentang agenda liburan masing-masing. Lebaran kali ini mestikah di tempat kosan lagi. Sudah dua kali lebaran di Cibiru. Ingin aku pulang ke tempat kelahira. Selama delapan tahun hanya sekali lebaran di kampung halaman. Bukan aku tak ingin pulang, tapi aku ingin segera menyelesaikan tugas dulu. Pernah aku berjanji sebelum aku sukses, sebelum ada kebanggaan yang ada padaku, aku tak ingin pulang kampung. Aku ingin membiasakan diri hidup di negeri orang.

Aku telah terbiasa buka puasa hanya air putih. Begitu aku mau salat Maghrib, Dudi dan Asun datang. Mereka mengajakku ke Rancaekek, ke perumahan Bumi Kencana. Ternyata aku sudah pernah ke sana beberapa kali, belanja ke Ahad-Net. Sekarang aku masih jadi member Ahad-Net. Sudah lama aku tak mendengar kabarnya. Saat ini masih belum sempat mengembangkannya. Tapi suatu saat aku membutuhkan bisnis ini, karena produknya sangat kubutuhkan.

Karena ingin ikut ke Rancaekek, malam ini tak bisa salat Tarawih berjamaah di masjid. Baru malam ini aku tak bisa berjamaah. Tapi aku hanya salat Tarawih sendirian di rumah saudaranya Echa itu. Rumahnya bagus dan unik, meskipun sempit. Aku ingin memiliki rumah seperti itu, sebelum aku menikah. Mampukah aku, aku harus rajin menabung. Aku merasakan suasana keceriaan, bisa bermalam dengan teman-teman dalam satu rumah. Bisa sahur bareng dengan mereka.

Selain Dudi dan Asun, yang datang lebih awal ke sana adalah Veri, Echa, Lilis, Neng Titin, Iwan, Teh Imas, Eka, dan Mila. Dan yang datang setelahku adalah Dadang, Gina, Abdul Rois, dan Abdul Rohman. Sebelum wisuda teman sekelasku ingin mengadakan acara seprti itu dan rencananya sudah ada. Dalam detik-detik perpisahan ingin kubangun kemesraan dengan sahabat-sahabat seangkatanku. Tak ingin diantara kita masih ada perasaan yang belum terungkap. Saling memaafkan dan mendoakan semoga kita tetap optimis dalam menatap masa depan..

Mungkin Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir kami bersama. Aku ingin berbuka puasa bareng dengan seseorang yang selama ini kusayangi dengan amat sangat. Aku takut Ramadhan kali ini adalah yang terakhir bersamanya. Kalau umurku  panjang sampai Ramadhan depan, aku dan mereka sudah sibuk dengan agenda masing-masing. Mungkin sulit untuk ditinggalkan dan menyempatkan kami bertemu. Aku sudah dimana dan mereka pun entah dimana. Tapi bila ia mau berjanji padaku, aku akan tetap menunggunya.

Suatu saat aku datang padanya untuk mempertanyakan cintaku. Cintaku yang begitu besar dan ingin kucerahkan hanya untuknya. Aku berjanji tapi sampai saat ini aku tak memiliki kepastian, sehingga membuatku semakin terperosok saja. Apakah ia berharap padaku ataukah sudah mempunyai pilihan lain. Untuk memastikan menjelang Idul Fitri aku akan mencurahkan segalanya di hadapannya. Ia harus bertanggung jawab atas kegelisahanku. Ia telah memberikan kegelisahan yang amat dalam padaku.

Sudah lama aku tak tidur semalaman. Dengan teman-teman di Rancaekek membicarakan apa dan bagaimana organisasi dan sistem organisasi yang diterapkan di MKS. Sampai larut malam kami terus membicaraknnya dan akhirnya ditemukan juga rancangan yang murni produk kami. Sistem keorganisasian yang sesuai kebutuhan. Secara substansi hampir sama dengan prinsip Trias Politika. PKBMP sebagai eksekutif, DPPM-KBMP sebagai legislatif, dan Dewan Kehormatan sebagai yudikatif. Andai ini dulu terpikirkan sewaktu awal pendirian HMJ MKS independensi dari HMJ Muamalah. Memang dulu sangat terburu-buru tapi di balik itu ada hikmah tersembunyi yang bisa diungkapkan. Akhirnya ditemukan hal baru: PKBMP—DPPM—Dewan Kehormatan.

Namun begitu Subuh tiba datanglah cobaan. Selalu saja cobaan menghadang kami. Kemarin aku sudah kehilangan sepatu. Sekarang bermalam di Bumi Kencana Rancaekek, kami kehilangan tiga sepatu dan helm. Sepatu Veri, Iwan dan Abdul Rois serta helm Dadang. Dadang dan Rois semalam sudah jatuh dari motor, sekarang sudah ditambah lagi musibah kehilangan helm. Cobaan yang bertubi-tubi bukan hanya aku, tapi masih banyak di sekelilingku yang merasakan hal yang sama. Di bumi manapun mereka sedang menjerit mempertanyakan hidup. Cobaan hidup akan terus melingkupi manusia yang katanya itu untuk mendewasakannya.

Akhirnya aku pulang ikut motor Dudi tanpa memakai sandal dan sepatu. Sepatuku dan sandal Dudi dipinjamkan pada Veri dan Iwan. Veri dan Iwan mau pulang pakai angkot, jadi malu kalau tak memakai alas kaki. Aku dan Dudi pulang selepas sahur bersama. Jarang ada acara sahur bersama, biasaya buka bersama. []

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori