Oleh: Kyan | 14/10/2006

Dia Maha Mengurai Takdir

Sabtu, 14 Oktober 2006

Dia Maha Mengurai Takdir

**

Mau melewati liburan pun tugas menumpuk. Di hari tadi aku seharian menyempurnakan proposal pengadaan buku. Kesibukkan di depan komputer sangat menyita waktu. Sampai mandi dan mencuci pakaian pun tak sempat. Aku selalu lambat dalam setiap hal. Menulis lambat, telat mikir dan sangat bodoh. Tapi kalau jalan sangat cepat. Aku ingin mencontoh Rasulullah yang katanya jalannya ibarat menuruni lereng bukit. Aku merasa bodoh karena kulihat orang lain begitu cerdasnya ketika menjelaskan sesuatu. Melapalkan dalil-dail dengan argumen kuat dan meyakinkan. Sedangkan aku tahu apa dengan semua itu.

Makanya kuingin konsentrasi pada kuliah. Aktif di organisasi sangat menyita waktu. Untuk menguasai satu bidang ilmu memerlukan waktu dan ketekunan. Maka diperlukan banyak luang waktu untuk satu aktivitas. Banyak dan sering aku melihat orang pintar, ia jarang membaca buku. Pekerjaannya hanya bermain, tapi kalau ujian mendapat nilai bagus. Apakah benar ia jarang belajar. Mungkin ia jarang belajar di rumah. Tapi sewaktu di kelas ia sangat konsentrasi penuh memperhatikan dosen/guru. Tidak adil jika orang pemalas dikatakan cerdas. Takdir adalah barang siapa belajar sungguh-sungguh, ia akan menjadi cerdas. Bergitulah takdir.

Menjelang akhir Ramadhan ini, kuinginkan ada acara berbuka dengannya di sebuah tempat. Sempatkah dan bersediakah dia dengan ajakanku. Dia mau pulang ke Purbalingga H-1, sendirian. Bila aku menemaninya dipastikan dia tak bakal mau. Aku pun berpikir bakal menimbulkan fitnah dan jika memaksa aku ikut kesana, lantas apa yang kubanggakan di depan keluarganya. Jangankan materi, menceritakan keluargaku aku masih bingung darimana aku memulainya dan dengan bahasa apa agar terkesan sewajarnya.

Tak bisa kubanggakan di depan orang keadaan keluargaku yang sebenarnya. Tapi aku bangga menjadi diriku sendiri. Andaikan ada orang tua yang mengharapkan pasangan bagi anak perempuannya, lelaki yang dengan bangga mengatakan menjadi dirinya. Tanpa harus melihat latar belakang keluarganya, itulah inginku. Tapi memang adalah hal wajar seorang calon menantu bertanya latar belakang calon pasangan anaknya. Untuk hanya sekedar ingin tahu keadaan keluarganya secara wajar. Untuk memastikan dia orang baik dan dari keluarga baik-baik.

Dia anak bungsu dan hanya ayahnya yang masih ada. Ibunya telah tiada ketika dia masih SMA. Sekarang yang menjadi tumpuan biaya kuliah hanya dari kakaknya, terutama kakak yang keempat. Mungkin sekarang ia tak akan memperjuangkan lagi perasaan hatinya. Ia akan berpikir pragmatis, bagaimana ia tak menjadi beban bagi kakak-kakaknya. Berpikir bagaimana ia bisa hidup sendiri atau lebih bisa menjadi kebanggaan bagi keluarganya. Harapan lebihnya bisa membalas pengorbanan mereka.

Mungkin ia hanya menginginkan seseorang yang sudah mapan secara materi dan bisa memberikan kebahagiaan serta tak membebani lagi siapapun. Ia akan menerima sesiapapun bahkan mungkin siap menerima pinangan jika ada orang datang yang meminangnya. Ia tak akan memikirkan lagi cerita cinta yang hanya sekedar basa-basi.

Cinta bukan untuk diucapkan tapi harus dibuktikan dengan perbuatan nyata. Ini hanya prasangkaku padanya. Entah benar atau tidak hanya sekedar tafsiran dari kata-katanya di secarik kertas yang diberikan padaku: Apakah kita hidup hanya mengikuti  keberadaan dunia yang terus berputar, apakah kita hidup akan diam tak bergerak, apakah kita bergerak tanpa sebuah gerakan, apakah kita hidup hanya sebagai anak maunsia yang sekedar menerim nasib, apakah kita hidup hanya untuk hidup.

Engkau // Nyanyian yang terus menginpirasi // menguyu // sepanjang hayatku.

Tidak pernah lapuk // dimakan zaman. // Ia yang akan terus bersemi dalam hidup. // Ia yang akan menjadi mimpi-mimpi, // untuk bisa mencapai, mendaki

Duhai Allah. Janganlah Engkau berikan beban pada kami yang tak mampu kami memikulnya. Kuserahkan diriku hanya pada-Mu. Temukanlah aku dengan belahan jiwaku dengan segera. Agar kegelisahan sedikit terobati dengan Rahman Rahim-Mu. Saat malam kurasakan sungguh kesepian. Begitu pagi juga kurasakan ketakceriaan. Merajut serpihan-serpihan pengharapan untuk selalu bertumpu hanya pada-Mu Tuhan.

Aku hanya bisa bermohon pada sang pemilik dirinya, diriku, dan semuanya. Pantaskah aku mendapatkan dirinya. Aku menginginkan kecupan mesra dari-nya, agar geloraku terus membahana di jagad semesta. Akankah kuraih semua mimpi-mimpiku di tengah kecemasan dan kegelisahanku. Aku ingin membahagiakan orang tuaku dan umat manusia, semuanya. Apa yang bisa kuberikan untuk mereka?

Gejolak hatiku teus bergejolak melemahkan staminaku. Aku terkulai tak mampu berdiri dan mendengar meski kehidupan yang mencipta. Kudengar hanya bunyi genderang di alam luas. Kepura-puraan yang menggamit-gamit sukma. Hari semakin senja, malam semakin pagi, aku bersimpuh tersungkur dalam haribaan sajadah panjangku. Ingin kutatap terangnya sinar dan kemilaunya cahaya. Teresapi ke dalam aliran darahku. Mengalir, mengayuh, mengada, lalu menyatu.

Cepat atau lambat, dunia akan selalu berubah. Waktu akan terus mengubah dunia kecilku yang terhampar tak bertepi. Bagaimana dengan perjalanan hidupku, Cintaku. Pengabdian pada mereka. Aku harus berubah, berlari, mendaki dan terbang tinggi bersama para khalifah cinta. Kuleraikan dan kusatukan asmara jiwa dalam satu keterpaduan menembus langit. Menapaki manzilah-manzilah sampai ke ujung demi cinta. Menjadi pengobar semangat kafilah-kafilah yang diam sejenak menghampiri ketaksetiaan kepalsuan. Mengayuhlah untuk menembusnya.

Menghampirilah ke sekeliling ragaku. Mari bersama menuju samudera cinta. Selamilah para pencinta di setiap lembaran masanya. Sampaikan salam kehormatan untuknya, demi-nya. Cinta membuat kita tetap semangat dan selalu bergairah. Semestinya cinta tak membuat putus asa. Aku harus senantiasa tersenyum dalam menatap kehidupan. Aku tak akan menyerah dan aku tak akan marah. Aku akan tetap tenang dan aku harus tenang. Aku tak boleh gelisah dan aku harus tabah. Tiada kesabaran yang lebih lapang selain menerima semuanya.

Aku hanya mengadu kepada-Nya. Aku tetap berdoa semoga hari-hariku berjalan dengan tenang. Aku pasrah di hadapan-Mu ya Rabbi. Berilah ketenangan pada kami. Di bulan Ramadhan ini, ingin aku menjadi semakin baik. Kuharap Engkau mencintaiku karena aku ini milik-Mu. Tuntunlah jalanku untuk menuju-Mu. Aku ingin meraih ridha-Mu. Ingin menikmati setitik ilmu-Mu.

Ingin aku mengkaji Alquran sehingga darinya aku mendapat inspirasi atas interpretasi segala tafsir. Saat ingin aku membaca tafsirnya saja. Sekedar melafadzkan Arabnya aku tak puas. Membaca tafsirnya pun aku tidak dapat konsentrasi. Ingin aku banyak menyempatkan waktu untuk membaca tafsir, agar aku bisa memahaminya. Tapi aku lebih tersibukkan dengan urusan kuliah dan gejolak cinta.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori