Oleh: Kyan | 16/10/2006

Fokus Pada Tugas Akhir

Senin, 16 Oktober 2006

Fokus Pada Tugas Akhir

**

Kukonsentrasikan waktuku buat menyelesaikan proposal pengadaan buku. Aku harus segera menyelesaikannya. Tapi hambatannya aku tak punya uang buat mengeprint dan menjilidnya. Aku pinjam uang ke Neng Titin Rp 25.000,- Tadinya mau pinjam cukup duapuluhribu ternyata gak cukup. Kemarin sewaktu di Rancaekek sudah kupinjam sepuluhribu. Merasa tidak enak dengan punya hutang terus. Orang kaya pun tidak lepas dari utang. Ibaratnya senjata bisa menembak orang atau membunuh diri sendiri. Utangpun sama bisa menjadikan kita kaya atau menjadikan semakin terjerat pada kubangan kemiskinan. Makluk sosial harus memberi pertolongan dan menerima pertolongan. Harta harus berguna dan bergulir agar terjadi kemakmuran.

Ku cek ATM-ku, ibuku masih belum juga mengirim uang. Mungkin ibuku belum pulang dari  Singaporenya. Mau mengirim sms masa aktif kartu handphoneku habis. Meski masih ada pulsanya. Tidak punya uang terasa menderita dan tidak bebas melakukan apa-apa. Tapi aku bersyukur tak pernah tidak makan. Sampai saat ini aku masih bisa makan. Nanti kalau aku gak pulang seminggu lebih  harus ada persediaan beras, aku harus masak nasi dan lauknya. Aku harus belajar masak sendiri. Jangan terus mengandalkan warung makan. Budaya hemat harus digalakan.

Sampai Duhur aku di warnet. Mencari bahan buat tugas akhir. Akhirnya kutemukan juga referensi buat tugas akhir. Mencari informasi apa pun bisa diperoleh yang baik ataupun sealiknya. Dunia maya bisa membawa kita terbang tinggi ke angkasa namun bisa membuat kita semakin terperosok. Dalam situasi dan dimanapun kita hidup mesti kembali lagi ke dirinya. Diri kita harus senantiasa mawas diri dan madep dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan. Berhati-hati dan pasrah hanya pada Allah.

Tugas akhir Bab Pendahuluan belum juga kelar. Kenapa begitu sulit dalam merumuskannya. Aku harus menelusuri semua referensi tugas akhir di perpustakaan. Sebelum lebaran aku harus mampu menyelasaikannya. Wajar kemarin kalau orang lain bisa selesai kenapa ku gak bisa. Yakin aku mampu menyelesaikannya. Wajar kemarin–kemarin aku fokus pada proposal. Tapi mulai hari ini aku mesti fokus pada tugas akhir. Kalau orang lain bisa selesai kenapa aku gak bisa. Aku yakin aku mampu menyelesaikan tugasku. Tidak boleh tidak. Bukankah aku ingin lulus dan wisuda September 2007 nanti.

Ternyata masih kurang uangnya agar proposal yang kubuat bisa sampai ke tujuan. Kalau pinjam lagi aku merasa tidak enak. Meski aku tahu, Neng Titin bakal memberi pinjaman uang lagi. Dia memang baik padaku. Aku dan dia sudah merasakan manis dan pahit getirnya kehidupan bersama-sama. Aku sudah merasa seperti saudara. Aku sudah sangat dekat dengannya. Tapi bukan urusan hati. Sudah merasakan nyaman dan ada hubungan batin, tapi tidak ada rasa ketertarikan.

Dia sudah tahu hati ini cenderung untuk siapa. Hanya untuk satu orang disana aku mencinta. Aku ingin lebih banyak lagi punya sobat deketku sepertia dia. Sahabat seribupun tak pernah cukup. Tapi musuh meski satu orang saja bakal terasa sempitnya permukaan bumi. Jangan mencari musuh. Tapi sering tanpa sengaja akibat perbuatan kita dapat menciptakan musuh. Jadinya ada saja yang benci pada kita.

Neng Titin memintaku menemaninya ke warnet untuk mengirim Tugas Akhir Bab Pendahuluan ke pak Anton. Selesai itu kami berpisah di gerbang kampus. Dia pulang ke kosan sedangkan aku menuju terminal Damri. Aku mau jalan-jalan ke alun-alun Bandung untuk menukarkan uang dolarku.

Terpaksa uang Singapore dari ibuku kutukarkan diMoney Changer. Empat Dolar dapat Rp. 22.500,- Lumayan. Asalnya aku punya 6 lembar, 2 Dolar diminta sama Neng Titin sewaktu di sama-sama magang di Tasik. Tadi kuminta lagi, ia tak memberikannya. Katanya buat kenang-kenangan. Tak apalah, toh dia sudah memberi pinjaman uang untukku.

Sempat aku main ke Toko Buku Kurnia Agung. Lagi banyak diskon buku-buku Islam. Aku tak membeli apa-apa, takut uang tak cukup buat mengirim proposal. Aku malah membeli sabun cuci dan sabun mandi. Moga saja keajaiban datang. Ternyata ada sms, ibuku telah mengirim Rp. 750.000,- Terimakasih Ibu. Ibuku nun jauh disana. Disini sebenarnya aku serasa punya ibu sebagai sobatku, Neng Titin.

Dengan Neng Titin kira-kira setahun lagi aku tak bakal bersama-sama lagi. Suatu ketika aku dan dia bakal berpisah. Seperti banyak dibilang orang bahwa ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kami suatu saat nanti bakal punya aktivitas masing-masing. Terseret oleh takdirnya masing-masing. Tapi moga saja tali silaturahim tetap ada dan terjalin mesra. Membincang tentang teman perempuan, aku jadi teringat Rina, temen SMU-ku. Dia pernah mengajakku buka bareng hari Sabtu di rumah Widi. Haruskah aku ke sana? Aku malu kenapa? Masih rendah diri di hadapan mereka? Kala ada waktu insyaallah aku bakal kesana.

Teringat juga seseorang. Muncul keinginan buka puasa bareng dia. Aku bisa mencoba menghubungi dia apa mau atau tidak. Aku ingin merasakan kebersamaan dan kehangatan dengan dia. Sebab entah Ramadhan depan kami bisa bersama lagi atau tidak. Apakah aku masih hidup. Aku ingin sebelum mati aku ingin merasakan kebersamaan yang mesra dengan orang yang paling aku cintai. Aku mencintainya melebihi apapun. Entah apa yang membuatku jadi begini. Tak pernah kurasakan cinta yang teramat besar padanya. Padahal sangat terang aku melihat kekurangan dia. Cinta memang tak memandang apapun. Ia datang dari jiwa yang dalam. Tuhan telah menganugerahkan rasa ini padaku.[]

 

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori