Oleh: Kyan | 21/10/2006

Zaman Disket Menuju Pulang Ramadhan

Sabtu, 21 Oktober 2006

Zaman Disket Menuju Pulang Ramadhan

**

Ingin segera selesai membaca semua buku yang kubeli kemarin. Tapi tugas kuliah juga harus segera dikerjakan. Menamatkan novel Kitab Salahuddin. Novel yang bagus diangkat ke layar lebar. Jadi ingin menonton lagi film “Kingdom of Heaven”, yang menceritakan penyerahan Yerusalem dari Salibis ke tangan Islam. Mustafa Akkad tak sempat merealisasikan keinginan membuat film Salahuddin. Dia keburu meninggal sewaktu terjadi ledakan bom. Mustafa Akkad adalah seorang sineas Muslim yang telah sukses membuat film spketakuler “The message” dan White The Lion.

Film pertama tentang kehidupan Rasulullah sejak kelaihran sampai kematiannya. Filmnya ini mendapat pujian dari para ulama, karena sosok Rasul tidak ditampilkan secara visual. Dan film kedua tentang Omar Mukhtar seorang Lybia yang berjuang mempertahankan negaranya dari tangan penjajah. Aku ingin lebih banyak lagi menonton film sejarah. Belum kesampaian menonton video ‘Dari Makkah sampai ke Eropa’.

Beres baca novel aku ke kosan Robbi. Dia sudah pulang katanya tadi pagi. Jadi aku tak sempat mencoba disket di komputernya. Sudah muak sekali urusan dengan disket. Kenapa juga dulu gak membeli flashdisk. Komputerku masih yang dulu. Mau gak mau aku harus membeli komputer baru. Aku harus menabung dan stop membeli buku. Kakakku menelpon katanya aku harus ke Garut. Uang yang dikirim ibuku mau dibelanjakan buat persiapan lebaran.

Kadang yang kutuliskan tak menyadarinya. Jam lima aku berangkat ke Garut. Menunggu lama di Bunderan. Ketemu Sugih lalu ketemu Nik, sepupu Uly. Ia habis belanja ke alun-alun. Ia bilang Teh Uly ditinggal di Parahyangan. Katanya ada urusan penting. Ia pun bilang ntar malam mau berangkat pulang. Sempat aku berpikir bukannya ia mau pulang H-1. Aku jadi ingat, mereka termasuk kultur Muhammdiyah. NU dan Muhammadiyah selalu terjadi perbedaan hari raya lebaran.

Sedangkan aku masuk kultur mana? Aku tak berpihak pada siapa-siapa. Meskipun aku dibesarkan dalam kutur NU. Aku ini Islam, dan kalau harus memilih mazhab aku condong ke mazhab Paramadina, Caknur. Mazhab menurutku ibarat jamaah atau keluarga. Dalam satu kampung pasti terdiri dari macam-macam keluarga. Hal itu alamiah sekali sehingga tak perlu menjadi ajang perdebatan.

Sempat dulu aku ke warnet, tetapi datanya gak bisa dikopikan. Kubeli disket, toko-toko sudah pada tutup karena malam sudah larut. Disket yang kubeli tetap saja jelek. Kuberanikan ditukar. Masa beli sesuatu tak sempat ada manfaatnya. Aku membeli manfaatnya, bukan barangnya. Akhirnya di disket lain bisa. Aku segera pulang. Akhirnya data bisa terselamatkan. Aku mesti segera mengirimkan Bab Pendahuluan ke Pak Anton. Aku tak boleh menunda-nunda.

Sampai di Garut jam sembilan. Dalam perjalanan aku melihat wajah-wajah sumringah yang mau mudik. Mesti keadaannya macet, tapi rasa kesal harus bisa dikendalikan. Aku sms sahabat-sahabat baikku. Kepada mereka kuberi ucapan selamat lebaran. Aku hendak lebaran di Garut dan sekarang sedang menuju Garut. Padahal tadi rencana mau di Bandung saja. Maka aku asyik membaca buku. Saking ayiknya membaca buku, mencuci pakaian pun tak sempat.

Kalau baca buku satu judul ingin segera menamatkannya. Kalau sudah terasyikan tak ingin jeda dan terpotong dengan aktivitas apapun. Inginnya terus saja baca sampai aku lelah, sampai paragraf terakhir. Namun aku telah banyak membaca, aku selalu saja masih merasa bodoh terus. Selalu kulihat orang-orang lebih cerdas dan pintar. Aku banyak membaca karena aku ingin banyak tahu. Namun wawasanku selalu saja kurasa lebih rendah dibanding teman-teman. Mungkin benar aku ini bodoh.

Mumpung sempat, hari ini aku ke Palasari lagi. Ingin melunasi membeli buku sebesar uang yang kuterima dari beasiswa itu. Aku membeli buku novel Misteri Semesta, Mengembara Mencari Tuhan dan al-Matsnawi. Aku seneng banget dapat buku Matsnawi Jalauddin Rumi. Meski baru sebagian. Sepertinya akan diterbitkan berseri. Karena naskah aslinya ada 2000 halaman sebanyak enam jilid. Aku harus membeli semuanya.

Namun aku merasa gak enak hati uang di ATM-ku berkurang Rp 150.000,- Padahal kemarin masih bersaldo Rp 282.000,- Tadi pagi aku mau mengambil di ATM kampus Rp 50.000,- gak bisa. Kucoa lagi sampai dua kali. Tetap tak bisa. Aku berpikir mungkin mesinnya rusak. Aku berangkat saja menuju pangkalan Damri. Di Damri kubaca novel sambil berdiri. Penumpang berjejalan penuh sesak. Sampai di Kosambi aku turun dan langsung menuju ATM BCA. Tetap uangnya gak keluar. Sudah ke sini tetap tak bisa mengambil uang.

Aku diam dulu. Kucoba lagi di mesin yang lain dan kupilih penarikan pecahan 100.000 ternyata bisa. Namun kaget saldonya tinggal Rp 32.000,- Pantesan tadi di kampus dan di mesin ATM sebelah memilih penarikan Rp 150.000,- tak bisa. Karena saldonya tidak mencukupi. Aku jadi bingung dan enek. Apakah benar saldo ATM-ku tinggal segitu atau karena human error. Aku harus segera mengeceknya ke kantor Muamalat. Aku takut tadi tuh sewatku mengambil di ATM kampus sebenarnya uangnya keluar tapi aku buru-buru pergi.

Tapi semua terjadi atas izin Allah. Semua itu tak tejadi tanpa izin Allah. Aku harus mengecek ke Bank Muamalat dengan segera. Tapi harus menunggu sampai nanti tanggal 1 November uangku tinggal empatpuluhribu. Belum bayar backup cd sebesar Rp 80.000,- membayar sertifikat Rp 50.000,- dan bayar listrik kosan Rp 45.000,- belum buat makan. Semoga uangnya mencukupi sampai ibu mengirim lagi. Aku tak boleh bilang ke ibu dan kakakku bahwa sebenarnya aku kelabakan dengan pengaturan uang. Aku tak ingin bilang aku tak punya uang. Ingin terlihat bahagia, meskipun sengsara.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori