Oleh: Kyan | 27/10/2006

Menjadi Pelaku Sejarah

Jum’at, 27 Oktober 2006

 Menjadi Pelaku Sejarah

**

Mengerjakan tugsa akhir bab Pendahuluan sungguh menyita waktu. Sampai menulis catatan harian pun tak sempat. Aku ingin segera menyelesaikannya. Aku dibuntuti rasa khawatir tugas kuliah belum pada selesai. Jangankan tugas kelompok, tugas mandiri pun belum aku kerjakan. Tapi kalau semuanya sesulit apaun jika dicoba dulu bakal mendapatkan jalan solusi. Diperlukan waktu dan kerja keras. Jangan putus asa dan jangan gampang menyerah.

Mengerjakan tugas akhir akhirnya selesai juga meski memerlukan waktu dua hari secara terus-menerus tanpa henti. Istirahatnya cuma makan, salat dan tidur larut. Jika aku kerja keras niscaya Allah akan membeirkan jalan. Kadang aku cepat menyerah ketika keberhasilan tinggal selangkah lagi. Pepatah bilang, kebanyakan orang gagal adalah mereka memutuskan menyerah, tidak lagi ia memproses diri ketika ia betapa amat dekatnya pada simpul kesuksesan. Padahal hanya selangkah lagi. Dalam hal apapun termasuk dalam cinta.

Sampai sekarang aku belum menjadi penulis hebat. Menulis segala jenis tulisan karena aku belum mencobanya secara serius dengan menyempatkan waktu. Kalau  tak menyempatkan keberhasilan tidak bakal datang dengan sendirinya. Aku harus menyadarinya. Aku belum mendapatkan penghasilan tetap sampai saat ini karena belum memikirkannya secara konsisten. Masih terlalu mengharapkan pemberian ibuku. Jika seandainya terjadi sesuatu pada ibuku sampai aku tak bisa diberi bekal, apakah aku mampu berdiri sendiri. Aku harus memikirkannya. Bisakah aku dapatkan penghasilan dari menulis. Kalau orang lain bisa kenapa aku tidak bisa.

Namun jangan pernah berpikir menulis untuk menyambung hidup. Menulis karena ingin mendapat honor. Menulis adalah demi idealisme. Menulis untuk mengisi hidup, ini yang harus menjadi acuan pikiran. Memang inginnya aku ini belajar terus, sekolah terus sampai jenjang yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Aku banyak membeli buku untuk kubaca agar mendapatkan wawasan luas. Tapi harus disadari itu butuh uang yang tidak sedikit. Mengharap ada orang tua asuh? Harus berpikir realistis, aku ini bodoh. Tapi tak gampang menyerah.

Aku ingin sekolah terus dengan uang sendiri. Dengan uang hasil keringat dan darahku sendiri mampukah kau? Setidaknya harus menjadi cita-cita hidupku. Aku tak boleh kenakan berdiri di atas kaki ibuku dan orang lain. Sampai kapan aku bisa. Dari dulu begini-begini terus. Sekarang harus berubah untuk mengandalkan keringat sendiri.

Aku tak akan begini dan disini terus. Aku bakal meninggalkan tempat ini suatu saat. Sudah di depan mata, aku punya entah aset atau liabilitas ketika aku pergi. Semua barang-barangku ditaruh dimana? Ilmuku kebanyakan disimpan di buku bukan di otak. Tak tahu ilmu apa yang tersimpan di otak. Aku merasa selalu bodoh alias tidak banyak tahu daripada tahu. Buku hanya sekedar alat untuk menjadikan kita tahu segala hal. Aku sudah banyak membaca buku, lantas apa yang aku tahu? Buku tak bisa dibawa kemana-mana. Seandainya aku pergi ke Singapore atau Malaysia, masa buku-bukuku dibawa. Tentu otakku yang dibawa

Otak ibarat sumbu. Ia bukan diisi oleh berbagai hal melainkan harus dinyalakan. Kasarnya dipantik oleh oleh korek api. Bila ada sumbu tentu ada minyaknya. Menurutku minyaknya adalah kejernihan hati dan keluasan pikiran. Dalam hati ada hubb dan fuad. Lantas kedudukan jiwa-jiwa itu apa. Menurutku itu sebagai teori perjalanan. Amarah, lawamah, mulhimah dan mutmainah. Akal adalah aktifitas berpikir dan otak adalah hardwarenya. Minyaknya dari Allah. Manusia sebagai sumbunya untuk menerangi alam alias memanfaatkan potensi bumi untuk kesejahteraaan atau keharmonisan takdir tuhan.

Selalu saja ada dorongan untuk berbuat dosa. Hanya Allah lah yang maha tahu atas segala dosa yang pernah kuperbuat dan selalu terbesit di hati. Aku banyak berbuat dosa dan terasa enjoy saja ketika berbuat dosa. Apakah hatiku sudah sedemikian keras. Aku merasa sudah saleh, si pembuat dosa merasa saleh. Keterlaluan tapi apakah ini ketawadhuan? Intinya harus bersikap rendah di hadapan Allah, dan tidak menyakiti orang lain. Jangan sampai orang lain bersikap berpikir bertindak negatif atas tingkahku. Harus dibuat positif respon orang ketika aku bertingkah laku. Berat, setidaknya menjadi acuan pikiran dan tindakan.

Sejak saat ini. Sejak kemarin-kemarin pun aku sudah mulai berpikir aku akan setia pada satu perempuan. Jika seandainya tidak kudapatkan peremuan itu, sudahlah pencarianku dihentikan untuku hubungan kebahagiaan nomor dua. Namun sebelum sampai pada titik akhir aku tak boleh menyerah. Masih ada kesempatan. Perempuan lain hanya teman biasa. Teman untuk meminta bantuan dan dibantu. Sisanya dari hidupku harus diarahkan pada kualitas hidupku.

Aku harus semakin baik. aku harus segera mendapatkan penghasilan. Uangku yang kudapat harus dibuat aset yang bakal menghasilkan lagi. Kasarnya penggandaan lagi. Melipatgandakan. Bedanya dengan riba ini ada kreate manusia berkenaan dengan sektor riil. Si punya uang sebagai pelaku sektor riil. Karena tugas hidup adalah untuk bergerak dan bergerak demi sebuah keharmonisan alam. Tidak diam seperti aku ini.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori