Oleh: Kyan | 04/11/2006

Ketika Dia Datang Padaku Malam Itu

Sabtu, 04 November 2006

Ketika Dia Datang Padaku Malam Itu

**

Hari ini banyak yang datang ke kosanku. Mulai dari kakakku dari Garut, ia mau mengambil uang yang dikirim ibuku—tadinya aku yang mau ke Garut. Sampai teman-temanku: Puri Rahma, Dudi, Siti Nuraeni, Nisa, Runi dan Rini. Tujuannya tak lain selain silaturahim. Mereka pada bertanya tugas kuliah. Biasanya kalau sudah ada satu orang saja yang selesai, bakal memudahkan jalan bagi yang lain. Ada yang sekedar ingin melihat contoh pengerjaannya, ada yang memfotocopi, sampai ada yang sama persis alias langsung copas.

Begitulah mahasiswa dalam proses belajarnya. Manusia belajar tak bisa dilepaskan dari meniru orang lain. Tapi kalau meniru tok, tak punya kreativitas sendiri kurang bagus. Mesti berani menampilkan beda dari yang lain. Manusia memang beda. Banyak yang menyuruhku mengerjakannya. Tapi bagaiamana caranya aku mendidik mereka supaya belajar dengan baik. Sementara aku ingin mendapat penghasilan. Demi materi, idealisme jadi luntur. Aku harus bagaimana ya Allah. Aku sudah menyuruh mereka supaya mengerjakan sendiri dulu. Kalau mengalami kesulitan baru bertanya padaku. Mereka kesulitan semuanya. Sementara waktu untuk mengerjakannya sempit mepet. Dudi juga ikut mengerjakan tugas di komputerku.

Aku harus ke Palasari mau menolong orang yang mau membeli buku Modal Ventura. Ada lima orang yang mau menitip beli. Ingin fotokopi saja, tapi aku ingin menafkahi penjual buku, supaya dengan menjual buku bisa kaya. Dagangannya laku. Aku mau memenuhi permintaan teman-teman saja pergi ke Palasari. Dalam waktu yang sempit, aku harus mengoptimalkannya. Aku harus bisa menolong orang sebanyak mungkin.

Meskipun terkadang kesal karena berhubungan dengan orang lain tidak sefaham sering timbul clash. Aku harus sabar menghadapinya. Terkadang ego individualisme diperlukan tapi aku harus menghargai individu orang-orang. Sebagai egonya orang-orang. Ego dalam setiap ada keinginan, ingin cepat memenuhinya. Aku ingin belajar biola, maka segala yang berhubungan dengan biola seperti buku panduan, kaset, vcd, dan segala informasi tentang biola kucari-cari. Seorang Violis terkenal Vanessa Mae kekayaannya dari bermain biola melebihi kekayaan Ratu Elizabeth. Usianya masih 28 tahun. Perempuan dan belum menikah. Begitu melimpahnya materi.

Kalau aku ingin membeli biola, harga termurah Rp 1.300.000,- Aku melihat ada juga yang empat juta. Aku ingin membeli yang termurah suatu saat. Tapi aku belajar biola kepada siapa. Sekarang dalam kesibukan kuliah belajar ke siapa. Nanti dalam kesibukan kerja aku bisa belajar di kursus. Tapi sempatkah. Setiap apa yang tidak tercapai olehku, harus tercapai oleh anak-anakku. Aku ingin jadi ekonom, pelukis, dan violist. Masa cita-cita yang sedikit itu tak tercapai. Cita-cita itu harus ditulis itemnya, harus lebih dari 100 item cita-cita.

Baru hari ini pagi ini selepas subuh aku gak tidur lagi. Dudi menginap di kosanku. Aku buru-buru mandi soalnya mau ke Palasari. Biasa sarapan bubur harga seribu dan ketemu Robbi lagi nongkrong. Katanya semalam baru sampai. Pulang dari Ciamis mengambil uang.

Di Damri kusibukkan membaca melanjutkan novel Misteri Semesta. Menjadi pikiranku adalah asal usul horoskop yang katanya itu benar adanya. Bahwa karakter manusia dipengaruhi oleh planet-planet sejak ia dalam kandungan. Setiap manusia pasti merupakan perpaduan dari unsur udara, api, air dan angin.

Apakah aku termasuk unsur api dan udara? Makanya setiap bulannya ada nama bintangnya seperti ada bintang aries, pisces, virgo, capricorn dll. Apakah hal ini benar? Sementara sejak SMU kami didakwahkan bahwa mempercayai ramalan bintang itu perbuatan syirik. Tapi bila dipikir-pikir jangan-jangan kondisi manusia yang ukurannya kecil, kondisi bumi yang berukuran besar mengalami pasang surut air laut itu sebagai akibat rotasi dan revolusi bulan. Begitupun perbedaan musim diakibatkan oleh revolusi bumi terhadap matahari.

Bisa dibenarkan karakter manusia dapat dipengaruhi bintang tanpa harus terjerembab pada kemusyrikan. Dalam diri manusia terdapat roh. Roh itu sebuah frekuensi. Roh adalah hal yang bersipat non materi. Disebut nonmateri menurut manusia, tapi bisa dikatakan materi oleh pihak lain. Menarik mengkaji novel ini. Banyak hal yang dipikirkan dan harus ditinjau ulang.

Begitu sampai di Palasari, toko-toko buku belum pada buka. Apakah aku kepagian datangnya. Kusempatkan lagi membaca depan toko BBC. Setelah BBC buka, aku langsung masuk. Buku Modal Ventura tinggal empat eksemplar. Sampai di rak novel, aku antusias karena novel tetralogi ketiga Pram, sudah terbit, Jejak Langkah. Aku terpaksa membelinya meskipun mahal seharga Rp 90.000,- dan akupun ingin membeli buku biografi Adjeng Kartini yang ditulis oleh Pramoedya AT. Aku mencari dulu buku satu lagi Modal Ventura di toko lain. Sekalian mencari buku cara menggambar.

Akhirnya dapat juga, “Menggambar Untuk Pengembangan Bakat” kubeli. Lalu mencari buku belajar biola, tak ada. Ke BBC sekalian ingin mengkonfirmasi proposal yang di masukkan ke BBC. Aku ingin sekedar mengkonfirmasi saja. Lalu kuingat katanya aku mau menabung buat membeli komputer. Tapi tetap saja beli buku terus. Bagaimana sih.

Sampai di kosan Dudi sudah tak ada. Kunci kosan dititipkan ke siapa sama Dudi. Aku ingin marah. Aku muntahkan rasa marahku dengan mengetuk pintu dan kaca dengan keras. Untuk tak pecah. Aku pergi saja ke kosan Robbi, ada calon istrinya yang bela-belain datang dari Banten, demi sang kekasih. Dengannya aku bercerita banyak hal. Dia pun tahu Vanessa Mae. Kalau aku baru akhir-akhir ini saja tahu nama Vanessa Mae karena jago biola. Aku tak tahu kapan pertama kali aku mendengar nama Vanessa Mae. Nanti aku mau mencari mp3 Vanessa Mae dan The Bond semoga saja dapat. Aku ingin bisa memainkan alat musik biola.

Tiba saatnya adzan Duhur aku balik lagi ke kosan. Ternyata kunci kamarku dititipkan ke Ahmad. Tadi juga muncul pikiran jangan-jangan dititipkan ke dia. Tadi ke Ahmad, tapi kamarnya terkunci. Ternyata firasat pertamaku itu suka benar. Dalam mengisi soal ujian pun sejak SD suka berpikiran begitu. Firasat atau jawaban spontan, yang pertama muncul itu suka yang benar.

Aku langsung menyampul buku yang tadi kubeli. Hari ini aku membeli buku seharga Rp 90.000,- pas bersih setelah diskon. Setelah diskon tigapuluh persen. Ketika sedang menyampul, datang Deri dan Hilman. Ia baru datang dari Sukabumi. Setelah beres menyampul buku, datang lagi Eka minta diketik TA Bab Pendahuluan. Begitu banyak orderan minggu ini. Karena berlama-lama di depan komputer, bayarnya harus ditarif. Sebelumnya biasa seikhlasnya. Tapi mataku sudah minus tiga, akibat sering di depan komputer buat mengerjakan tugas. Tugasku dan tugas orang lain, menghendel tugas kelompok, dan tetek bengek tugas organisasi.

Ketika mengerjakan tugas, ingin sambil mendengarkan tape. Tapi tape-ku hancur lagi. Asalnya bagus, lalu diperbaiki dan bagus lagi. Tapi hancur lagi setelah mau dipasangkan lagi penutupnya. Kubuka lagi malah lebih hancur. Sekarang tidak bisa diperbaiki lagi. Tinggal radionya saja yang masih bunyi. Tapi akhirnya radio pun tumbang. Semuanya sudah hancur.

Sekarang aku tak punya lagi radio tape. Radio yang kupunya telah aku pukul dan kulempar. Sekarang tak bisa diperbaiki lagi. Aku kesal dibuatnya gara-gara malah membawa gangguan ketika aku mengerjakan tugas. Sudah berapa radio tape yang hancur di tanganku. Ada tiga radio tape semua jadi bangkai karena ulahku. Setiap aku kesal, biasa benda apa saja diremukan. Si barang itu sendiri jadi luluh lantak.

Begitulah kalau aku marah. Jika barang rusak, makin rusak, kulempar saja sampai hancur. Aku makin kesal apalagi setengah dua masih belum salat Duhur karena mengutak-atik memperbaikinya. Apakah karena sudah melalaikan salat. Tanggung. Biasa kalau hendak salat, inginnya tak ada pikiran lagi dan tidak diburu-buru. Apakah aku harus membeli tape sekalian yang bagus. Mendingan membeli komputer saja. Nanti belakangan tapi sekarang harus menabung dulu yang banyak.

Selepas salat Maghrib, ketika aku lagi baca buku tafsir, ada yang mengetuk pintu kamarku. Ida dan ternyata bersama temannya yang aku benci banget kedatangannya. Tapi mungkin pula kusayangi sebenarnya. Tumben dia ingin datang ke kosanku. Tak mau tapi terpaksa mungkin. Kenapa aku ketemu dengannya tiba-tiba hatiku deg-degan. Aneh. Padahal ia orang biasa-biasa saja. Aku ingin menelusuri kehidupan ini untuk mewujudkan mimpi-mimpiku.

Ya Allah, bila dia jodohku, cocokanlah aku dengannya. Persandingkan aku dengannya. Jika bukan, pasti Engkau akan memberi yang terbaik bagiku. Terangilah hatiku jalan hidupku dalam menuju surga-Mu.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori