Oleh: Kyan | 06/11/2006

Dikerubungi Perempuan, Hanya Satu Perempuan

Senin, 06 November 2006

Dikerubungi Perempuan, Hanya Satu Perempuan

**

Dikerubungi para perempuan, hanya satu perempuan. Aku terbagun ketika ada yang mengetuk pintu kamar kosanku. Rupanya Dian yang baru datang ke kosanku setelah lebaran. Ia menanyakanku soal tugas. Dia sudah beres dan dia mengerjakan punya Neng Titin. Meski tugasnya mengarang dalam membuat cashflow, tapi dia membuatnya berdasarkan laporan keuangan tahun-tahun sebelumnya. Rasio-rasio keuangan perbandingan dia gunakan.

Dian memang pintar dalam menganalisa keuangan. Banyak yang tidak aku mengerti, tapi sudah dia pahami. Aku ingin jago seperti dia. Katanya karena dia sering menonton Metro-TV. Dia banyak bergaul dengan orang-orang yang jago keuangan. Pantas saja kalau ingin jadi apapun, bertemanlah dengan orang-orang yang berhubungan dengan apa yang diingini itu.

Tak lama Eka dan Lia datang. Dia terlihat ngos-ngosan. Katanya cape banget seperti harus mendaki untuk sampai di tempat kosanku yang jauh. Padahal bagiku tidak seberapa jauhnya. Tak lama kemudian juga Neng Titin datang pula sambil membawa oleh-oleh. Lia mau mengerjakan tugas Bab Pendahuluan. Neng Titin juga mau mengerjakan tugas Modal Ventura. Sayang komputerku masih satu biji. Penghasilan dari mengerjakan tugas orang biasa kubelikan buat membeli buku, bukan kutabungkan buat membeli komputer. Aku lebih tertarik beli buku dibanding yang lain, dibanding menabung buat membeli komputer lagi. Susah berdisiplin menabung.

Kalau banyak orang yang minta tolong, aku jadi bingung mana yang harus didahulukan. Susah juga untuk konsentrasi dan akhirnya banyak mengobrol. Lia curhat tentang cowoknya. Kemarin aku dengan Puri Rahma curhat pula. Aku merasa selalu jadi tempat curhat. Apakah aku dewasa di mata mereka. Karena ingin menunjukkkan kedewasaanku, aku terlalu banyak memberikan pendapat. Padahal orang curhat itu hanya ingin banyak didengarkan. Lantas apakah aku sudah banyak mendengar? Ingat kita punya dua telinga dan satu mulut.

Datang lagi para perempuan yang sudah tak kuingat lagi nama-namanya. Saking banyak yang datang ke kosanku, akhirnya aku banyak dikerubungi oleh perempuan. Tugas punya Puri Rahma belum juga selesai. Kalau aku sudah mengatakan sanggup, aku harus bertanggung jawab dengan perkataanku. Kalau sampai tak bisa memenuhinya, kepercayaan orang padaku bakal memudar. Aku merasa sampai saat ini orang-orang masih percaya padaku.

Siti Nuraeni datang juga. Tapi hari ini banyak mengerjakan tugas punya Neng Titin. Dia pulang dari kosanku jam sembilan malam. Dengan Neng Titin memang selalu banyak bersama-sama. Di kosanku aku, Dudi dan Neng Titin makan bareng-bareng. Banyak yang datang selain memusingkan juga mendatangkan kebahagiaan. Aku tidur jam duabelas malam lewat.

Tapi aku masih bisa bangun jam lima pagi. Aku segera mandi untuk segera mengerjakan tugas punya orang lain lagi. Karena tak lama lagi orang-orang akan berdatangan ke kosanku. Jika ditarif orang yang masuk ke kamarku, akan banyak terkumpul uang. Kosanku selalu ramai didatangi orang. Semoga saja kamar kosanku menuai berkah.

Aku sedikit menyempurnakan tugasku dan telepon berdering. Robbi juga minta dibuatkann tugas yang hari ini mau dikumpulkan. Ada saja daya dorong yang membuat aku menyanggupinya. Aku kasihan pada orang-orang. Apakah aku sudah menempatkan rasa kasihan itu pada tempatnya? Apakah karena ingin aku mendapat materi, idealitas terkorbanan demi materi. Pahitnya kehidupan. Apakah aku menyerah saja ketika aku bertindak sesuatu. Selalu ingin mencari pembenaran.

Ketika aku sibuk mengetik, Iqbal datang. Apakah aku sudah menampakkan muka ketus. Aku tak ingin diganggu. Tapi aku mencairkan suasana dengan membicarakan hal apa saja. Sampai curhat soal perempuan. Dia bertanya tentang perempuan yang pernah singgah. Sungguh aku belum mendapatkannya. Diapun menunjuk padaku foto yang kuhiasi dengan bunga. Hanya obsesi saja seperti yang sering dibilang sama Veri. Aku sumpek memikirkannya. Soal perempuan biar datang dengan sendirinya. Tapi aku tak boleh bersikap seperti itu. Tapi harus ada usaha aktif.

Lia datang lagi. Puri Rahma lagi, lalu Geng Diah. Ada Anisa, Runi, Iis, Neng Titin dan tak kuingat lagi namanya. Pusing aku terus dikerubungi para perempuan. Aku mengerjakan tugas pun tak penuh konsentrasi. Dari sekian banyak perempuan yang datang ke kosanku, entah kenapa hati ini hanya terpaut ingat pada satu orang. Sayap-sayap malaikat-ku. Kenapa aku buta pada yang lain. Mungkin masih banyak yang lebih dari dia. Tapi aku hanya menyayangi dia seorang.

Apakah munculnya perasaan ini karena ada komitmen. Apakah muncul perasaan itu mutlak anugerah-Nya, adalah pemberian-Nya. Aku rasa keterlibatanku ada. Semua kembali pada diriku sendiri. Tentang kehendak bebas pilihanku. Yang pasti aku jatuh hati padanya  tidak datang begitu saja. Butuh proses yang lama sampai aku merasa terbelenggu akhirnya. Aku hanya ingat padanya. Tapi sering ketika aku bertemu dengannya, perasaanku selalu benci. Kuingin melihat apa yang dia bawa, tak mau memberinya. Tak ingin memberitahukan padaku. Dia memang tak peduli padaku.

Akhirnya aku bersikap kasar, karena aku selalu ingin mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku benci dengan sikapnya. Sampai akupun berpikir, jika dipaksakan apakah aku cocok dengannya. Kalau bersikap ego, dengan siapapun tak akan ada kecocokan.

Dimulai kuliah pertama selepas libur Ramadhan. Aku tidak mood, tak bergairah.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori