Oleh: Kyan | 08/11/2006

Jejak Langkah Cinta Cassanova

Rabu, 08 November 2006

Jejak Langkah Cinta Cassanova

**

Begitu lelahnya perjalanan. Begitu banyak pekerjaan yang harus kulanjutkan. Begitu banyak orang-orang yang harus kubantu. Mereka membutuhkan uluranku. Sementara aku masih terbelenggu pikiran yang terus menyelimuti. Soal kuliah, masa depan, keuangan, cinta, dan perempaun. Aku selalu dibuat kesal dan benci oleh perempuan. Aku ingin mendapatkan cinta sejati. Tapi aku merasa takdir tak berpihak padaku. Aku harus terbiasa bersahabat dengan kesedihan. Aku jadi berpikir biarlah cinta sejati datang dengan sendirinya menyapaku. Ingin kunikmati saja mengalirnya fluida kehidupanku.

Semalam aku tidur jam tiga pagi. Mengerjakan tugas punya orang, karena aku telah menyanggupinya. Berlama-lama di depan komputer sampai penglihatanku muram dan buram. Berlama-lama konsentrasi mengerjakan selalu terpotong dengan kedatangan orang yang meminta bantuanku. Mau gak mau aku wajib melayaninya meski aku kesal. Dalam kerewelan orang-orang aku harus sabar menghadapinya. Yang membuatku kesal jika tugas sendiri masih dalam kesulitan dan belum selesai.

Masalahnya jadi melebar dan meluber pada yang lain dan orang yang mendekatiku membuatku ingin memuntahkan kesalku padanya. Kena getahnya orang lain padahal aku sendiri penyebabnya. Orang-orang pada mengerubungiku sampai aku tak bisa konsentrasi mengejakannya. Tugas sendiri belum dikerjakan, tugas punya orang lain sudah karena aku ingin uang. Dan masih ada orang sudah antri menunggu bantuan. Sementara komputer hanya ada satu.

Di kosanku penuh dengan orang-orang sehingga suasana menjadi gaduh. Membikin pusing, tapi terasa ada kebersamaan. Persahabatan yang tak boleh ternodai dengan keegoisan yang membabi buta. Aku bahagia bersama-sama teman yang tak lama lagi akan berpisah. Kuliah kami akan segera kelar dan aku bakal berpisah dengan mereka. Maka ketika saat-saat kebersamaan harus sungguh-sungguh dinikmati dan dimaknai dengan luhurnya sebuah persahabatan dan kebersamaan. Inginku tak ingin ada perpisahan. Aku ingn bertemu selalu. Tapi ini kehidupan. Saat pertemuan dan perpisahan.

Pertemuan semakin berarti dalam detik-detik perpisahan. Aku harus memahami dalam perpisahan itu terkandung sebuah makna. Bahwa di tempat baru itu ada kebahagiaan yang lebih bahagia. Sebelum perpisahan, aku ingin mengatakan semuanya. Aku sungguh mencintainya. Aku akan selalu mencintainya. Entah apa yang terjadi padaku jika seandainya dia jadi milik orang lain. Mungkinkah aku akan semakin gila. Karena hari ini saat ini aku dikatakan gila olehnya. Ya aku memang gila dengan cintanya. Cinta-Nya.

Hari ini ada kuliah jam sembilan, malas sekali kuliah. Kubaca saja roman Jejak Langkah. Aku begitu larut di dalamnya. Menjadi lebih kuat keinginan untuk menjadi penulis. Teman-teman datang membawa film. Kami menonton film saja yang judulnya Casanova. Film legendaris laki-laki yang pernah meniduri wanita lebih dari 127 wanita. Namun akhirnya menemukan cinta sejatinya dengan seorang perempuan yang penulis.

Memang yang diinginkan oleh seorang laki-laki bukan sekedar seonggok daging, tapi ia harus punya pikiran tercerahkan. Mempunyai pikiran yang bisa dikembangkan. Mempunyai otak untuk berpikir. Jangan hanya sekedar menjadi lempung hidup. Bila tak menemukan kepuasan dari laki-laki, begitu gampangnya berpaling ke laki-laki lain, tanpa mengedepankan etika.

Wajar setiap orang menginginkan sex. Dimana-mana wanita adalah penggoda. Namun laki-lakipun begitu, gampangnya tertaklukan oleh nafsu wanita. Bukannya menaklukan atau meluruskan jalan pikiran wanita. Tanggung jawab seorang laki-laki adalah mengarahkan dan membimbing wanita agar menemukan jati dirinya.

Tadi di kelas tugas Manajemen Kredit dibahas. Ternyata jalan pikiran solusinya yang di pikiranku sama dengan pikiran dosen. Benarlah pikiran pertama kali itulah yang benar. Ilham yang belum terlumuri berbagai macam pertimbangan apapun. Itulah hukum kehidupan. Pulang kuliah sudah biasa orang-orang pada nongkrong dulu, dengan berbagai macam persoalannya. Aku pergi saja sendirian. Aku harus memegang pada prinsip. Bukan saatnya lagi kemana-mana bareng-bareng. Tak prinsipil. Begitu mudahnya orang terkena arus, termasuk aku mungkin.

Lalu aku mendapat kata-kata yang menyakitkan hati. Harus kuakui memang bahwa aku seorang anak fakir dan miskin, sebagai pengembara tanpa bekal, sabilillah. Tapi aku tak boleh sakit hati karena itulah kenyataannya. Tak boleh sakit dan balik menyakiti pada orang yang mengatakan aku fakir miskin. Ya fakir ya miskin. Justru aku harus meragap diri, itulah adanya. Jikapun itu tidak benar, orang hanya menyimpulkan apa yang ia ketahui dan fahami. Wajarlah dan menjadilah jiwa pemaaf.

Pulang kuliah kulanjutkan membaca roman Jejak Langkah, dan tertidur. Ada Dian miscal dan malam hari Aceng bilang tadi anak-anak ngeliwet di rumah Aceng Mukhlis. Mereka tak mengajakku. Mungkin tadi Dian memberi tahuku, miscall mau mengajakku. Kesal juga aku tak diajak. Sampai aku bilang bahwa aku sudah banyak memberi bantuan pada mereka, tapi ketika kesenangan datang mereka tak mengajakku. Tapi bersabarlah karena itu bukan rezekiku.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori