Oleh: Kyan | 09/11/2006

Perempuan Dihinakan dan Menghinakan

Kamis, 09 November 2006

Perempuan Dihinakan dan Menghinakan

**

Begitu ngebetnya ingin membeli Tafsir Al-Mishbah. Ada uang seratusribu hasil jerih payahku dari jasa pengetikan, akhirnya kubelikan juga pada buku. Bukan ditabungkan untuk bisa membeli komputer bagus. Kalau ditabungkan sangat lama terkumpulnya. Maka lebih baik dibelikan pada barang yang juga memberikan kegembiraan.

Rencanaku berangkat ke Palasari, sekalian mau mengkonfirmasi proposal yang kuajukan ke BBC. Sambil menunggu Damri, mampir ke tukang fotokopi. Kutanyakan apakah pesananku sudah mulai dikerjakan. Untuk orang yang pernah aku cintai, sebagai kenang-kenangan aku ingin melukis wajahnya. Kuingin memberikan sesuatu pada satu-satunya perempuan yang pernah singgah di hatiku.

Begitu ngantuknya di damri. Kucari-cari kesenangan supaya tidak ngantuk. Kucoba saja menelepon dia. Percakapan yang tenang dan mesra. Saat ini begitu ramah, tapi besok atau lusa apakah masih harmonis? Sikap manusia bebeda-beda dalam setiap waktunya. Supaya tetap konsisten harus ada pembinaan keharmonisan.

Sampai di Palasari, langsung menuju BBC. Keberanian diri menanyakan pada salah satu karyawan BBC, aku dipersilakan untuk menemui pimpinan toko BBC. Meskipun omonganku tersendat-sendat, tapi pikiranku bisa tersampaikan. Dan beliau sudah memperlihatkan buku-buku yang diberikan gratis dari penerbit untuk disumbangkan. Aku sudah mengatakan keuntungan kerjasama dengan pihak BBC. Karena kami selalu mempromosikan BBC.

Tak biasa aku sebentar di toko buku. Karena ada kuliah sorenya. Aku segera pulang dan di Damri melanjutkan baca roman Jejak Langkah. Aku belanja membeli sabun dan pisau cukur kumis. Selama ini aku membiarkan kumisku memanjang. Aku ingin tampil beda. Aku kesiangan masuk kuliah komunikasi. Aku begitu malas mengikuti kuliah hari ini. Dalam semester ini aku sering kali kesiangan masuk. Kadang semangantku melemah, gara-gara soal cinta. Sejak dulu orang pada tahu perempuan hanya memecahkan konsentrasi hidup saja. Tapi ada pula yang mengatakan jika suatu bangsa tidak memajukan kaum perempuannya, bangsa tersebut tidak akan maju. Salah mengarahkan perempuan, akan terperosok pada kehancuran. Menjadi surga atau neraka.

Pulang kuliah, nonton Today Dialog di Metro, tentang rencana kedatangan presiden AS yang hanya 10 jam, tapi menelan biaya milyaran rupiah. Apakah ini sebuah investasi agar investor berdatangan ke Indonesia? Yang pasti kedatangan George W. Bush sangat menyusahkan, padahal sambut saja secara biasa. Mengganggu aktivitas sehari-hari rakyat. Dana yang ada lebih baik untuk perbaikan rakyat.

Mengejakan tugas SBS dan mengobrol dengan Asun, Robbi, Sani, dan Aril. Masih dominan seputar itu-itu saja. Soal sex dan perempuan, dua sisi mata uang. Aku ingat pada kata-kata kemarin yang ditujukan pada satu perempuan. Kukatakan: perempuan tak tahu diuntung. Kamu pikir kamu tuh siapa. Tak tahu diuntung. Perempuan jalang. Apa tak pernah ada kata yang lebih baik untuk menyakitiku. Aku tidak bisa memaafkanmu lagi. Aku yang sering banyak tersakiti. Aku tak akan memaafkan lagi sampai kapanpun. Aku tak akan peduli lagi.

Begitulah kata-kata yang muncrat dari pikiranku. Aku marah dan mungkin penyebabnya karena ia bilang padaku, “Kalau cinta bilang langsung!”. Dia pikir aku ini siapa. Kuakui dulu aku cinta dia. Tapi sekarang aku banyak tersakiti. Sehingga ketika dia bilang begitu. Sangat menyayat mengiris-iris hatiku. Dia pikir aku telah memuja dia dan sangat mengharap cintanya? Banyak perempuan yang lebih baik dari dia.

Dulu aku tetap bertahan karena aku hanya belajar untuk punya komitmen saja. Aku hanya mencoba untuk mencintai apa adanya. Tapi nyatanya pembalasan yang sangat menyakitkan. Tak pernah menghargai perasaan seseorang. Aku tak sudi mencintainya lagi. Duh malangnya nasibku. Keadaan yang membuatku bertekuk lutut pada takdir. Biarlah jikapun dia bilang, tak tahu diuntung mengharapkanku. Tak untung membalas cintaku. Hari ini dia telah menghinaku. Tak menghargai rasa hati orang lain.

Aku jadi termenung mengingat kejadian tadi. Puaskah aku telah menyakitinya. Karena iapun telah menyakitku. Menghinakanku di depan orang banyak. Tak tega apa aku berbuat begitu terhadapnya. Haruskah aku meminta maaf dan kutegaskan daripada diriku tersiksa, aku harus minta maaf padanya.

Nanti akan kukatakan padanya: “Maafkan jika selama ini aku telah menyakitimu, telah mengganggu hari-hari kehidupanmu. Maafkan bila aku pernah mengharap, mengiba untuk mendapatkan cintamu. Tapi hati ini masih berkata lain. Tak lelah ingin mendapatkannya. Kenapa aku begitu memaksa. Tak jelaslah realita, dimana semua orang tahu bahwa dia telah merendahkanku. Meskipun itu pradugaku atas sikapnya padaku. Aku telah banyak tersakiti sampai-sampai orang bilang, “lebih baik mati saja aku ini”. Ya, lebih baik aku mati daripada tak henti disakiti.

Aku ini seorang laki-laki. Aku tak boleh diam saja bila direndahkan. Apalagi oleh seorang perempuan. Aku harus melawan. Tak boleh mengalah terus. Aku harus menunjukkan eksistensi diriku. Aku tak boleh jadi lempung yang begitu mudahnya digulang-gaper dibentuk dibentak seenaknya. Masih diamkah bila harga diriku diinjak-injak terus, sebagai diri, sebagai lelaki, sebagai manusia yang berharga?

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori