Oleh: Kyan | 11/11/2006

Berakhirnya Kisah Kasih Dengannya

Sabtu, 11 November 2006

Berakhirnya Kisah Kasih Dengannya

**

Pagi hari aku tak bisa lari pagi. Aku tak punya sepatu. Biar aku bisa olahraga aku harus beli sepatu segera. Begitu banyak kebutuhanku. Tak bisa membedakan mana yang termasuk kebutuhan mana keinginan. Intinya manusia ingin selalu mendapatkan sesuatu. Bukan ingin “memberikan” sesuatu pada hidup ini.

Teringat pada isi roman Jejak Langkah. Katanya sebuah negeri miskin, jika perdagangannya baik, maka negeri itu akan jadi makmur. Sebaliknya SDA berlimpah, perdagangan macet, negeri akan miskin. Seperti Indonesia ini. Lihatlah Singapura, meski negerinya kecil, tapi pendapatan per kapitanya sungguh jauh dari jangkauan Indoneisa. Mereka semua menjadi pedagang. Masa aku mau jadi pencari kerja. Aku harus jadi pedagang.

Teringat juga padanya. Apakah aku telah menyakitinya. Aku telah mengeluarkan kata-kata yang bisa melukai hatinya. Sadarkah dengan apa yang telah kukatakan padanya. Aku masih teringat dengan kejadian kemarin atas sikapku padanya. Aku telah berkata di hadapannya, “Sadar gak sih dengan apa yang telah kamu katakan dan lakukan terhadapku. Kamu mesti tahu respon laki-laki akan lebih kasar, lebih menyakiti, dan lebih kejam daripada binatang. Tadi kamu bilang, “Lihat saja nanti, kamu yang harus lihat nanti akibat perbuatanmu itu. Kamu telah merendahkanku dengan apa yang kamu lakukan padaku”

Ia hanya diam. Lalu ia berkata padaku bahwa ia menyuruhku untuk datang ke kosannya. Ia bilang padaku, “Jika kamu jentel, sebaiknya kamu datang ke kosanku.” Kujawab lagi dengan sedikit dikeraskan, “Untuk apa aku datang ke tempatmu. kejentelan laki-laki bukan dibuktikan dengan datangnya tidaknya aku ke kosanmu. Mestinya kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan yang telah merendahkan di hadapan semua orang. Kalau ngomong, emang tak ada kata yang lebih sopan gitu. Kamu juga hanya ingin menyalahkan orang lain.“

Aku ingin menuliskan kalimat untuknya, “Haruskah aku berteriak di tengah lapangan untuk mengatakan rasa sayang dan cinta di depan semua orang. Tak jelaskah setiap omongan dan perbuatan seseorang yang ingin menyayangi dengan tulus. Tahu kenapa dulu yang tak menginginkan jawaban. Karena aku takut pasti jawaban kamu adalah tidak. Aku hanya ingin mengabdi dan merasakan anugerah-nya tanpa embel-embel apapun. Namun dengan kejadian kemarin, kamu telah merendahkanku dengan begitu sangat. Meskipun mungkin tadinya maksud kamu hanya bercanda.

Kukatakan sekarang, aku maaf jika aku telah kasar sama kamu. Maaf, jika selama ini aku sudah mengganggu hari-hari hidupmu. Maaf, maaf jika aku pernah mengharap cintamu. Sejak hari ini aku tak akan mengganggu kamu lagi. Semoga hari-harimu menyenangkan selalu, …dari seorang yang terluka.

Akhirnya ketika larut, handphoneku berdering. Ada pesan masuk, “Aku percaya sama kamu, apapun prasangkamu tentang aku mudah-mudahan itu yang terbaik buat kamu. Dan maafkan aku.” Kujawab lagi, “Terserah kamu aku sudah cape.” Akhirnya kukeluarkan dan kumuntahkan semuanya. Aku ingin memberi tahu pada semua orang bahwa sejak hari ini jangan sekali-kali menyangkut-pautkan aku lagi dengannya. Hubunganku dengannya sudah tak positif lagi. Tapi negatif dengan amat sangat. Jangan belenggu hidupku dengan selalu mengait-ngaitkannya dengannya, dengan cah ayu itu…

Tak tahu apa yang terjadi nanti ketika aku bertemu lagi dengannya. Aku hanya ingin diam bisu. Barang-barang yang ada padaku miliknya akan aku kembalikan. Begitu sebaliknya. Hubunganku dengannya kuakhiri semuanya. Salahkah apa yang telah  kukatakan dan putuskan. Yang pasti dialah orang pertama yang kucintai dengan begitu tulus. Aku telah merasakan pahit getir dan manisnya saat bersamanya. Jujur aku masih mencintainya, tapi kesalahannya itu sudah tak ada ampunan bagiku. Apakah aku telah membohongi diriku. Aku harus melihat realita dengan sebenarnya. Sungguh sedih hari ini dengan ketidaktahuan apa yang akan terjadi.

Aku datang ke kampus kesiangan. Dikira gak masuk, aku ke pepustakaan saja. Dadang memberi tahuku bahwa anak semester 6 dari tadi sudah masuk. Aku segera menuju ruang kelas dan begitu aku masuk kelas orang-orang pada melihatku berbeda. Mereka memandangku dengan pandangan yang lain. Seolah-olah aku tampak berbeda hari ini.

Nilai auditing diperiksa. Hasilnya cuma 87.5 karena ada kekeliruan sedikit. Nilaiku rendah dibanding yang lain. Biarlah memang begitu adanya. Sebelum pulang kusempatkan aku melirik padanya. Terlihat, nampak kekusutan penuh dengan masalah. Entah dia pernah menolehku, melihat diriku yang pernah memarahinya dengan sangat menyakitkan. Pipih bilang padaku tadi pagi menyapa dia. Katanya dia diam lama, baru menjawab. Pipih melihatnya seolah-olah ia sedang terbuai dengan pikirannya sendiri. Apakah perkataanku sangat menyakitkan. Jika ya aku ingin minta maaf meskipun sebenarnya dialah yang seharusnya minta maaf padaku. Jika ia masih ego, masih merasa benar dengan apa yang telah dilakukannya, biarlah. Mungkin akan kusakiti dengan lebih sangat lagi.

Kenapa aku sangat menginginkan cintanya. Tak tahu kenapa meskipun dia sudah menyakitiku dan merendahkanku di depan orang-orang, tapi aku masih ingin mencintainya. Love is blind. Kenapa aku belum teryakinkan bahwa dia tidak mencintaiku. Selalu saja dari kedalaman hatiku muncul suara-suara bahwa sebenarnya dia mengharapkanku. Tapi aku berpikir lagi apa kelebihanku, apa kekuranganku. Suatu perkataan yang muncul dari sebab-sebab yang terus bergejolak di pikiranku. Setiap kata yang terucap dan hadir dari pikiran bawah sadar. Apakah mungkin pikiran bawah sadar dirinya telah meminta kepastian. Apakah aku selama ini memberikan ketidakpastian.

Karena kepastian adalah kematian dan kehidupan setelah kematian. Jikapun sekarang aku memberikan kepastian, niscaya yang pasti itu tetap saja tidak pasti. Bahkan mungkin di depan akan lebih menyakitkan, karena sebelumnya sudah diberikan kepastian. Aku dan dia harus menyadari dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Pikiranku sekarang tidak menentu. Aku sudah terlanjur mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Bisakah hubungan ini diperbaiki. Maksud dia percaya padaku itu apa. Masih multi interpretasi. Aku menjadi lebih inten terus mengingat kata-kata dia. Bangun tidurpun aku langsung ingat padanya. Aku menjadi terbelenggu begini.

Ya Allah, berdosakah aku ini telah menyakitinya. Kau tempatkan setitik cinta dalam diriku agar aku mencintai salah satu makhlukmu. Namun keadaannya jadi begini. Biarlah aku tersakiti tapi dia jangan sampai tersakiti. Tapi sudah terlanjur aku telah menyakitinya. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Mau mengerjakan tugas tak bisa konsentrasi. Mungin begitupun dia. Padahal pekerjaannya begitu banyak. Apakah dia bisa konsentrasi. Apakah aku terlalu mendramatisir. Aku hanya mencoba membaca realita dan memahami segala kejadian dengan menguraikannya, supaya memberi makna. Haruskah aku datang ke kosannya. Sebelum ke sana aku harus menelponnya dulu. Aku tak punya banyak uang. Tapi apakah terburu-buru?

Aku takut energi negatifnya masih menggelayut dalam diriku dan dirinya. Lebih baik aku menenangkannya dulu. Karena aku yakin hubungan ini bisa diperbaharui. Bahkan akan lebih mesra lagi. Semua akan baik-baik saja. Tujuan lain memarahinya, aku hanya ingin menyepuh dirinya saja. Ibarat untuk mendapat emas berlian harus disepuh dulu dari campuran unsur-unsur lain, supaya mendapat emas berlian murni. Tanpa kotoran atau energi-energi negatif yang menyelimutinya. Aku ingin supaya dia jadi pribadi tangguh.

Aku harus konsentrasi mengerjakan tugas Akuntansi Keuangan. Apakah teman-teman sudah ada yang mulai mengerjakannya. Kalau bukan aku lantas siapa. Aku tak bisa diam, karena ini bagian dari tanggung jawabku. Apa salahnya kucoba mulai mengerjakannya. Masalah selalu menyertai manusia. Karena kita hidup. Kata orang bijak, bagaimana menyikapi masalah tersebut. Aku baik-baik saja, tapi aku tak ingin menyakiti siapapun. Justru kehadiranku harus membawa makna bagi setiap orang. Namun karena ego diri, cita-cita utama tidak tercapai. Hanya menimbulkan permusuhan.

Aku bahagia karena ada yang sedang kutunggu-tunggu. Menunggu kiriman buku dari PT Serambi. Hari Selasa lukisan sudah selesai. BBC sudah memberikan respon positif. Aku ingin segera mengkonfirmasi ke Bapusda. Swasta saja mau memberi, pemerintah seharusnya merespon positif. Dan menyokongnya dengan amat sangat. Aku tak boleh putus asa. Dari sekian juta manusia atau badan/lembaga akan ada yang mendukung cita-citaku. Kuyakinkan diri, karena niatku baik dan bermanfaat.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori