Oleh: Kyan | 13/11/2006

Terbaik Pada Titik Keberadaan

Senin, 13 November 2006

Terbaik Pada Titik Keberadaan

**

Kuyakinkan diriku akan baik-baik saja. Aku akan semakin mesra dengannya. Aku tidak khawatir dengan masa depanku. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. Menampilkan diriku yang terbaik. Berusaha memberi yang baik-baik. Kenapa harus gelisah. Kenapa selalu jadi pemikiran yang tiada habisnya. Jalani waktuku dengan irama keceriaan dan kesahduan.

Aku harus berani melakukan dan menolak segala sesuatu yang datang padaku. Hilangkanlah pengkondisian dari diriku. Aku ingin menjadi manusia bebas. Namun dari hari ke hari tidak begini-begini saja. Aku harus selalu berubah. Tapi perubahan itu jangan sampai menyempitkan ruang hidupku. Aku tak ingin dipaksa dan memaksa. Tapi ego diri bertarung dalam diri. Tak ingin kalah dengan orang lain.

Aku main ke kosan Siti Mufrodah dan ke rumah Susi. Mereka memintaku menginstal program SPSS. Aku ceritakan pada mereka tentang kejadian dan pikiran yang terus berkecamuk dalam diriku. Tanggapan tiap orang bebeda-beda. Memang manusia mempunyai pikirannya sendiri-sendiri. Ada yang mendukung dan ada yang menolak. Pikiran manusia tak bisa diselami.

Mungkinkah akhir-akhir ini aku menjadi pemberontak gara-gara efek dari membaca roman Pram, Bumi Manusia. Sekarang aku berani menentang pihak yang telah merampas hak-hakku. Jangan diam saja bila kemerdekaanku dibelenggu. Tak akan diam saja bila terus ditindas. Aku harus melawan siapa saja yang berani menentangku. Akan aku lawan dan tak boleh diam.

Kuanggap semua di hadapanku kecil dan bisa kutentang. Aku tak boleh takut dengan akibat yang akan terjadi. Aku tak boleh takut dengan pikiranku sendiri. Aku harus tenang karena akibat itu belum terjadi. Aku tak boleh takut dengan pikiran sendiri. Kenapa juga mesti khawatir dengan semua yang belum terjadi. Yang penting lakukan yang terbaik pada titik dimana aku sedang berdiri. Kuanggap semuanya kecil di hadapanku. Kuanggap semuanya sama. Toh sama-sama manusia. Aku harus membuang pikiran tradisi feodal dari otakku. Ketakutan-ketakutan dihinakan atau ditertawakan oleh orang-orang jangan menjadi belenggu pikiran. Akan aku tantang dan lawan kedzaliman.

Semoga aku baik-baik saja. Aku merunduk di hadapan-Mu ya Rabb. Berikan aku qudwah agar aku bisa tegak berdiri mengabdi pada-Mu. Tak kuinginkan semuanya kecuali ridha-Mu. Jika terbesit pikiran ingin mengambil dunia dalam ridha-Mu, maafkanlah ampunkanlah ya Rabb. Sucikanlah dan semaikanlah aku dari noda-noda dunia kerakusan. Cerahkanlah pikiranku. Bahagiakanlah diriku. Bimbinglah diriku dalam menuju-Mu. Aku pasrah pada-Mu. Ampuni dosa-dosaku.

Melanjutkan mengerjakan Akuntansi masih bingung. Hari ini acara OPM adik kelas, Orientasi Pengenalan Mahasiswa 2006. Robbi menjemputku ke kosan dan kami berangkat. Di kampus sudah banyak semester lima. Setelah pak Anton Athoillah ke Podium, kami baru masuk kuliah umum tentang apa yang beliau sampaikan waktu seminar internasional Ekonomi Islam. Hebat, Pak Anton Athoillah jadi pembicara. Memang ketika beliau memberikan kuliah, sangat mudah difahami. Pantaslah beliau seorang doktor.

Pembahasan beliau tentang paradigma ekonomi Islam, katanya yang bermadzhab Iqtishaduna, pada dasarnya kebutuhan manusia terbatas. Tapi manusia terbatas dalam mengoptimalkan sumber daya tersebut. Kebutuhan manusia bisa tercukupi dengan sumber daya yang ada. Permasalahannya distribusi pendapatan. Indikator keberhasilan bukan materi semata melainkan hidup setelah mati. Perlu dipesiapkan bekal. Jika keadilan tidak tercapai di dunia, di akhirat bakal terpenuhi. Aku melihat dunia ini penuh dengan ketidakadilan, akupun merasa terdzalimi tak dihargai.

Aku begitu lancarnya berbicara di hadapan satu orang, meskipun itu siapapun. Tapi kalau di hadapan orang banyak, tak tahu aku suka gelagapan. Kuliah Modal Ventura dosennya menawarkan training selama seminggu di Jakarta. Tapi mesti membuat surat utusan dari instansi pembinaan masyarakat. Relasiku tak ada dan teman-temanku itu-itu saja. Harus kusadari aku harus mengembangkan jaringan hubungan antar manusia. Selama ini aku banyak menyendiri dan merenungi hidup.

Makanya aku tadi kenalan dengan seorang pelukis. Namanya sama denganku, Vian. Dia bercerita banyak tentang Bali. Dia banyak mengajarkanku bagaimana cara melukis yang baik. Aku sungguh ingin menjadi seorang pelukis. Darinya aku jadi tahu aliran-aliran lukisan. Katanya ada realis, ilustrasi, karikatur, dan sebangsanya. Kalau realis itu melukis berdasarkan hal nyata. Misalnya dari foto.

Lukisanku tak puas. Aku minta padanya supaya dibuatkan lagi lukisan yang dominan adalah wajah. Dia begitu baik padaku. Aku bakal mendapat lukisan dua dengan seharga Rp 85.000,- Aku beruntung soalnya dia jarang ada di Bandung. Kalau pesan ke yang lain pasti bakal mahal. Akupun ingin dilukis. Aku jadi penikmat seni. Sesuatu yang berbau seni bagiku sangat aku sukai. Salahkah jurusan kuliahku Manajemen Keuangan. Semoga aku bisa memadukan Manajemen Keuangan dengan dunia seni. Para manajer perusahaan kebanyakan penikmat seni dengan begitu tinggi.

Dan aku tak boleh kesal. Hanya gara-gara aku gak jadi kesana. Ikut OPM di Cililin. Padahal kesempatan untuk ikut ada. Aku yang tak meraih kesempatan itu. Kesempatan yang tidak datang dua kali. Tadinya gak ingin ikut OPM, tapi entah kenapa aku jadi ingin. Adakah tujuan lain. Apa hanya gara-gara aku ingin dikenal diantara mereka. Katanya ada anak baru namanya Respita. Dia salah satu yang meranik dari sekian yang cantik dan menarik. Tertarikkah aku dengannya. Paling aku hanya ingin akrab saja. Karena dalam hatiku hanya dan hanya seorang yang selama ini menjadi tambatan hatiku. Ada wajah perempuan yang tak terhapuskan lukisannya entah sampai kapan.

Karena ingin banyak kenal aku pun ingin pergi juga ke Cililin. Ingin punya kesempatan untuk kenal lebih dekat dengan sepupunya. Ingin mengobrol lebih banyak supaya aku bisa diterima oleh sanak keluarganya. Aku berpikir sejauh ini sebagai tanda keseriusanku. Meskipun sebenarnya aku masih ragu. Banyak yang berdoa untukku semoga aku jodoh dengannya. Tapi jalanku masih panjang dan aku belum menuai kesuksesan.

Kesempatan kedua aku pun tak mengambilnya. Teman-teman bakal jadi ikut training di Jakara. Kuaikui aku tak mengambilnya. Teman-teman bakal jadi ikut training di Jakarta. Kuakui aku iri dengan mereka yang ikut. Karena dengan keikutsertaan mereka setidaknya bakal muncul peluang demi peluang. Pintu kesuksesan mulai terbuka. Sementara aku tak punya relasi yang bisa memberikan surat delegasi agar aku bisa ikut. Di sini aku hanya sebatang kara. Semoga saja ada kesempatan kedua untukku. Tidak hari ini, di kemudian hari semoga nasib terbaik berpihak padaku.

Merasa diri selalu banyak kelemahan. Aku merasa jangan menuntut banyak dari diriku. Aku tak bisa menuntut diriku berbuat lebih banyak. Aku selalu merasa lemah dan melemah. Sementara orang-orang terus terbang tingg. Bila sadar diri aku ini lemah, aku tak boleh diam saja. Aku harus berbuat dan berbaut. Apa yang bisa kulakukan, lakukanlah dengan terbaik. Semoga muncul peluang demi peluang bagigu. Aku hanya bisa menuliskan kekesalan dan kelemahan. Memang aku tak bisa apa-apa tapi kuyakini akan ada jalan menuju jalan cahaya-Nya untuk kuraih cinta-Nya.

Tuhan, percikan kepercayaan diriku agar aku bisa berdiri kokoh meskipun diterjang badai kesombongan dan keangkuhan manusia-manusia jahil. Aku punya sesuatu yang bisa kutunjukkan pada dunia, bahwa aku ada dan berharga. Setiap orang mempunyai sesuatu yang bisa diunjukkan. Aku pun memiliki cahaya yang mampu menerangi relung-relung jiwa.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori