Oleh: Kyan | 15/11/2006

Mengorbankan Jiwa dan Fisik

Rabu, 15 November 2006

Mengorbankan Jiwa dan Fisik

**

Tak jadilah aku ke Cililin. Biarkan mereka berbahagia dengan keceriannya. Bahagia menurut mereka. Justru aku malah sering merasa kesepian dalam keramaian. Lebih baik aku sendirian saja. Aku merasa tak ada persahabatan. Jika sesuatu saat bakal saling membutuhkan pula. Tapi tak ada persahabatan murni yang sejati. Aku merasa orang-orang yang akrab denganku tak pernah ada. Mungkin tak ingin merasakan apa yang kurasakan. Mereka tak pernah benar-benar memahamiku.

Bukannya aku melupakan semuanya. Karena aku belum merasa mereka memahamiku. Belum memahami apa sebenarnya yang kuinginkan. Setiap ada keinginan, tak ada yang mau menolongku. Mereka hanya ketawa dan ketawa saja tanpa ada ketulusan mendengarkanku. Memang mengharapkan pertolongan kepada sesama makhluk, bergantung kepada sesama makhluk, sering mendapatkan  ketakpuasan. Mereka menolong mungkin ketika ada waktu luang. Tak pernah sengaja meluangkan waktu demi ingin menolong seseorang.

Aku semakin sadar, mengharap sesuatu hanya pada-Nya. Apapun itu. Maka tak pantaslah meminta tolong kepada sesama mayat yang berjalan. Ketika aku ditimpa kesusahan dan kesedihan aku hanya bermohon dan pasrah pada-Nya. Tuhan, maafkan aku jika selama ini aku selalu mengharap pada makhluk-mu. Seharusnya aku bermunajat kepada-Mu. Aku yakin Engkau akan menunjuki jalan cahaya-Mu. Sewaktu aku dalam kesulitan.

Seminggu yang lalu aku ke Palasari, sekarang ke Palasari lagi. Setiap mengingatkan sesuatu perlu perjuangan dan pengorbanan. Aku ingin membaca Tafsir Al-Mishbah. Targetku tahun 2006 aku harus punya tafsir yang ditulis M. Quraish Shihab. Aku harus belajar mengejar target apa yang telah ditulis dan ditetapkan. Aku harus berlatih menggapai target, dalam hidup, pekerjaan dan cinta. Aku yakin target itu bisa dicapai. Cepat atau lambat. Ketika target itu ditetapkan pikiran bawah sadar telah menyanggupi. Sebulan lebih lagi 2006 akan berakhir. Targetku 2006 harus tercapai semuanya.

Aku bercermin. Aku semakin kurus saja. Sudah menjadi cerita umum dalam kisah novel biografi dan kenyataan sekarang orang yang banyak berpikir selalu kurus. Mungkin  pak Anton Athoillah adakah kekecualian. Lagian beliau sejak awal hidupnya sudah senang. Lagian pak Anton Athoillah semasa mudanya juga kurus. Sedangkan bagi yang lain, menjadi seorang intelektual harus mengorbankan jiwa dan fisiknya. Dan kurus kering kerontanglah ia. Buat apa kalau hanya sekedar seonggok daging yang berkeliaran tanpa makna dan tujuan.

Selalu tidur larut malam. Segala tugas jika aku yang menangani, mau gak mau harus diselesaikan tepat pada waktunya. Lebih baik sampai gak tidur. Contoh kasus mengerjakan SBS, ketika file-nya terhapus, padahal harus sudah diprint jam sembilan malam dan besoknya harus dikumpulkan. Data-data yang berlembar-lembar dan penuh rumus itu aku kerjakan sampai dini hari, sampai pagi. Sudah berhari-hari aku tidur jam duabelas malam buat mengerjakan tugas Akuntansi.

Tugas kelompok 15 orang kutangani sendiri. Semoga aku ikhlas mengerjakannya. Aku ingin memberi penyadaran pada orang-orang dalam mengerjakan tugas jangan cuma tinggal bayar saja berapa. Aku ingin kerjasamanya dan mendiskusikannya bersama-sama. Tapi katanya dari dulu sampai sekarang kebiasaan mahasiswa selalu begitu. Itulah hasil pendidikan Indonesia. Entah pembangunan karakter manusia apa yang ingin dihasilkan dari kurikulum pendidikan sekarang. Apakah dasarnya manusia memang begitu? Diriku sendiri harus memulai mendobrak kemapanan.

Dari kuliah Komunikasi Bisnis, banyak hal yang kudapatkan. Bahwa tipe manusia ada destroyer, follower, leader, dan istilah lainnya. Dosennya seorang penulis buku. Akupun ingin menjadi seorang penulis buku. Bagaimana caraya untuk bisa menjadi seorang penulis hebat. Aku malu belum bisa menjadi penulis. Karena bahan bacaanku sudah nanyak. Aku baru menulis kalau membuat tugas makalah. Ingat dengan wejangan bahwa barang siapa bisa membuat makalah, niscaya ia bisa membuat buku. Aku ingin menjad novelis dan penyair. Tapi apakah imajinasiku dalam. Orang bilang aku bisa jadi pujangga, tapi aku rasa puisi-puisiku masih jelek. Aku biasa-biasa saja. Aku tak punya apa-apa. Bukan siapa-siapa, dan tak mampu apa-apa. Begitulah aku.

Lalu aku pun bertemu dengannya secara biasa-biasa tanpa sepatah katapun terucap. Aku malas untuk menyapanya. Bahkan malas untuk melihat sosoknya, meskipun dari kejauhan. Aku ingin di duniaku dia tak ada. Aku tak mengenalnya adalah lebih baik, daripada membuatku jadi pesakitan. Kenapa dalam perjalanan hidupku ini aku bertemu dengannya, akrab dengannya, sehingga aku mencintainya.

Sampai saat ini aku belum mampu meyakinkan dirinya bahwa aku sungguh mencintainya. Dalam pandanganku, hanya dia perempuan yang luar biasa. Tak bisa memandang kelebihan perempuan lain. Aku sungguh tergila olehnya. Aku merasakan “Love is Blind, cinta itu buta” semoga butanya manusia dituntun oleh tangan-Nya, menuju jalan cahaya-Nya.[]

**

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori