Oleh: Kyan | 18/11/2006

Bertemu Mimpi Ibunya di Wanaraja

Sabtu, 18 November 2006

 Bertemu Mimpi Ibunya di Wanaraja

**

Hari ini aku ada di Wanaraja Garut. Aku bersama 13 orang teman kampus main ke rumahnya Hana. Dari Bandung kami berkonvoi naik sepeda motor. Aku ikut motornya Apiv, hanya mengganti bensinya satu liter. Dengan limaribu rupiah aku bisa sampai di sebuah kampung di Wanaraja. Baru kali ini aku bisa main ke Wanaraja. Dan sempat mampir ke rumah kakakku di Leles.

Kakakku bilang kemarin bapakku ke Garut dan mencoba meneleponku, tak nyambung. Katanya bapakku datang dengan temannya dengan tujuan untuk meminjam uang. Selalu dan selalu ketika silaturahim adalah meminta bantuan. Bapakku sudah sekian dalam dan lama terlibat dengan sindikat operandi penipuan. Bapakku terlibat dengan perkumpulan orang pencari harta karun Soekarno.

Dulu sampai searang bertahun-tahun tak mendapatkan hasilnya. Benarkah ada peninggalan harta emas Soekarno. Isu tersebut sempat mencuat ke publik dan setelah klarifikasi dan penelitian, ternyata tak ada. Mungkin itu hanya cerita rumor belaka. Ketika bangsa sedang dirundung kemiskinan, orang-orang mengambil kesempatan melakukan penipuan.

Kampung tempat Hana, daerahnya tempat peternakan sapi. Penduduknya lumayan pada berada. Yang berzakat pun banyak dan besar. Tapi hasil dari zakat belum dioptimalkan. Harta hasil dari pengumpulan zakat perlu diberdayakan dan diproduktifkan, supaya filosofis zakat teraplikasikan. Sudah saatnya manajemen zakat difungsikan. Alih-alih ada yang bilang lebih afdal langsung disalurkan ke mustahik. Tapi bukankah tujuan agama sebenarnya adalah tujuan sosial kemasyarakatan.

Mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya kembali ke akal dan hati manusia. Setiap orang pasti mempunyai potensi ketuhanan, sebagai Illah. Teman-teman banyak cerita tentang ketuhanan yang dikonsepkan pak Anton. Dudi bilang banyak kesamaannya dengan  konsepku yang sering kulontarkan. Banyak cerita tetnang OPM yang dilaksanakan kemarin. Aku sebagai DPPM, harus banyak mengevaluasi pelaksanaan OPM yang banyak menimbulkan kekecewaan bagi DPPM.

Bermalam di rumah Hana, aku bermimpi dan kenapa aku ingat pada mimpi itu. Bukankah ibunya Nazifa sudah meninggal. Dia datang padaku, menjengukku dan mengatakan sesuatu padaku. Aku lupa apa yang dikatakannya. Tapi kalimat terakhirnya ia berucap, “Datanglah ke rumah” tentunya ke rumah Purbalingga. Aku menatap wajah ibunya dan banyak kemiripannya, sehingga aku menyimpulkan bakal seperti itulah ketika dia di hari tua.

Mimpi itu banyak kurenungkan dan ingin aku menyampaikan padanya. Tapi aku sedang bermusuhan dengannya mana bisa bercerita padanya. Menyapa hanya sekedar say hello saja aku tak sudi. Dari mimpi itu aku ingin menemuinya. Sekalian aku ingin klarifikasi dan menghentikan perang dingin ini. Berdosakah aku tak menyapanya sampai beberapa hari. Buankah pertengkaran tidak boleh lebih dari tiga hari. Aku belum baikan dengannya sudah seminggu. Pantang jika aku melanggar kata-kata yang kukeluarkan tempo hari.

Aku bilang tak akan kumaafkan sampai kapanpun. Kenapa aku begitu sangat tersakiti. Hanya dengan “tiga kata” sangat menyakitkan, “kalau cinta, bilang!” perasaanku sangat tersinggung. Bukankah aku harus berjiwa positif dan pemaaf. Aku tiba-tiba menjadi pemberontak dan pemarah pada setiap orang. Biarlah aku dibenci oleh setiap orang aku tak merasa rugi. Bila hakku dirampas, aku akan melawan. Aku akan berontak.

Tapi aku merasa bersalah. Ah, diapun sikapnya begitu. Kubiarkan saja aku banyak marah dan cepat tersinggung dengan setiap kata-kata yang menohok telinga. Aku merasa terlalu dibuat-buat. Karena bukan diriku yang seharusnya ketika aku marah pada setiap orang. Terasa yang sedang marah itu bukan aku. Aku juga menjadi begini gara-gara dia. Dia salah dan aku yang menyalahkannya. Tapi merasakah ia? Gara-gara dia aku menjadi bukan diriku sebenarnya. Aku tidaklah lagi seorang penyabar dan pemaaf.

Mungkin dia ingin baikkan dengannku. Kemarin ia mengirim sms memberitahuku kuliah sudah masuk. Apakah ini sebagai bentuk kepedulian atau hanya ingin membalas karena aku sudah memberi pinjaman materi  kuliah. Aku harus menerima bahwa ia hanya menganggapku sebagai teman, tak lebih. Tapi aku ingin lebih dan kenapa aku ingin lebih.

Apakah aku tak usah lagi menampakkan lagi rasa sayang padanya. Aku ingin marah ketika aku menyimpulkan bahwa ia tak mencintaiku. Hanya teman belaka. Aku lebih baik tidak berteman saja denganya. Lebih baik tak mengenal sedikitpun.

Tapi sepertinya ia tak ingn kehilangan teman. Itu hanya keinginananya. Sekarang aku lebih baik diam saja tanpa berkata-kata apa-apa lagi. Lebih baik hari-hariku dilalui dengan diam, tak bertepi. Dan aku tak harus marah-marah lagi pada setiap orang. Aku ingin biasa lagi. Tapi belum kuterima segala perlakuannya padaku. Kenapa juga aku belum teryakinkan bahwa aku tak dicintainya.

Tuhan, yakinkanlah aku dalam ketidakpastian ini. Berikan aku keyakinan diri untuk melangkah meski tertatih-tatih. Meski semua orang menyarankan untuk berpaling mencari cinta yang lain. Kukatakan saat ini bahwa aku tak ingin. Biarlah aku tersembuhkan dulu. Semoga Tuhan memberi rencana padaku dalam setiap tertolaknya cintaku.[]

**

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori